Sedang Membaca
Maulid Nabi Muhammad dan Suka Cita
Penulis Kolom

Penulis Sastra. Meminati seni dan dunia sufi

Maulid Nabi Muhammad dan Suka Cita

Bila sampai bulan Rabiul Awal di kalender Hijriyah, maka berbondong-bondong orang berkumpul dan mengingatinya sebagai bulan yang mulia.

Mulia, karena pada bulan ini lahir Junjungan Yang Mulia bagi umat Islam. Meski ada juga perdebatan tentang tanggal kelahiran Nabi Saw, mayoritas ulama kita sepakat ia lahir pada 12 Rabiul Awal.

Peringatan kelahiran Nabi, atau yang umum disebut Maulid Nabi, tidak hanya diperingati sebagaimana di tempat kita. Di antero penjuru dunia ini ada beragam cara menghidupkan bulan maulid. Dari yang tradisional-konservatif hingga modern kontemporer-inovatif.

Klik saja Google atau Youtube, Anda akan lihat bagaimana orang Arab, Turki, Iran, Melayu, punya ragam cara meramaikan suasana.

Yang jelas, yang diharapkan adalah hadirnya kembali kesadaran tentang peran Junjungan (Rasulullah) bagi alam semesta ini, terutama untuk hati kita: Berkah.

Apakah berkah itu?
Ada yang menyebutnya, bertambahnya sesuatu yang membawa manfaat bagi diri manusia. Bisa berupa materi (lahiriyah), bisa nonmateri (ruhaniyah), bisa juga keduanya. Saya pribadi lebih senang menyebutnya munculnya kembali kesadaran akan sesuatu yang penting bagi diri kita. Dan ini lebih bersifat kejiwaan atau spiritual. Jika yang bertambah bersifat material, maka ia menambah kesyukuran dan semangat pengabdian.

Schimmel (dalam Cahaya Purnama Kekasih Tuhan) melaporkan pengamatannya tentang peristiwa maulid yang spektakuler di beberapa negara kaum muslimin. Ribuan orang ikut serta mengungkapkan kecintaan mereka yang mendalam kepada Nabi. Kota-kota dan desa-desa yang dihiasi dengan bendera-bendera, umbul-umbul, karangan bunga, dan pita-pita tampak semarak dan meriah, dan pesona ini semakin bertambah dengan lampu-lampu yang terang benderang pada malam hari.

Baca juga:  Islam di Banjar (2): dari Syekh Arsyad hingga Kontestasi Ustaz Baru di Medis Sosial

Suatu muktamar Seerat, berkenaan dengan maulid Nabi, dibuka oleh Presiden Pakistan, dan berlangsung banyak sekali mahfil (perkumpulan). Radio dan televisi pun menyiarkan program-program khusus yang sesuai dengan peristiwa ini. Hari itu dimulai dengan tembakan senjata ke udara sebanyak 31 kali, dan 21 kali di ibukota-ibukota provinsi. Bendera nasional dikibarkan di berbagai gedung pemerintah dan nonpemerintah.

Namun pada tahun itu juga, dikeluarkan fatwa dari ketua Rabithah yang berkedudukan di Makkah, sebuah organisasi muslim ortodoks, yang menyatakan perayaan-perayaan maulid sebagai “bid’ah yang sesat”. Pernyataan ini mengundang kritik tajam dari berbagai penjuru dunia muslim, dari Afrika Selatan sampai Iran.

Ilustrasi seperti dipaparkan Schimmel di atas terjadi pada tahun 1982. Yang terjadi hingga kini, perayaan-perayaan serupa itu terus berlangsung, bertambah meriah dengan ragam acara kekinian. Ada orkestra musik, pembacaan puisi-puisi modern, dan aksi-aksi teatrikal lainnya, sementara yang tradisional dengan “dangdut arab” (istilah Ali Mustafa Yaqub) pun terus hikmat beriringan.

Sayyid Muhammad bin Alwy al-Maliki (dalam Haul al-Ihtifal bi-Dzikri Maulid al-Nabiy al-Syarif) menyebut bahwa tak ada ketentuan baku bagaimana memperingati Maulid Nabi Saw, sementara Nabi sendiri memperingatinya dengan shiyam (puasa), ini dikembalikan kepada umat. Bagaimana upaya (ijtidah) dan pandangan mereka sesuai dengan keadaannya, yang mengungkapkan kebahagiaan dan sukacita atas kelahiran Nabi saw.

Baca juga:  Rasulullah Saw Melarang Kita Melaknat Orang yang Maksiat

Dalam masyarakat Banjar biasanya orang-orang diundang ke langgar, masjid kecil dan masjid besar, ke rumah-rumah pribadi, dibacakan “riwayat” maupun “hikayat” Nabi Saw melalui syair-syair yang dikarang oleh ulama-ulama salaf yang tawaduk, dari kalangan ‘Alawiyyin (keturunan Nabi melalui Ali dan Fatimah) maupun para masyâyikh yang lembut hatinya. Ditambah lagi dengan ceramah-ceramah dari tuan-tuan guru dan para habaib.

Di wilayah Hulu Sungai atau Banua Anam sekarang, satu kampung merayakan maulid dengan mengundang orang ke rumah masing-masing bergiliran setiap hari. Di beberapa daerah membaca al-Barzanji sementara di sebagian tempat membaca ad-Diba’i, dan adapula yang membaca Syarafal Anam.

Di Banua Halat (kabupaten Tapin) ada tradisi Baayun Mulud, di mana bayi dan anak-anak diayun dengan tapih bahalai, sarigading dan kain kuning, dihias berenda-renda dan ornamentik dengan disyairkan Asyrakal dan bermacam selawat Nabi.

Bias-bias tasawuf, dari para muhibbin yang merindukan kasih dan cinta Sang Khalik, menjadi bagian dari budaya Islam yang niscaya. Niscaya dalam pengertian, menjadi sesuatu yang melekat dalam sikap pengabdian, adab yang meneladani Rasulullah, tidak secara tekstual belaka.

Niscaya karena, seperti pendapat sebagian ahli sejarah Islam, bahwa Islam yang masuk ke bumi nusantara ini awalnya adalah Islam yang bercorak tasawuf. Artinya, Islam yang penuh keilmuan dan cenderung kepada hal-hal yang bersifat kejiwaan, atau memiliki aspek kebatinan yang mendalam. Atau dalam bahasa lain, Islam yang mengedepankan ilmu dan amal, lebih-lebih akhlak yang baik.

Baca juga:  Tradisi "Pamali" Banjar dan Denyutnya yang Melemah
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top