Sedang Membaca
Bulan Kemerdekaan, Kado Wapres, dan Robohnya Surau Kami
Daviatul Umam
Penulis Kolom

Penulis kelahiran Sumenep, Madura. Alumni Pondok Pesantren Annuqayah daerah Lubangsa, Guluk-guluk, Sumenep. Kini tinggal dan bekerja di Yogyakarta.

Bulan Kemerdekaan, Kado Wapres, dan Robohnya Surau Kami

Pelagandong

Ketika bulan Agustus (hampir) tiba, otomatis yang pertama kali tebersit di benak kita adalah bulan kemerdekaan. Bendera merah-putih yang mulai berkibar di mana-mana seakan menegaskan suasana semangat juang empat-lima. Kita juga disuguhi pemandangan siswa-siswi berlatih gerak-jalan. Masyarakat menghias jalan perkampungan dengan bendera dan lampu-lampu. Lomba Agustusan pun digelar. Namun, di mata sebagian orang, perayaan sebatas perayaan. Kehidupan yang humanis dan demokratis hanyalah utopia.

Memang, jelas-jelas kita sudah lepas-bebas dari jeratan kolonialisme. Tapi pertanyaan semacam “apa makna merdeka yang sebenarnya?” atau “apakah hakikat dari kemerdekaan itu?” masih terus digaungkan oleh kelompok idealis tertentu. Hal itu tentu bukan tanpa asas yang eksplisit. Setidaknya kita bisa menerka, bahwa pertanyaan di atas lahir dari ketidakpuasan mereka terhadap kebijakan rezim ini ataupun kondisi bangsa yang kian memprihatinkan.

Di tengah maraknya tuntutan keadilan—baik yang dilakukan melalui demonstrasi, petisi, grafiti, spanduk, maupun tulisan di media—alih-alih kita dapat jawaban menjanjikan atas berbagai kritik dan protes, justru baru-baru ini salah satu petinggi negeri mengiming-imingi kita sesuatu yang sangat jauh dari nalar bangsa. Sebagaimana terlansir dalam sejumlah media pada awal Agustus lalu, Bapak Wapres menyatakan bahwa kelak penghuni surga mayoritas adalah WNI. Alasannya simpel, karena di Indonesia-lah pemeluk Islam terbanyak.

Baca juga:  Kebaikan dan Kesalehan

Pernyataan tersebut konon disampaikan dalam tausiahnya pada acara Zikir dan Doa Kebangsaan 77 Tahun Indonesia Merdeka di halaman Istana Merdeka, Jakarta (1/8/2022). Entah sekadar kelakar atau perkara serius yang memang wajib disampaikan, sehingga tak sedikit media meliputnya seolah-olah itu poin paling signifikan dari tausiah beliau, saya rasa tak ada relevansinya bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Malah bukan tidak mungkin menimbulkan kecemburuan bagi saudara kita yang memeluk keyakinan lain.

Siapa, sih, yang belum tahu kalau Wapres kita seorang kiai, seorang ulama? Tapi sebagai sosok pemimpin bangsa yang penduduknya beraneka-ragam, bicara di depan publik dengan mengangkat harkat satu agama di antara agama yang lain sangatlah tidak elok. Terlebih, Istana Merdeka bukan masjid, bukan mimbar khotbah, bukan panggung halal-bihalal. Dan tentu saja itu akan beda cerita, pun tidak menjadi persoalan apabila dilakukan di tempat dan waktu yang tepat.

Dampak lain yang kemungkinan muncul dari cacatnya isi kado Kiai Ma’ruf Amin ini untuk HUT republik kita, yakni makin masifnya prinsip beragama yang overdosis. Orang akan merasa dirinya sangat layak masuk surga karena setiap hari selalu mengucapkan kalimat tauhid. Orang akan merasa dirinya paling pantas masuk surga karena telah mengerjakan amal saleh yang berlimpah. Orang akan merasa agama yang dianutnya paling suci dan menganggap hina agama lain. Orang akan merasa senang dengan cukup taat beragama dan melalaikan tanggungjawabnya yang lain sebagai makhluk sosial.

Baca juga:  Di Ambang Intifada Ketiga

Bukan suatu hal yang mustahil kalau ternyata jenis orang-orang seperti itu ada di tengah-tengah kita. Bahkan ternyata orang terdekat kita. Mereka terus merawat pola pikir yang timpang. Surga menjadi satu-satunya tujuan fundamental dalam beribadah. Dan tidak mustahil pula jika pernyataan seorang figur publik tertinggi sekaligus terhormat seperti Kiai Ma’ruf diterimanya sebagai bentuk dukungan.

Sejak berita tentang ‘Wapres-Surga’ itu beredar sebelum akhirnya menggemparkan warganet, refleks saya teringat akan Robohnya Surau Kami, cerpen A.A. Navis. Diceritakan, hiduplah seorang kakek penjaga surau yang seluruh waktunya hanya digunakan untuk menyembah Allah, memujaNya, membaca kitabNya, hingga datang seorang pembual bernama Ajo Sidi.

Ajo Sidi bercerita kepada Kakek bahwa suatu hari nanti, di hari pemeriksaan, Allah mendapati seseorang, Haji Saleh namanya, yang begitu yakin bakal masuk surga lantaran merasa amal ibadahnya di dunia sudah komplet. Namun celaka, justru Allah menceburkannya ke neraka. Tidak terima atas keputusan Tuhan yang disembahnya seumur hidup, Haji Saleh menuntut. Maka Allah membeberkan dosa besar Haji Saleh yang tidak disadarinya;

Haji Saleh terlalu egoistis. Cuma taat beribadah tapi pemalas. Harta-bendanya dibiarkan dirampas orang lain. Tidak peduli kehidupan anak-istrinya, kaumnya, saudaranya sesama manusia, sehingga mereka melarat dan kucar-kacir. Suka berkelahi, saling menipu, saling memeras antar sesama.

Baca juga:  Hidup adalah Perjalanan Makna

Begitulah cerita singkatnya. Kendati fiksi belaka, karya cerpenis kelahiran Padang Panjang yang sempat kontroversial ini sangat mewakili citra bangsa kita. Di mana umat beragama saling bersitegang urat leher, baku-hantam sebab disparitas politik, tanah warisan dijual ke tangan asing (sebagian lagi malah dijarah secara paksa maupun samar-samar), malas bekerja (atau karena sulitnya lapangan kerja), kepincangan sosial merata sementara korupsi merajalela, pelecehan/kekerasan seksual berkedok agama, dan masih banyak lagi problem yang susah terpecahkan seperti halnya terorisme.

Terlepas dari konteks surga-neraka, cerpen tersebut menegur kita agar tidak serta-merta mengandalkan agama atau ibadah yang kita amalkan sebagai pencapaian manusia yang paripurna. Kita mesti rajin-rajin menoleh ke samping dan ke belakang untuk mereka yang terpinggirkan dan yang tertinggal. Lebih-lebih ada anggota keluarga yang harus dinafkahi sebagaimana mestinya. Menjaga persaudaraan, menghargai kebinekaan, menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila menuju masa depan yang benar-benar merdeka.

 

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top