Sedang Membaca
Belajar Ilmu Logika: Aturan Sebab Akibat dalam Islam
Dina Amalya Lapele
Penulis Kolom

Pengajar di IAIN Ambon

Belajar Ilmu Logika: Aturan Sebab Akibat dalam Islam

Sejarah Islam

Ilmu logika merupakan ilmu yang umum dipelajari khususnya dalam matematika. Secara Etimologis, logika berasal dari kata Yunani logike (kata sifat) dan kata bendanya adalah λόγος (logos) yang berarti hasil pertimbangan akal pikiran yang diutarakan lewat kata dan dinyatakan dalam bahasa. Sebagai ilmu, logika mempelajari kecakapan untuk berpikir secara lurus, tepat, dan teratur.

Salah satu topik yang dipelajari dalam ilmu logika yaitu implikasi. Terdapat buah pernyataan P dan Q. Misalkan, pernyataan P menyatakan “Saya belajar” dan pernyataan Q menyatakan “Saya lulus ujian”. Kedua pernyataan ini jika dihubungkan dengan operasi implikasi menjadi “Jika saya belajar maka saya lulus ujian”. Pernyataan P kita sebut sebagai sebab dan pernyataan Q kita sebut sebagai akibat. Artinya, “saya belajar” merupakan penyebab sehingga berakibat “saya lulus ujian”.

Ada empat kemungkinan kombinasi pernyataan P dan Q beserta nilai kebenarannya.

Kemungkinan Pertama

Jika P benar dan Q benar, maka implikasinya bernilai BENAR. Dalam ilustrasi di atas, “Jika saya belajar maka saya lulus ujian” bernilai BENAR. Hal yang dapat kita pelajari dari logika implikasi ini adalah jika benar menghasilkan benar hal itu adalah benar. Sederhananya, jika kita berbuat benar/baik sehingga kita mendapatkan sesuatu yang benar/baik maka hal itu benar adanya sesuai dengan pandangan Islam.

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Zalzalah : 7 “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya”. Selain itu, dalam QS. Ar-Rahman : 60 juga dijelaskan “Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula)”.

Baca juga:  Terkait Papua, Presiden Jokowi Diharapkan Mencontoh Presiden Gus Dur

Kemungkinan Kedua

Jika P benar dan Q salah, maka implikasinya bernilai SALAH. Dalam ilustrasi di atas, “Jika saya belajar maka saya tidak lulus ujian”, hal itu tentulah salah. Orang yang belajar tentu akan lulus ujian. Sederhananya, jika kita berbuat benar/baik kemudian kita mendapatkan sesuatu yang buruk/salah maka itu tidak sesuai dengan pandangan Islam.

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Qashas ayat 84 yang artinya “Barangsiapa datang dengan (membawa) kebaikan, maka dia akan mendapat (pahala) yang lebih baik daripada kebaikannya itu.” Ayat ini menyatakan bahwa yang baik tentu berakibat baik, bukan berakibat buruk. Jadi tentulah dapat dipahami bahwa mengerjakan sesuatu yang benar/baik tidak akan pernah berakibat salah/buruk.

Kemungkinan Ketiga

Jika P salah dan Q benar, maka implikasinya bernilai BENAR. Dalam ilustrasi di atas, “Jika saya tidak belajar maka saya lulus ujian”. Sekilas hal ini sepertinya terlihat tidak adil. Tetapi terkadang hal ini terjadi dalam hidup, bahkan mungkin pernah kita alami. Ketika kita berbuat buruk/salah terkadang kita tetap mendapatkan kebaikan.

Dalam Islam, ketika kita berbuat keburukan tetapi tetap diberi kebaikan oleh Allah maka hal itu disebut istidraj. Di dalam tafsir al-Jami’ li Ahkami al-Qur’an Imam al-Qurthubi menjelaskan bahwa nikmat yang diberikan Allah kepada orang yang diberi istidraj adalah ketika orang tersebut melakukan satu kemaksiatan, maka Allah beri langsung nikmat kepadanya.

Baca juga:  Evolusi, Manusia, hingga Gus Baha

Penjelasan mengenai istidraj terdapat dalam QS. AL-A’raf : 182 yang artinya “Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui”. Jadi dapat kita pahami bahwa jika kita berbuat salah/buruk tetapi kita mendapatkan hal baik sesungguhnya kita sedang diberi istidraj oleh Allah.

Kemungkinan Keempat

Jika P salah dan Q juga salah, maka implikasinya bernilai SALAH. Dalam ilustrasi di atas, “Jika saya tidak belajar maka saya tidak lulus ujian”. Hal tersebut merupakan hal yang benar dan seimbang. Dalam kehidupan jika kita berbuat salah sehingga kita mendapatkan sesuatu yang salah, itu adalah suatu hal yang pasti. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Zazalah : 8 yang artinya “Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan sekecil apapun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula”.

Dari penjelasan di atas dapat kita pahami bahwa ilmu yang kita pelajari selama ini tanpa kita sadari telah dijelaskan dalam Al-Qur’an jauh sebelum teori ilmu itu dipublikasikan. Maka demikian penting bagi kita untuk selalu senantiasa mengkaji Islam dengan baik agar mampu mempelajari dan menggunakan ilmu dengan bijaksana.

Referensi

Siang, Jong Jek. 2002. Matematika Diskrit dan Aplikasinya pada Ilmu Komputer. Penerbit Andi : Yogyakarta.

Baca juga:  Deklarasi Abu Dhabi: Seruan Perdamaian Paus Fransiskus dan Imam Besar Al-Azhar

Munir, Rinaldi. 2003. Matematika Diskrit. Edisi Ke-2. Penerbit Informatika : Bandung.

Febriani, Dina Fitri & Zubir, M.. 2020. Istidraj dalam Al-Quran Perspektif Imam Al-Qurthubi. Istinarah: Riset Keagamaan, Sosial dan Budaya. Vol. 2 (1).

Ramadhani, Fitri. 2018. Konsep Evaluasi Pendidikan dalam Alquran Surah Az-Zalzalah. EDU RILIGIA: Vol. 2 (2) April – Juni.

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top