Sedang Membaca
Di Balik Pembunuhan Mayor Jenderal Qassim Soleimani
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Erik Erfinanto
Penulis Kolom

Bekerja sebagai editor di penerbit Turos Pustaka. Alumni di Al-Azhar Kairo. Kini tinggal di Jakarta.

Di Balik Pembunuhan Mayor Jenderal Qassim Soleimani

1 A Qassim Soleimani

Baghdad pada Jumat pagi, 3 Januari 2020, Bandara Sulaimaniyyah menjadi penanda kematian terakhir bagi sang Jenderal Iran, Qassem Soleimani. Disebut “kematian terakhir”, sebab sebelumnya sang jenderal yang tak pernah menjauh dari medan perang ini telah berkali-kali dikabarkan tewas.

“Kematian” pertama pada 2006, saat sebuah kecelakaan pesawat di Barat Laut Iran dikabarkan menewaskan petinggi militer, yakni Qassem Soleimani. “Kematian” kedua terjadi pada November 2015, saat dirinya kembali dikabarkan tewas bersama beberapa tentara Suriah saat melakukan serangan di Aleppo. Kedua kabar duka itu ternyata menyedihkan penyerangnya, karena Jenderal Soleimani ternyata baik-baik saja.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Siapa sebenarnya Qassem Soleimani, yang konon pengaruh diplomatiknya lebih besar dari Menteri Luar Negari Iran, Javad Zarif? Apakah benar ia seorang teroris nomor wahid di Timur Tengah? Bahkan lebih berbahaya ketimbang komandan ISIS Abu Bakar Al-Baghdadi, seperti yang digambarkan Wapres AS, Mike Pence? Atau justru ia pahlawan bagi tegaknya ketenteraman di wilayah yang dikuasai AS, Saudi, Israel, dan sekutunya?

Belum ada jawaban pasti atas gundukan konflik yang berkelindan di Timur Tengah. Begitu bejibunnya jumlah kepentingan di sana, jumlah kelompok yang ikutan ‘tawur’ atau sekedar mengambil keuntungan atas konflik bersenjata di sana, tak terhitung jumlahnya. Plus, luas wilayah negara-negara di Timur Tengah yang sewaktu-waktu bisa berubah sesuai peta politik, membuat konflik ini seperti enggan rampung.

Karya Sang Jenderal bersama Quds

Mayor Jenderal Soleimani adalah pimpinan tertinggi pasukan elit Quds (IRGC). Soleimani yang membentuk pasukan elit ini menjadi sebuah organisasi militer yang sulit ditemukan padanannya: terdiri dari milisi kawakan berperang dalam senyap, sekaligus pacak menganalisa dan berstrategi perang. Kira-kira seperti hasil persilangan Kopasuss-nya Indonesia dengan CIA. 

Quds merupakan pasukan elit Garda Revolusi Iran, yang bertanggung jawab untuk operasi ekstrateritorial Iran, dan dibawahi langsung oleh pemimpin tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khameini. Dalam melancarkan operasi rahasia di luar negeri, tugas Quds termasuk menciptakan sejumlah proksi di berbagai wilayah.

Pasukan ini bertanggungjawab atas terbentuknya Hizbullah di Lebanon pada 1982. Melalui Soleimani, Iran memberi pinjaman sekurangnya 5000 pasukan Garda Revolusi Iran. Misinya, melawan Israel yang kala itu bercokol di Lebanon. Berbekal rudal mewah dari Rusia, Hizbullah menuai sukses dengan melancarkan berbagai serangan sporadis.

Saat Saddam Hussein berkuasa di Irak, Quds memberikan bantuan senjata, pelatihan, dan logistik kepada pasukan Kurdi untuk melawan pemerintahan Saddam. Setelah Irak tumbang di tangan AS, pasukan Quds balik membantu milisi Syiah, Katibah Hizbullah. Kiprah Quds terhadap milisi Syiah tersebut, memicu terbentuknya proksi Iran di Irak.

Di Afganistan, organisasi Hezbe Wahdat besutan Abdul Ali Mazari, menerima bantuan berupa pasukan rahasia Quds. Atas komando Soleimani pada dekade 80-an, bantuan pasukan dari Iran menusing misi perlawanan terhadap pemerintahan Mohammad Najibullah. 

Quds juga punya kiprah mendanai Aliansi Utara pimpinan Ahmad Shah Massoud. Operasi kali ini bertujuan untuk melawan Taliban. Namun arah angin berubah pada kurun 2004- 2014. Sebab saat itu Iran bertukar halua: memberi dukungan kepada gerilyawan Taliban. Pasukan Taliban yang notabene merupakan pasukan milisi berideologi Sunni ini, tengah melawan Hamid Karzai dan Presiden Ashraf Ghani. Taliban menganggap kedua tokoh tersebut merupakan boneka Amerika. 

Taliban mengirimkan kader-kader terbaiknya ke Mashad, demi mengikuti pelatihan dari Garda Revolusi Iran. Tak heran jika Iran juga merupakan bagian dari proksi di Asia Tenggara. Bahkan, sebuah laporan menyatakan, muslim Bosnia juga mendapatkan pelatihan untuk melawan Serbia Bosnia, saat perang Yugoslavia berlangsung. 

Puncak Kemarahan Sekutu Saudi

Baca juga:  Mencari Titik Temu Islam Nusantara dengan Islam Persia

Tibalah pada konflik terbesar, termahal, dan terpanjang dalam satu dekade terakhir: ISIS. Gelontoran kapital dari masing-masing pihak yang terlibat, tentu saja tidak sedikit. Inilah proksi paling seksi, yang melibatkan banyak pihak dan kepentingan. Di sini, Soleimani sang seradu kharismatik dan berpengaruh, kembali menunjukkan desain strategi perangnya.

ISIS akhirnya dipukul mundur oleh pasukan Suriah. Sejumlah kota penting kembali direbut. Setelah Soleimani mengorganisir massa secara kolosal, memperkuat persenjataan Suriah. Bahkan, ia pun ‘mengundang’ Rusia untuk turut serta dalam membasmi kelompok yang disokong negara-negara besar.

Kekalahan ISIS merupakan bukti kehebatan Soleimani. Suriah kini memang menjadi negara yang porak ponda, namun kita juga harus menghitung berapa kerugian yang harus ditanggung kelompok besar yang ada di belakang ISIS. Jumlah kerugian yang tentu “berjebah-jebah” banyaknya.

Lewat kuasa Soleimani juga, Quds memberi sokongan pada milisi Syiah di Suriah dan Irak. Patronasi itu berupa senjata dan konsultasi, bagi pihak-pihak yang bersedia melawan ISIS. Upaya ini berhasil. Rezim Bashar Al Assad berhasil mempertahankan kuasanya.

Termutakhir, Houthi di Yaman. Qassim Soleimani melangsungkan pertemuan dengan pemimpin tertinggi Garda Revlusi Iran. Isinya, Iran hendak memperkuat pengaruhnya di Yaman. Tidak menunggu lama, dukungan finansial, pelatihan militer, bahkan pasokan Tank Kornet, alias rudal anti-tank yang sangat berbahaya, berhasil terkirim ke Yaman.

Di Palestina, Iran bersama Hamas merupakan sejoli yang getol melawan Israel. Hubungan Hamas yang berorientasi Sunni itu nyatanya bisa mesra dengan Iran yang Syiah, berkat kekuatan lobi yang dilakukan oleh sang Jendral, Qassim Soleimani. Kemesraan itu tercermin dalam lawatan politik tokoh-tokoh Hamas ke Iran pada 26 Juli 2019.

Milisi bentukan Qassim di Irak melancarkan serangan dan gempuran ke pihak AS. Terparah adalah saat malam tahun baru kemarin: milisi Syiah menyerbu Kedutaan Besar Amerika Serikat di Baghdad. Meski tak satu pun pihak AS tewas, Trump merasa ini keterlaluan.

Tiga hari usai pesta tahun baru saja berlangsung, udara dingin menyelimuti kawasan bandara Sulaimaniyya. Lantunan azan Subuh yang menggema, mengiringi kedatangan sang Jenderal. Sontak, sebuah serangan rudal pesawat tak berawak, meluncur menuju ke sebuah mobil. Ledakan hebat terjadi. 

Tubuhnya berkeping-keping. Jika tidak ditemukan cincin di jari yang copot, nyaris mustahil sang jenderal dikenali. Ya, cincin itu milik sang jenderal. Qassim Soleimani tumbang, kali ini sungguhan.

Babak baru telah dimulai. Beberapa analis menyatakan sikap Trump kurang proporsional. Sebab kematian sosok kunci macam Qassim Soleimani bakal berbuntut panjang. Bahkan tak sedikit yang menyatakan ini merupakan awal dari perang dunia ketiga. Kesimpulan ini rasanya tidak berlebihan. Namun, satu hal yang mendekati pasti: Saudi, negara yang telah menghancurkan banyak situs penting peninggalan sejarah Islam, akan semakin berkuasa.

Kemungkinan Lain

Baca juga:  Belanja Buku-Buku Soekarno saat Lebaran

Kondisi Iran semasa baku gempur dengan AS, sebenarnya sudah mulai “terbiasa” hidup di bawah tekanan sanksi ekonomi Amerika. Buktinya, Iran bukannya lumpuh, malah makin kukuh mengejar kepentingan dalam dan luar negeri mereka sendiri. Salah satunya adalah, kerja sama ekonomi yang makin mesra antara Iran dengan Rusia. Kedua negara ini memegang peranan kunci sebagai pemasok energi dan gas ke Uni Eropa. 

Dalam urusan gas, Iran dan Rusia berperan sebagai rantai pemasok utama sekaligus pemrakarsa terbentuknya “Forum Negara-negara Pengekspor Gas” dengan prakarsa Iran dan Rusia. Kerja sama ini kemungkinan bakal lebih mesra dan masif, mengingat pada medio Oktober lalu (14/10/2019), Iran menemukan cadangan gas alam baru, berkapasitas produksi hampir 400 juta barel kondensat gas. Produksi tersebut bakal bisa menggendutkan kocek Iran dengan dolar sebesar total US$ 40 miliar (Rp 565 triliun).

Pengumuman yang disampaikan oleh Wakil Direktur Pelaksana Perusahaan Minyak Nasional Iran, Reza Dehghan dalam konferensi pers itu menyatakan bahwa ladang gas alam bernama Eram itu terletak di dekat Teluk Persia. Ladang yang menampung sekitar 19 triliun kaki kubik gas tersebut, tepatnya di provinsi barat daya Fars.

Saat ini saja, meski Eram belum masuk tahap eksploitasi, Iran sudah berada pada peringkat ke-4 di antara negara-negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia. Bukan tidak mungkin, bila cadangan gas setara 159 miliar barel hidrokarbon itu yang menjadi udang di balik batu atas segala kisruh antara Iran dan AS.

Apa Reaksi Anda?
Bangga
2
Ingin Tahu
5
Senang
1
Terhibur
2
Terinspirasi
2
Terkejut
1
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top