Sedang Membaca
Hikmah: Kesadaran Zikir
Hajriansyah
Penulis Kolom

Penulis Sastra. Meminati seni dan dunia sufi

Hikmah: Kesadaran Zikir

“Jangan kau tinggalkan zikir hanya karena ketiadaan hudur-mu bersama Allah di dalamnya, karena kelalaianmu dalam mengingat-Nya lebih lebih buruk dari kelalaian pada saat berzikir. Semoga Allah mengangkatmu dari zikir yang lalai kepada zikir yang berkesadaran, dan dari zikir berkesadaran kepada zikir yang hudur, dari zikir yang hudur kepada zikir yang lenyap dari yang selain dizikiri (Allah). ‘Dan Allah Mahakuasa memperbuat yang demikian’.”

لاتَتْرُكِ الذِّكْرَ لِعَدَمِ حُضورِكَ مَعَ اللهِ فيهِ، لِأَنَّ غَفْلَتَكَ عَنْ وُجودِ ذِكْرهِ أَشَدُّ مِنْ غَفْلتِكَ في وُجودِ ذِكْرِهِ. فَعَسى أَنْ يَرْفَعَكَ مِنْ ذِكْرٍ مَعَ وُجودِ غَفْلةٍ إلى ذِكْرٍ مَعَ وُجودِ يَقَظَةٍ، وَمِنْ ذِكِرٍ مَعَ وُجودِ يَقَظَةٍ إلى ذِكِرٍ مَعَ وُجودِ حُضورٍ، وَمِنْ ذِكِرٍ مَعَ وُجودِ حُضورٍ إلى ذِكِرٍ مَعَ وُجودِ غَيْبَةٍ عَمّا سِوَى المَذْكورِ، وَمَا ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ بِعَزِيزٍ

Zikir artinya ingat, berzikir berarti mengingat atau menyebut. Dalam konteks ini maksudnya menyebut atau mengingat Allah (zikrullah). Ia merupakan jalan paling cepat kepada Allah, dan merupakan tanda atas kewalian seseorang. Ahli zikir adalah wali Allah. Demikian kutip TGH Muhammad Sarni dari Syekh Abdullah Syarqawi.

Allah berfirman, Q.S. al-Baqarah: 152, “Maka sebutlah (ingatlah) Aku niscaya Aku ingat kalian, dan bersyukurlah kepada-Ku serta jangan kalian kufur (atas nikmat-Ku).” Dalam Q.S. al-Ahzab, Dia juga berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, sebutlah Allah dengan zikir yang banyak”. Diriwayatakan dari Abu Hurairah, Nabi Saw bersabda bahwa Allah berfirman:

Baca juga:  Nabi Muhammad dan Kisah Kambing Kurus

“Aku sesuai sangka hambaku kepada-Ku, dan Aku bersamanya ketika ia mengingat (menyebut)-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam sendirinya, Aku juga mengingatnya dalam sendiri-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam suatu kelompok, maka Aku menyebutnya pula dalam kelompok yang lebih baik dari mereka. Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal Aku mendekat kepadanya sehasta, jika ia mendekat sehasta Aku mendekat sedepa. Dan jika ia mendatangi-Ku dengan berjalan, Aku mendatanginya dengan berlari.” Demikian cara “muamalah” Tuhan kepada hambanya, yang benar-benar mau mendatangi-Nya. Diriwayatkan dari Nabi pula, dari Sahabat Abu Said al-Khudri: “Perbanyaklah mengingat/menyebut Allah, hingga orang-orang berkata padamu ‘orang gila!’.”

Syekh as-Sakandari menyebut beberapa tingkatan atau keadaan orang yang berzikir. Pertama yang berzikir (dengan lisan) tapi hatinya lalai, mulutnya tampak berzikir tapi ia sebenarnya tidak mengingat Allah di dalam hatinya karena waswas syetan atau karena bayangan duniawi. Sebaiknya yang seperti itu terus saja berzikir, sampai hatinya tenang atau Allah hadir dalam hatinya. Inilah tingkatan Kedua, yang hatinya mulai tenang, yang berzikir dengan bangkitnya kesadaran akan Allah di dalam dirinya dan membaikkan adab dalam berzikir, serta menepis “kesibukan” dari yang selain-Nya.

Ketiga, orang yang berzikir dengan hatinya, ia masuk ke Hadrat Tuhan sehingga seakan-saling berhadapan keadaannya dan hatinya khusyuk. Yang Keempat, orang yang telah fana dari zikirnya, tapi lisannya, bahkan anggota badannya yang lain termasuk hatinya, berzikir meski tanpa dimaksudkannya. Ketika itu, sebagaimana diisyaratkan dalam hadis qudsi, Allah menjadi lisannya yang berbicara atau menyebut Nama-Nya; hatinya terus menerus mengingat-Nya (zikir daim). Bahkan lebih jauh, menjadilah (zikir itu) pada tangannya, pada pendengarannya, penglihatannya, yang takut dan berharap kepada Allah azza wa’ala.

Baca juga:  Perbedaan Wudhu Syariat dan Tarekat Menurut Syekh Abdul Qadir Al-Jilani

Pengetahuan (makrifah) dengan tingkatan terakhir ini, kata Syekh as-Syarqawi, tak akan dirasakan atau diketahui kecuali oleh para salik dalam ekstase spiritualnya, dan ulah ulama dengan keimanan dan pembenaran yang tulus. Maka, sebaiknya orang mulai berzikir dengan kesiapannya, serta dengan bimbingan gurunya, setahap demi setahap merasakan pengalaman atau mendapatkan “pengetahuan” yang makin tinggi dan semakin tinggi. Sedikit demi sedikit Kehadiran itu datang dan membangkitkan ruhnya, hingga ia dapat merasakan lezatnya buah zikir yang berimbas pada baiknya adab dalam pergaulan terhadap sesama dan lingkungan. Tapi jangan didustakan, atau dibuat-buat, berzikir seolah-seolah “sampai” padahal hatinya masih lalai, yang demikian kata Syekh ia akan merasakan kehancuran dirinya sendiri. Seperti cermin yang remuk dan sulit disatukan kembali.

Hati adalah cermin yang dipoles dengan zikir, sehingga–kata Syekh al-Jailani–ia mengkilap. Debu-debunya dibersihkan pula dengan tafakur. Cermin yang telah bersih ini dengan sendirinya akan memantulkan apa yang ada di hadapannya, yaitu Cahaya rahasia-rahasia Ilahi. Ke mana hati ini memantulkan bayangan itu, ke akalnya dan dari akalnya ke anggota tubuhnya yang lain. Maka dikatakan, orang yang benar berzikir adab (akhlak)-nya menjadi lebih baik dari waktu ke waktu.

Tumbuhkan kesadaran ini, hai salik, sebagaimana para sufi yakin bahwa terdapat percikan Ilahi dalam hati kita, maka sirami percikan itu dan bersihkan area sekitarnya dari ujub, hasad, dan sum’ah. Rasakan taman hatimu makin luas dan makin indah.

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top