Sedang Membaca
Mencari Ruh Pendidikan Seni untuk Anak-Anak
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Mencari Ruh Pendidikan Seni untuk Anak-Anak

Hajriansyah

KREATIVITAS adalah cara seseorang memberikan nilai tambah pada pola-pola yang sudah berjalan semestinya. Yaitu, dengan memberi respon yang lebih baik dari yang sudah diberikan orang lain, atau yang berkenaan dengan lingkungan, benda-benda, dan produk-produk buatan manusia.

Kreativitas adalah sikap budaya yang berkenaan dengan manusia. Setidaknya abstraksi di atas-lah yang dapat saya pikirkan dan rangkum mengenai kreativitas. Pikiran ini terlintas sedemikian rupa setelah menjuri lomba lukis anak di Pelaihari.

Kebetulan saja beberapa hari yang lalu saya diajak seorang teman untuk menjadi juri lomba mewarna dan lukis anak. Sebenarnya selama ini saya menghindari kegiatan seperti itu. Toh, sudah ada teman-teman pelukis atau yang biasa mengadakan bimbingan melukis anak-anak.

Saya sendiri biarlah cukup di wilayah pengamatan dan kritik seni rupa, seperti bila-bila saya tekuni untuk teman-teman yang pameran. Tapi hari itu saya mengiyakannya, entah karena dorongan apa—mungkin saja karena (ingin jalan-jalan) ke Pelaihari!

Saya dan dua orang teman dari Banjarbaru berangkat pagi. Satu orang teman itu, adalah seorang redaktur sastra yang pandai mendesain (grafis) dan pernah melukis, sedangkan yang lain pernah menjadi juri lomba lukis—teman dari teman saya. Dua orang ini paling tidak punya “otoritas” menilai bahasa visual yang diakui.

Baca juga:  Ihwal Sarung: dari Mulai untuk Berdoa, Bergaya, hingga Bercinta

Ada ratusan karya lomba mewarnai anak-anak TK, puluhan karya melukis anak-anak SD kelas 1 sampai kelas 3, dan puluhan lagi karya melukis anak-anak SD kelas 4 sampai kelas 6. Karena sudah sama berpengalaman, kami cepat saja mengeliminasi karya-karya yang secara umum kurang memenuhi kriteria juara, meski jumlah totalnya ratusan.

Tapi setidaknya ada tiga tahapan yang dilakukan. Menyingkirkan yang secara sepintas mata sudah tak layak, entah karena tak selesai, acak-acakan, atau kekurangan lainnya. Memilih yang buruk dari yang baik. Memilih yang lebih baik dari yang standar, lalu memilih yang terbaik. Karena juri bertiga, maka kami bisa saling bantah dan berargumen yang baik menurut kami masing-masing.

Dan, jika tak ada jalan keluar, tentu diakhiri voting yang pasti melahirkan pilihan. Penjurian selesai. Karya-karya pemenang sudah ditentukan, lalu diumumkan. Sementara satu persatu juara maju ke depan, diberi piala dan sertifikat sembari memegang karyanya masing-masing, di belakang ada keributan. Ada protes terkait penilaian hasil penjurian, dari orang-orang tua peserta yang tak juara.

Cerita saya cukup sampai di situ, karena selebihnya hanya persoalan klise—dari soal orang tua yang obsesif hingga keteledoran panitia. Dan cerita seperti ini sudah sering saya dengar dari teman-teman yang langganan jadi juri lomba mewarna dan lukis anak; dan itulah salah satu alasan saya malas jadi juri lomba, terutama yang terkait dengan anak-anak.

Baca juga:  Film Bilal bin Rabah: Antara Spiritualitas dan Semangat Pembebasan

Anak-anak saya sendiri, meski ayahnya seorang pelukis yang kuliah di perguruan tinggi seni (lukis) dan menulis kritik seni lukis, jarang saya dorong mengikuti lomba melukis semacam itu. Saya bahkan hampir tak pernah mengajari mereka.

Kalaupun ada minat, saya hanya mengarahkan dan “menceritakan” tentang cara menggambar, atau malah saya sendiri yang melukisi karya mereka sementara mereka menonton saja. Si kecil malah kalau minta gambarkan kartun-kartun kesukaannya saya suruh gambar sendiri, dan kalau bilang tak bisa saya kasih tahu, “Apa yang tidak bisa dilakukan tangan yang sama ini?” Dan biasanya, sesudahnya, ia menggambar sesukanya, apa saja yang mampu dipikirkannya secara sederhana.

Kepercayaan dirilah yang terpenting, menurut saya. Hasilnya nomor sekian. Kreativitas lahir dari kepercayaan diri. “Membuat sesuatu” lahir dari imajinasi dari orang yang percaya pada dirinya.

Baca Juga

Dan lihatlah, apa yang dihasilkan lomba-lomba selama ini? Hanya sedikit yang kemudian berinisiatif meneruskan bakatnya. Selebihnya sekadar menuruti obsesi orang tuanya.

Persoalan semacam di atas sebenarnya sudah sering didiskusikan kawan-kawan, dari mengevaluasi kegiatan lomba mewarna dan lukis anak. Hasil evaluasi, yang biasanya sama, menekankan, kreativitas anak sendiri itulah yang utama.

Baca juga:  Islam dan Budaya dalam Perkawinan Suku Sasak di Lombok

Orang tua hanyalah mendorong, memfasilitasi, memotivasi. Jika, toh, anak kalah dalam suatu kompetisi, yang terbaik adalah membesarkan hati mereka. Bagaimanapun caranya, selembut-lembutnya. (Baca: Pendidikan Seni, Anak-Anak Kita, Gus Dur hinggal Al-Ghazali)

Saya kutip syair yang indah dari Kahlil Gibran, untuk melembutkan lagi hati kita:

Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu Mereka adalah anak-anak kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri/…// Engkau adalah busur tempat anak-anak panahmu hidup diluncurkan/…// Jadikanlah tarikan tangan sang pemanah sebagai kegembiraan/ Sebab ketika ia mencintai anak-anak panah yang terbang/ Maka ia juga mencintai busur yang telah meluncurkannya dengan sepenuh kekuatan.

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top