Sedang Membaca
Manis-Pahit Kenangan AC Milan dan Angan Kejayaan Khilafah
Penulis Kolom

Penggiat isu-isu kedamaian dan sosial di Kindai Institute Banjarmasin

Manis-Pahit Kenangan AC Milan dan Angan Kejayaan Khilafah

46633d99 9006 49d0 Bb50 273c1287ed30

“Membenci dan mencemburui masa lalu adalah hal yang melelahkan. Kita takkan pernah bisa mengubahnya, kita hanya bisa belajar darinya.” tulis Fiersa Besari.

Untaian kata dari sosok yang diidolai banyak anak muda ini bisa saja bagai godam bagi pendukung AC Milan. Pukulan tersebut dikhususkan pada Milanisti, sebutan pendukung AC Milan, yang masih belum menerima posisi klub yang mereka dukung tidak lagi tersemat klub penantang Scudetto (Juara Liga Italia).

Fakta Milan sebagai klub besar tentu dipertimbangkan ulang, tak sekedar posisi di Liga Italia yang selalu gagal masuk ke empat besar, secara permainan klub bermarkas di San Siro tidak lagi seganas di akhir 90an hingga medio 2000. Memang Milan kala itu tak dapat dipungkiri sebagai klub besar. Berbagai tropi dari dalam negeri, regional hingga dunia direngkuh dengan bermaterikan pemain hebat.

Sebut saja, Andrea Pirlo, Andriy Shevchenko, Rui Costa, Olivier Bierhoff, Clerence Seedorf, Gennaro Gattuso, Alesandro Nesta hingga Paolo Maldini membuat klub lain tentu tidak bisa memandang Milan dengan sebelah mata. Momentum Yunani di tahun 2007 bisa menjadi puncak performa klub merah-hitam itu, juga mungkin salah satu momen paling dikenang banyak Milanisti, karena keberhasilan klub mampu membalas dendam atas Liverpool dalam tragedi Istanbul.

Ya, mimpi buruk bagi AC Milan kala di Istanbul, final Liga Champions dua tahun sebelumnya. Bagaimana tidak, AC Milan sebelumnya telah unggul tiga gol tanpa balas di babak pertama, harus gagal merengkuh trofi “kuping besar” (sebutan untuk piala Liga Champions) karena urung mempertahankan keunggulan dan kalah di adu penalti. Sebagai fans Milan, saya terpukul karena percaya saat itu seharusnya Maldini dkk. seharusnya bisa melengkapi gelar Champions menjadi tujuh.

Baca juga:  Jakarta Maghrib: Kritik Sosial hingga Religiusitas Masyarakat Jakarta

Di Yunani, AC Milan mampu membungkam Liverpool dengan skor 2-0. Dendam itu terbalas tuntas dua tahun kemudian di Negeri para Dewa. Momentum heroik inilah yang mungkin selalu diingat Milanisti di seluruh dunia. Pasca Yunani, Milan seakan sedang menggali kuburan bagi kebanggaan bagi klub, manajemen hingga para fans.

Lihat saja penampilan AC Milan melawan Atalanta, 23 Desember 2019, sangat memalukan. Segala lini permainan kalah telak dari tim yang sedang bersinar di Liga Champions, kompetisi yang selalu dibanggakan oleh fans AC Milan. Kekalahan lima gol tanpa balas dari Atalanta tentu tidak bisa dibantah adalah fakta yang menyakitkan dan tidak bisa diterima.

“Kemana hilangnya permainan AC Milan yang hebat?” pertanyaan ini melintas di benak saya. Ejekan demi ejekan harus diterima di lingkaran pertemanan sehari-hari karena dulu sering membanggakan AC Milan dengan raihan trofinya, sekarang malah bagai tim tanpa ada keinginan untuk menang. Sabar dan membiarkan dulu pihak klub AC Milan dan manajemen bertungkus lumus lewat cara-cara yang tak terduga, dengan hasil-hasil yang membelalakkan mata dan menusuk hati.

Redam dulu keinginan melihat Milan bisa kembali berjaya dalam waktu dekat. Kebahagiaan akan datang pada saat yang tepat; cepat atau lambat. Mungkin hanya ini opsi terbaik bagi Milanisti, karena jika kita belajar dari bait kata dari Fiersa di atas, jika kita terlalu mencemburui masa lalu adalah sesuatu yang melelahkan.

Baca juga:  Perusakan Situs Budaya Adat Dayak

Milanisti merindukan masa lalu AC Milan yang hebat itu tidak jauh berbeda dengan beberapa anak muda muslim, yang membentangkan spanduk bertulis “96 tahun tanpa Khilafah, Umat Islam tertindas” di bilangan Yogyakarta beberapa waktu yang lalu.

Diantara masa lalu yang selalu dibanggakan dan dicemburui dalam sebagian masyarakat muslim, adalah era khilafah, terutama masa Turki Usmani. Coba saja lihat di setiap awal Maret, sisa-sisa organisasi HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) yang sekarang bergerak klandestin (senyap atau bawah tanah) selalu memperingati keruntuhan kekhilafahan Turki Usmani di tanggal 3 Maret.

Mengenang keruntuhan Turki Usmani seakan telah menjadi agenda tetap bagi kelompok yang mengusung ide kekhilafahan total tersebut. HTI secara organisasi memang telah dihapus atau lebih tepatnya tidak ada izin lagi, tapi yang tertinggal dari tindakan Pemerintah Indonesia tersebut adalah gerakan ideologis bawah tanah dan imajinasi soal khilafah.

Hanya hal terakhir belum cukup mendapatkan perhatian dari banyak pihak terkait. Imajinasi soal khilafah telah menjelma jauh dari sekedar pesan-pesan ideologis yang dulu dikoar-koarkan oleh kalangan HTI dulu. “Islam adalah solusi” telah terlalu basi jika masih dijadikan objek kritik pada beberapa eks-HTI yang sekarang masih berkecimpung berdakwah di masyarakat muslim.

Elok kita melihat teori mimpi Sigmund Freud dan menghubungkannya dengan imaji khilafah. Mimpi bagi Freud merupakan pesan alam bawah sadar yang abstrak terhadap alam sadar, pesan-pesan ini berisi keinginan, ketakutan dan berbagai macam aktivitas emosi lain, hingga aktivitas emosi yang sama sekali tidak disadari. Tentu kita bisa melihat jelas mengapa para pengasong khilafah selalu mengkorelasikan pesan khilafah dengan keinginan dan ketakutan pada masyarakat muslim.

Baca juga:  NU dan Tanggungjawab Internasionalnya

Alam bawah sadar masyarakat muslim yang diisi dengan mimpi-mimpi akan kekhilafahan tersebut, malah mengabaikan apa yang paling penting dari menghadirkan masa lalu adalah belajar dari padanya. Kejayaan Islam sekarang bukan lagi saatnya dibangun lewat dominasi atau aneksasi wilayah, karena kolonialisme (baca: penjajahan) tidak lagi bisa diterima sebagai membawa budaya yang baik dari bangsa lain, tapi malah menimbulkan banyak bahaya bagi kemanusiaan sebagaimana yang ada.

Nilai-norma Islam yang baik sudah seharusnya menjadi lawan bagi kebobrokan dalam kemanusiaan, termasuk para penghisap darah rakyat, tanpa harus membedakan berbagai batas seperti agama, ras asal dan lain-lain. Islam harus hadir sebagai ideologi pembela bagi siapapun bukan malah menjadi mengedepankan dominasi lewat mayoritanisme, yang dihadirkan di kepala masyarakat muslim. (RM)

Fatahallahu alaihi futuh al-arifin

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top