Sedang Membaca
Djaduk Ferianto, Ngayogjazz, dan Ide Seorang Santri
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Djaduk Ferianto, Ngayogjazz, dan Ide Seorang Santri

Fathorrahman Ghufron

Seusai menonton Ngayogjazz di Godean-Sleman, November 2013, saya membuat tulisan berjudul “Egalitarianisme Jamaah Jazziyah” di Majlis Ngayogjazz”. Tulisan ini dimuat di salah satu koran lokal Jogja (22/11/2013). Rupanya, tulisan ini memantik perhatian Mas Djaduk.

Di samping itu, tulisan ini membentangkan sebuah tapak emosional sekaligus menjadi momentum terbangunnya hubungan personal antara saya dengan Mas Djaduk. Maka, saat pertunjukan Ngayogjazz berikutnya, yang dihelat di Brayut Sleman pada tanggal 21 November 2014, Mas Djaduk mengusulkan saya untuk menjadi Narasumber dalam serasehan “pra-Ngayogjazz” yang saat itu mengusung tagline “Tak Tak Tung Jazz” (2014).

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Selepas perhelatan Ngayogjazz berjalan sukses, beberapa waktu kemudian, interaksi saya dengan mas Djaduk semakin intens. Pada suatu malam, bertempat di kafe sederhana di bilangan Gejayan, saya diajak bercengkrama bersama teman-teman penggiat Ngayogjazz untuk mendiskusikan tema dan persiapan Ngayogjazz di tahun 2015.

Suasana diskusi yang sangat cair memudahkan saya untuk berbagi pikiran dan saya pun mencoba mengikuti cara berpikir penggiat Ngayogjazz yang bernuansa dekonstruksionis-kreatif. Maka, ketika malam beranjak larut, saya sampaikan kepada Mas Djaduk untuk membuat draft sederhana sebagai penghantar awal ihwal tagline yang perlu didiskusikan lebih lanjut.

Ide “bhineka tunggal jazz-nya” yang sempat melintas di pikiran saat terlibat dalam diskusi malam itu, tiga hari kemudian saya pertegas lagi dalam sebuah tulisan untuk merespon berbagai masukan. Lalu, tulisan yang menerakan judul “bhineka tunggal jazz-nya” saya sampaikan ke mas Djaduk sebagai bentuk urun pikiran ihwal tagline yang perlu dirumuskan sejak awal.

Selang beberapa waktu kemudian, saya diundang untuk hadir dalam acara jumpa pers perhelatan Ngayogjazz yang akan dilaksanakan di Pandowoharjo Sleman. Dalam acara tersebut, tajuk “bhineka tunggal jazz-nya” yang pernah didiskusikan bersama beberapa waktu sebelumnya disepakati menjadi judul perhelatan Ngayogjazz.

Baca juga:  Ulama Milenial, Santri dan Menulis

Melalui tajuk tersebut, perhelatan Ngayogjazz tahun 2015 ingin berkontribusi bagi terciptanya sikap mutual understanding bagi seluruh rakyat Indonesia yang ditakdir Tuhan sebagai makhluk yang beragam.

Setahun kemudian, saat Ngayogjazz menggelar pertunjukan di Kwagon Sidorejo Godean dan mengusung tajuk “Hamamangun Karyenak Jazzing Sasama” (19 November 2016), menginspirasi saya untuk membuat tulisan yang kedua.

Maka, seminggu kemudian tulisan “Ngayogjazz dan Spirit kemanusiaan” yang menganalisis makna filosofis dari tajuk Ngayogjazz yang diambil dari Pupuh Sinom Serat Wedhatama karya Mangkunegara IV, dimuat di kompas.(26 November 2016)

Suatu pagi menjelang siang, Mas Djaduk langsung mengububungu saya via telepon. Rupanya di telah baca tulisan saya. Berkali kali dia menyampaikan terimakasih karena tulisan tersebut dianggap bisa memperkaya perspektif tentang tajuk Ngayogjazz 2016 yang memang dibuat untuk menjadi bagian penting dalam menyebarkan virus kebaikan dan kebahagiaan kepada semua manusia.

Sebulan kemudian saya berjumpa Mas Djaduk dalam acara Pagelaran Keroncong di Kota Gede. Dia memeluk saya dengan erat dan menyampaikan rasa bangga dan apresiasi hasil diskusi dan bergulatan bersama, lebih-lebih telah menjadi esai dan terbit di koran. Bahkan, beberapa orang yang kebetulan bercengkrama bersama Mas Djaduk turut dilibatkan dalam perasaan yang sama betapa pentingnya mengapresiasi sebuah karya yang mengulas pertunjukan Ngayogjazz.

Di akhir tahun 2018 saya diundang lagi untuk urun rembug tentang format Ngayogjazz tahum 2019. Pertemua  dilakanakan di kafe Taman Kebun Tirtodipuran. Dalam diskusi bersama teman-teman media dan seniman lainnya, selain membahas seperti apa peluang dan tantangan Ngayogjazz di masa mendatang, obrolan pun juga beranjak pada isu penting; apakah penonton Ngayogjazz harus selalu dimanjakan dengan pertunjukan jazz gratisan.

Baca juga:  Pendidikan Seni, Anak-Anak Kita, Gus Dur hingga AL-Ghazali

Dari sekian mata rantai keterlibatan saya dalam secuil babak penyelenggaraan Ngayogjazz, itu pun posisi saya hanya di pinggiran yang sekedar belajar berbagi dan memahami dinamika Ngayogjazz secara sosiologis, bulan puasa Ramadan (pertengahan Mei 2019) menjadi momen terakhir interaksi saya dengan mas Djaduk tentang Ngayogjazz.

Suatu malam, Mas Djaduk japri saya untuk menanyakan tajuk atau judul yang pas untuk Ngayogjazz 2019. Ada dua rencana yang sedang didiskusikan bersama teman-teman penggiat Ngayogjazz. Dia bertanya ke saya, mana antara “nyawiji ing ngayogjazz” atau “manunggaling kawulo jazz-nya” yang sekiranya aman dan tidak memicu kontroversi. Ada pun spirit yang ingin ditekankan dalam rencana judul tersebut adalah persatuan bagi semua kalangan.

Dengan tegas saya mengatakan kepada Mas Djaduk bahwa “manunggaling kawulo jazz-nya” lebih keren dan tidak akan mengandur unsur “penistaan”. Untuk meyakinkan jawaban tersebut, saya sampaikan akan menulis draf sederhana ihwal  “manunggaling kawulo jazz-nya” perlu dirumuskan sebagai gagasan utama pertunjukan. Keesokan harinya draf sederhana tersebut selesai saya tulis dan saya kirim via WA.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Tapi, pada akhirnya tajuk Ngayogjazz 2019 lebih menggunakan redaksi lain yang mengadaptasi salah satu narasi sumpah pemuda. Kendati demikian, kesemua itu mengusung spirit yang sama bahwa persatuan adalah elan vital berbangsa yang harus ditegakkan di bumi pertiwi.

Baca juga:  Gus Mus, Arab Pegon, dan Kangen yang Abadi

Sayangnya dan disertai perasaan sedih, belum juga keringat mas djaduk menetes dan menyaksikan perhelatan Ngayogjazz 2019 yang sudah dipersiapkan setahun sebelumnya, rupanya Tuhan lebih menghendaki Mas Djaduk agar hadir perjamuan kudus-Nya sebelum hari Natal tiba. Dalam benak kita, mungkin Mas Djaduk pergi terlalu cepat. Padahal, harapan kita agar bisa menyaksikan aksi musiknya Mas Djaduk sudah sangat membuncah.

Atau, mungkin Tuhan cemburu pada kita dan para penggiat Ngayogjazz, mengapa hanya kita para hamba sahaya yang selalu dihibur oleh mas djaduk dengan berbagai kreasi musik dan inovasi pertunjukannya. Ah…entah lah…kami sudah kehabisan kata untuk meratapi kesedihan ini. Kami hanya bisa pasrah dan mengiringi kepergiannya dengan doa. Semoga, saat mas djaduk benar benar bertemu Tuhan, mas djaduk mampu memuaskan Tuhan dengan sajian musikal jazz yang lebih eksploratif sebagaimana kami yang bertahun-tahun selalu dipertemukan dengan kebahagiaan dan kedamaian melalui Ngayogjazz.

Last but not least, saya yakin saat Ngayogjazz diselenggarakan di Kwagon pada tgl 16 November nanti, judul “satu nusa satu jazz-nya” akan menjadi penghubung kemenyatuan mas djaduk dengan Tuhan. Di mana, kemenyatuan itu seperti yang saya gambarkan dalam tulisan “manunggaling kawulo jazz-nya” yang saya sampaikan ke Mas Djaduk saat bulan puasa kemarin. Ada satu poin lain yang ingin saya sampaikan, tepatnya satu pertanyaan: Mengapa Mas Djaduk yang Katolik yang bergiat di dunia seni cocok dengan gagasan seorang, yang bergiat di dunia pendidikan, akademik?

Alfatihah buat Mas Djaduk Feriyanto

 

Singapura, 13/11/2019

 

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top