Sedang Membaca
Pendidikan Seni, Anak-Anak Kita, Gus Dur hingga AL-Ghazali
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Pendidikan Seni, Anak-Anak Kita, Gus Dur hingga AL-Ghazali

Amrullah Hakim

Suatu hari saya menjemput anak yang sedang main di rumah temannya. Ketika menjemput, dua anak ini sedang “duet”: teman anak saya, namanya Alina (kelas 3 SD), sedang asik menggesek biola, sementara anak saya, namanya Kayla (kelas3 SD juga) memperhatikannya dengan khusyuk.

Saya tidak mengerti teknis menggesek biola. Tapi saya berani bilang: mainnya keren. Sebab dia bermain biola sambil menyetel musik orkestra. Ia menggerak-gerakkan tubuhnya mengikuti irama biola yang dimainkannya bersamaan musik orkestra yang keluar dari load speaker. Mungkin teman anak saya ini main biolo sambil membayangkan sedang berada di panggung besar. Ya ampun, hebat sekali anak ini, padahal baru 8 tahun umurnya.

Lalu saya bertanya, belajar di mana? Dia menjawab belajar di kursus musik Suzuki, yang adalah tempat belajar dengan menggunakan metode dari Shinichi Suzuki. Shinichi Suzuki adalah seorang filusuf cum musisi kelahiran Nagoya Jepang, 17 Oktober 1898 dan meninggal 26 Januari 1998 atau saat berusia 99.

Lalu saya bertanya ke orang tuanya, mengapa kok anaknya belajar biola? Jawabannya: anak saya tunggal, supaya dia bisa belajar bekerja sama dalam satu kegiatan besar dan melatih kedisplinan, saya kira bermain biola bisa menjadi ajang latihannya. Terlebih harga biola tidak semahal alat musik lainnya.

Saya kira ini memang sejalan dengan apa yang dikatakan oleh Suzuki sendiri bahwa musik menciptakan orang-orang baik. “Mengajar musik bukanlah tujuan utama saya,” tulis Suzuki yang juga seorang pedagog kontroversial. “Saya ingin membuat warga negara yang baik, manusia yang mulia. Jika seorang anak terlatih mendengar musik yang bagus, dan belajar memainkannya sendiri, ia mengembangkan kepekaan, disiplin, dan daya tahan. Si anak akan memiliki hati yang welas asih.”

Baca Juga:  Kisah Selendang: Selempang Enak Dipandang

Kita juga bisa melihat beberapa anak di Jawa Tengah belajar gamelan, alat musik asli Nusantara yang mungkin sudah ada sejak abad ke-8, ditandai oleh pahatan alat musik di candi Borobudur. Kedamaian antar umat Hindu dan Buddha zaman itu, diyakini salah satunya karena seni, baik musik, tari dan tulisan (baca: sastra).

Berbeda dengan di Eropa, yang begitu mengenal logam, penemuan yang menonjol berikutnya adalah alat perang, sejarah awal Eropa adalah sejarah tentang penaklukan. Sementara di Nusantara, begitu mengenal logam, penemuan yang ditekuni adalah pembuatan gamelan. Gitar, piano dan alat musik lainnya di belahan bumi lainnya, kebanyakan hanya berasal dari kayu.

Alat musik sangat beragam sesuai dengan budaya manusianya, sesuai dengan alam yang memengaruhinya. Namun melodi, harmoni, ritmenya yang dihasilkan sama. Ini menunjukkan bahwa musik adalah sesuatu yang tidak bisa dilepaskan dari manusia, sehingga kehidupan manusia terus lestari di bumi ini.

Tanpa musik, mungkin manusia akan punah, karena tanpa musik, dari berbagai penelitian, misalnya seperti di buku The Language Instinct karya Steven Pinker mengatakan, “Manusia akan berubah menjadi brutal.”

Bagaimana pendidikan anak kita saat ini? Saya tertarik quote dari Pablo Picasso, ”Every child is an artist. The problem is how to remain an artist once we grow up.” Biar tidak seperti anak Jakarta Selatan pada umumnya, maka saya tulisan bahasa Indonesianya,”Setiap anak adalah seniman. Masalahnya ada bagaimana si anak tetap menjadi seniman saat tumbuh menjadi dewasa.”

Kemampuan dan selera seni anak-anak kita saat belajar di tingkat taman kanak-kanak (TK), sebetulnya sudah bagus. Bekal mereka ada. Dua hingga tiga tahun di saat di taman bermain dan taman kanak-kanak amat cukup dibekali oleh lingkungan sekolah. Mereka asik dengan kegiatan menggambar, menari, bernyanyi, mengenal bentuk, komposisi warna, tata letak meja-kursi hingga gaya berpakaian ketika mereka karnaval misalnya.

Baca Juga:  Mengenang Tauhid, Film Haji yang Terlupakan (1/2)

Namun, saat anak-anak kita memasuki sekolah dasar atau madrasah ibtidaiyah (SD/MI) bekal atau dasar-dasar seni anak-anak kita mengalami erosi. Lambat laun jiwa seni yang sudah ditanamkan dari awal terkurangi oleh buku ajar yang lain, yang semestinya masih bisa terus berimbang komposisinya. Mengapa pendidikan seni jadi tergeser, lalu mengagung-agungkan bidang lain?

Baca Juga

Jika belajar seni (senia apa saja musik, sastra, tari, suara, rupa, dll.) dapat porsi yang bagus dan bisa terus diteruskan oleh siswa SD hingga SMA bahkan universitas, sepertinya kehidupan kita akan lebih tenang, indah, dan harmoni. Selain lembaga pendidikan, dukungan orangtua, teman-teman, lingkungkan masyarakat juga harus dioptimalkan. Pendidikan seni, sama juga dengan pendidikan budi pekerti dan lainnya, membutuhkan ekosistem yang kuat.

Mari kita para orang tua, teman-teman, lingkungan masyarakat kita, berikhtiar terus memupuk kemampuan seni anak kita. Seni sastra, seni rupa, seni musik, seni beladiri apa saja. Bermain musik bisa alat musik apa saja yang anak kita suka, misalnya anak saya yang sangat menyukai bermain piano.

Etika rendah, kegiatan tak berguna, tawuran, vandalisme bahkan baku bunuh, mungkin tidak akan terjadi jika mereka mendapatkan pendidikan seni yang memadai.

Lebih dari itu, seni bisa fasih mengungkapkan gejala-gejala sosial. Mendiang presiden keempat kita, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur pernah menyampaikan bahwa jika terdapat ketimpangan sosial, musik bisa dijadikan sarana sebagai kontrol sosial. Gus Dur menyampaikan hal itu ketika menjadi pembicara di peluncuran album “Perahu Retak” karya hebat almarhum Franky Sahilatua. Gus Dur sendiri, penyuka musik klasik: Ludwig van Beethoven, Wolfgang Amadeus Mozart, Johan Sebastian Bach, Frederic Chopin, Frans Schubert, Peter Ilich Tchaikovsky, di samping lagu-lagu Ummi Kaltsum.

Baca Juga:  Sarung, Madura, dan Inferioritas

DI bagian akhir, saya juga mengutip salah satu tulisan KH Husein Muhammad yang menukil Ihya Ulumuddin II/275:

“Orang yang jiwanya tak tergerak oleh semilir angin, bunga-bunga, dan suara seruling musim semi, adalah dia yang kehilangan jiwanya yang sulit terobati.”

Lihat Komentar (0)

Komentari