Sedang Membaca
Mengenal Mahmoud Darwish, Penyair Palestina yang Ditakuti Israel
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Mengenal Mahmoud Darwish, Penyair Palestina yang Ditakuti Israel

Erik Erfinanto

Percayakah Anda bahwa orang berkarakter mbeling, alias rebel, adalah orang yang hidupnya penuh canda. Tapi tak selalu penuh tawa. Karena bercandanya hidup, kadang satire, kadang tragis. Dan kehidupan Mahmoud Darwish berada dalam level bercanda yang ironik nan lucu. 

Ia dibenci setengah mati oleh Israel. Padahal, cinta monyet pertama Darwish, adalah pada seorang gadis kecil Israel. Semasa dewasa, Mahmoud masuk penjara, juga atas ketokan palu seorang jaksa perempuan Israel. Dan sebuah dokumenter tentang Mahmoud Darwish, juga dibikin oleh sineas perempuan yang blasteran Prancis-Israel.

Lebih lucu lagi, adalah jalan karier politiknya. Hidupnya yang diabdikan pada perjuangan membela bangsanya, Palestina, membawanya masuk dalam lingkaran tinggi PLO (Palestine Liberation Organization) pada 1987. Padahal 25 tahun sebelumnya, pada 1962, ia menjadi editor sebuah majalah besutan partai Komunis Israel, yakni partai Rakha. 

Tapi sejatinya, Mahmoud Darwish adalah seorang jurnalis sekaligus penyair. Melalui kata-katanya, tulisan dan puisi Darwish menjadi ancaman yang menakutkan dan serius, bagi Israel. 

Illegal Alien 

Nama Mahmoud Darwish adalah sejenis dengungan yang sangat mengganggu, bagi Israel. Sejak kecil, ia sudah mbeling. Gara-gara menyaksikan, dan merasakan, kampung halamannya luluh lantak dikoyak bom Israel. 

Saat itu tahun 1947. Mahmoud, anak kedua dari pasangan Salim dan Houreyyah Darwish, pada usia 6 tahun, harus menyaksikan dengan mata kepalanya, polah tentara Israel yang merangsek masuk ke desanya di al-Birwa, lalu melumat lebur desa tanah kelahiran Mahmoud. 

Tak cuma desa yang terletak di Galilee Barat itu yang digerus zionis Israel, melainkan desa-desa lainnya di Palestina. Terpaksa, dari pada ikut lumat oleh gempuran Zionis, keluarga besar Darwish mengungsi ke Lebanon, meninggalkan Desa al-Birwa yang sudah porak. Setahun mereka hidup di Lebanon.

Dan negara Zionisme Israel pun berdiri, pada 14 Mei 1948. Israel berani proklamasi, atas restu PBB pada 1947 mengenai pembagian Palestina menjadi dua negara, yaitu satu negara Yahudi dan satu negara Arab. Sebelumnya, Liga Bangsa-Bangsa sudah memberi pangestu, melalui “Mandat Britania atas Palestina sebagai negara orang Yahudi”.  

Peperangan pun pecah. Ndilalah, meski dikeroyok  negara-negara Arab di sekitarnya yang menolak pencaplokan Israel atas Palestina ini, negara Zionis Israel tetap menang.

Pasca perang, keluarga besar Salim Darwish pulang ke daerah tanahnya di Acre, dan terkaget-kaget. Karena di sana, di tanah yang telah dikuasai Israel, sudah berdiri tegak dua permukiman Yahudi. Tak banyak pilihan, terpaksa keluarga Darwish melipir ke Deir al-Asad, di Galilea juga. 

Sejak itulah, bocah bernama Mahmoud merasakan hidup sebagai illegal alien alias makhluk asing di tanah kelahirannya sendiri. “Engkau bisa bermain di bawah matahari sesukamu, dan engkau punya mainan, tapi aku tidak. Engkau punya rumah, dan aku tidak. Engkau merayakan, tapi aku tidak. Mengapa kita tidak bisa bermain bersama?’” 

Itu gagasan yang ia ingat tentang puisi yang ditulisnya semasa bocah, dan menghasilkan ancaman: “Jika kamu menulis puisi semacam itu, aku akan memecat ayahmu dari pertambangan.”

Perkenalan pertama Mahmoud Darwish dengan puisi, ternyata dari penyanyi pengembara yang melarikan diri dari kejaran tentara Israel. Sebelumnya, jangankan mengenal puisi. Untuk tersenyum saja sulit, masa itu. Namun kehadiran penyanyi pengembara itu justru  memberi inspirasi pada Mahmoud, tentang ilmu yang sebelumnya tidak pernah ia kenal sama sekali. 

Kelak, bocah yang sebelum pindah ke Haifa, sempat melanjutkan sekolah menengahnya di Kafr Yasif itu, beranjak dewasa sebagai sosok mbeling, melalui tulisan dan puisinya. Debutnya, pada usia 19, ia terbitkan buku kumpulan puisi tentang ketertindasan Bangsa Palestina oleh Israel, sontak mendapat perhatian luas. Judul bukunya Burung-Burung Pipit Tanpa Sayap.  

Mbeling bagi Israel tentunya, tapi patriotik bagi bangsa Palestina. Setelah kumpulan puisi bertajuk Dedaunan Zaitun terbit, Mahmoud bagai inspirator perjuangan rakyat Palestina. Meski saat itu ia belum turut dalam pergerakan, namun teriakannya melalui tulisan dan puisi, membawanya menjadi editor sebuah majalah partai komunis  Israel, Rakha, pada 1962.

Berangkat ke Moskow, Masuk PLO

Baca juga:  Humor Gus Dur: Pertanggungjawaban Presiden Habibie

Medio era 1960, perseteruan negaranegara Arab versus Israel memuncak pada Perang 6 Hari pada 1967. Kemenangan Israel pada perang tersebut mendorong tumbuhnya gerakan kemerdekaan Palestina oleh Organisasi Pembebasan Palestina (PLO). 

Memasuki 1970, beberapa kelompok militer Palestina mulai melancarkan serangan terhadap warga Israel di seluruh dunia. Masa itu pemerintah Israel dipegang oleh Partai Likud, yang keukeuh menolak mentah-mentah berdirinya negara Palestina. Saat itulah Mahmoud berangkat kuliah ke Universitas Moskow di Uni Soviet. Puisi-puisi Mahmoud banyak lahir di tempat ini.

Masa itu, hubungan Israel dengan Amerika Serikat agak “merenggang”, sebab negara-negara Arab melakukan embargo minyak Timur Tengah terhadap sekutu Israel. Amerika Serikat yang butuh minyak, mulai mendekati negaranegara Arab, sehingga Israel pun kesal. 

Baca Juga

Mahmoud tak sempat berlama-lama memandang kiprah AS dari jendela Moskow, karena ia hanya setahun di sana. Seperti arti kata Darwish pada namanya, yang berarti pejalan, Mahmoud pindah lagi. Kali ini ia ke Mesir dan Libanon. 

Di Lebanon ia bergabung dengan PLO pada 1973. Namun ia sempat dilarang masuk kembali ke Palestina. Suara yang vokal tentang penolakan pendudukan Israel di Palestina yang membuat dia dilarang untuk kembali ke Palestina, pihak Israel takut kehadiran Mahmoud Darwish dapat mempengaruhi penduduk Palestina untuk berjuang besar melawan Israel.

Aktivitas politik Mahmoud Darwish menanjak, dan ia diangkat sebagai PLO Executive Committee pada 1987. Setahun kemudian ia menulis manifesto yang dimaksudkan sebagai deklarasi kemerdekaan bangsa Palestina. Pada 1993, setelah Perjanjian Oslo, Darwish mengundurkan diri dari posisinya sebagai PLO Executive Committee.

Orang-orang Arab menyebut Mahmoud sebagai inkarnasi dari tradisi puisi politik dalam Islam, seorang yang berjuang melalui karya nyata berupa puisi. Dan ini memang ia akui. Menurutnya, beberapa penyair Arab menjadi inspirasinya. Mereka, antara lain Abd al-Wahhab al-Bayati dan Badr Shakir al-Sayyab dari Iraq. Tapi, ada juga penyair Israel yang ia kagumi, namanya Yehuda Amichai.

Puisi Mahmoud pun kerap digubah menjadi lagu yang sangat populer. oleh para komposer dan penyanyi dunia Arab, sekurangnya selama dua generasi. Nama Marcel Khalife, Ahmad Qa’abour, dan Majda Roumi adalah sebagian dari komposer dan penyanyi dunia Arab yang bersentuhan dengan puisi-puisi Darwish (Hari, 2009:20).

Humanis dengan Impiannya yang “Lucu”

Baca juga:  Khudirin

Seberapa bencikah Mahmoud Darwish terhadap Israel? Dalam sebuah wawancara dengan New York Times (2000), ia memberikan pendapatnya tentang negara zionisme Israel. Dia bilang, “Adalah sebuah tuduhan bahwa saya membenci orang-orang Yahudi. Sangat tidak menyenangkan bahwa mereka menyebut saya sebagai setan dan seorang musuh Israel. Saya bukan penggemar Israel, tentu saja. Saya tidak punya alasan untuk menjadi penggemar Israel. Akan tetapi, saya tidak membenci orang-orang Yahudi.”

The accusation is that I hate Jews. It’s not comfortable that they show me as a devil and an enemy of Israel. I am not a lover of Israel, of course. I have no reason to be. But I don’t hate Jews” (New York Times, 7 Maret 2000). 

Malahan, Maya Jaggi mengutip pernyataan Mahmoud Darwish dalam The Guardian edisi 8 Juni 2002, 

“Saya akan terus memanusiawikan bahkan musuh saya sendiri. Guru pertama saya yang mengajari bahasa Hebrew adalah orang Yahudi. Cinta pertama saya adalah seorang gadis Yahudi. Jaksa yang pertama kali mengirim saya ke penjara adalah seorang perempuan Yahudi. Jadi sejak awal, saya tidak melihat orang-orang Yahudi sebagai iblis atau malaikat melainkan sebagai manusia.” (Jaggi, 2002: 46).

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top