Sedang Membaca
Selesaikan Hidupmu!
Penulis Kolom

Pengasuh Pesantren Istana Yatim, Bekasi, Jawa Barat

Selesaikan Hidupmu!

Pernahkah Anda berjumpa dengan seorang kiai yang kelihatannya tidak bekerja tetapi kekayaannya luar biasa? Saya pernah, seorang guru memperkenalkan saya dengan sosok kiai, di Pulau Jawa.

Meski harta berlimpah-ruah sejagat raya, tak setitik pun hatinya itu kepincut sama hartanya, kuda Australi ada 17 ekor belum lagi mobil dari Innova sampai Ferrari. Ia tidak kedengaran bisnis, memang tidak dikenal sebagai pengusaha. Sebenarnya beberapa jenis usaha dilakukannya dengan tekun. Tapi juga tampak cuma syarat saja, supaya secara syariat tidak kesalahan.

Ia juga bukan penceramah kondang dengan baju koko selalu baru tiap ceramah, apalagi menetapkan tarif. Bukan, ia bukan singa panggung yang kesohor. Ia hanya ada di pondoknya saja, mengawal para santrinya, lalu sesekali keliling dunia, entah untuk apa, hanya pernah beliau mengatakan:

“Hidup ini cuma main-main dan senda gurau, jangan terlalu serius. Masa Allah ciptakan bumi Eropa yang eksotis nan indah sampean gak datangi?”

Mengapa bisa kaya raya? Jawaban yang sempat saya simpulkan, limpahan berkat yang tak tertahankan. Apa yang mereka mau, niscaya Allah kirimkan. Hidup mereka itu sudah sampai pada point of no return, istilahnya “sudah sampai”, alias wushúl, wis teko.

Tapi kesimpulan saya itu salah. Apakah semata-mata karena berkat, gampang banget. Lalu apa atau adakah proses sebelumnya? Saya coba menelusurinya sampai ketemu kata ajaib ini:

Awareness. Kesadaran.

Sang kiai kaya raya yang saya pernah temui itu tidak pernah setitik pun berkeinginan mendapatkan “berkat”, boro-boro ingin atau mengharap, terlintas dalam pikiran dan hati saja tidak. Ia menyempurnakan kepercayaan dan penerimaannya bahwa everything is done, di tangan Allah semua sudah selesai. Semua peristiwa, semua kejadian, tidak ada yang meleset. Besar kecilnya, kuat lemahnya, berat ringannya, semua sudah ada catatan-Nya. Semuanya telah selesai, wis rampung. Itu tadi dalam bahasa Inggris: everything is done.

Kepercayaan semacam ini diterimanya dengan damai, tulus, ikhlas, tanpa protes, tanpa alasan, tanpa “tapi”.

Baca juga:  Kata "Kanud" dalam Al-'Adiyat: Manusia Sangat Suka Ingkar Nikmat

Jenis kepercayaan dan penerimaan semacam ini pernah dialami oleh seorang kekasih Allah, namanya Dzunnun al-Mishri. Kisah sufi yang terkenal itu bisa kita dapat dalam Risalah al-Qusyairiyyah, bahwa Salim al-Maghriby menghadap Dzunnun dan bertanya, “Wahai Abu al-Faidl !” begitu ia memanggil demi menghormatinya, “Apa yang menyebabkan Tuan bertaubat dan menyerahkan diri sepenuhnya pada Allah?”

“Sesuatu yang menakjubkan, dan aku kira kamu tidak akan mampu,” jawab al-Mishri seperti sedang berteka-teki.

Al-Maghriby semakin penasaran, “Demi Dzat yang engkau sembah, ceritakan padaku.”

Lalu Dzunnun berkata: “Suatu ketika aku hendak keluar dari Mesir menuju salah satu desa lalu aku tertidur di padang pasir. Ketika aku membuka mata, aku melihat ada seekor anak burung yang buta jatuh dari sangkarnya. Coba bayangkan, apa yang bisa dilakukan burung itu. Dia terpisah dari induk dan saudaranya. Dia buta tidak mungkin terbang apalagi mencari sebutir biji. Tiba-tiba bumi terbelah. Perlahan-lahan dari dalam muncul dua mangkuk, yang satu dari emas satunya lagi dari perak. Satu mangkum berisi biji-bijian Simsim, dan yang satunya lagi berisi air. Dari situ dia bisa makan dan minum dengan puas. Tiba-tiba ada kekuatan besar yang mendorongku untuk bertekad : “Cukup… aku sekarang bertaubat dan total menyerahkan diri pada Allah. Aku pun terus bersimpuh di depan pintu taubat-Nya, sampai Dia Yang Maha Kasih berkenan menerimaku”.

Baca juga:  Kisah Hikmah Klasik (18): Sufi yang Dekat dengan Pemerintah

Kesadaran. Awareness.

Saya ingin menulis kesadaran itu setara dengan apa yang disebut ‘irfan. Seseorang yang mencapai maqam kesadaran irfani disebut sebagai al-‘Arif Billah. momentumnya perjumpaan antara Murid dengan Murad.

Murid adalah individu yang telah melepaskan diri dari daya dan kekuatannya, yang sepenuhnya berserah kepada kehendak sang Mahakuasa sang Mahamutlak yang di tangan-Nya tergenggam kendali segala sesuatu, dari atom sampai galaksi.

Sementara “murad” adalah jiwa bahagia yang telah bergerak hanya dengan apa yang diinginkan oleh Tuhan, dan tertutup sama sekali dari yang selain Dia, sehingga sang hamba tidak lagi memiliki keinginan atau pun hasrat selain ridha-Nya. Demikianlah ia menjadi sosok yang diingini dan menjadi perhatian Allah.

Lalu cukupkah dengan kesadaran semacam itu?

Sebentar. Ini belum selesai.

Jiwa yang tercerahkan oleh kesadaran semacam di atas tadi akan bergerak mengarungi samudera kehidupan dengan tanpa beban, jiwa yang sangat tenang: la khaufun ‘alaihim wa la hun yahzanun.

Ketenangan menutup pintu kepanikan!

Maka aktivitas “kerja” yang dijalani lewat hati yang tenang itulah kerja sesungguhnya. Maka kesadaran irfani yang menggerakkan “kerja” itulah kerja sesungguhnya. Maka ketulusan hati yang melandasi pekerjaanmu itulah “kerja” yang sesungguhnya.

Maka kegembiraan hatimu menggembirakan orang lain, termasuk customer-mu, itulah “kerja” sesungguhnya.

Baca juga:  Taharah Pasca Banjir

Jadi, pergi ke sawah, buka toko, buruh di pabrik, masuk kantor, memburu berita, direktur, komisaris, mubalig, dan semua jenis pekerjaan dan usaha duniawi lainnya itu punya nilai apa? Ya ndak ada artinya selama dikerjakan tanpa kesadaran, tanpa ketenangan, tanpa ketulusan dan tanpa spirit pelayanan yang penuh kegembiraan.

Jadi para kiai yang kaya raya itu bekerja atau tidak?

Hussss, Sampean iku santri kok kepo gak ketulungan, endasmuuuù. Para kiai itu hanya menjaga keseimbangan dan menghindari terjadinya fitnah. Aja macem-macem.

Lalu, implementasinya buat yang bukan kiai bagaimana?

Sama saja. Teman saya baru berhenti dari ASN, bukan pensiun dini, tapi berhenti atas permintaan sendiri. Dia kaya raya. banget. Suatu hari, saya pernah tanya, “Apa rahasiamu bisa apa saja yang dimaui itu mewujud nyata?”

Ra usah dipikir, jalani saja peranmu dengan baik, nanti dipertemukan, kalau kamu kepingin bertemu malah stress, nanti saja dipertemukan,” jawabnya.

Jika kau menginginkan kesenangan
Sepenuhnya lepaskan semua kemelekatan
Dengan melepaskan semua kemelekatan Kesenangan paling sempurna ditemukan

Selama kau mengikuti kemelekatan
Kepuasan tidak akan pernah ditemukan
Siapapun menjauhi kemelekatan
Dengan kebijaksanaan ia mencapai kepuasan

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
1
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
1
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top