Buku dan Faedah Penulisan/Pembacaan Bismillah

Avatar

20 Mei 1968, A. Hanafi MA (almarhum) pernah menyampaikan pidato ilmiah pada Dies Natalis ke-VIII (sewindu) Institut Agama Islam Negeri “Sunan Kalijaga’ Yogyakarta. Pidato itu berjudul “Segi Kesusasteraan pada Kisah-kisah Al-Quran”.

Sebelum pidato tersebut disampaikan, ia memberi salam pengantar pada rektor maupun hadirin, tanpa lupa mengucap bismillah (Bismillahirrahmaanirrahim: Dengan nama Allah, Maha Pengasih, Maha Penyayang).

Peristiwa itu terdokumentasi dalam buku Segi-segi Kesusastraan Pada Kisah-kisah Al-Qur’an (1984). Dimana, buku itu merupakan wajah baru dari pidato ilmiah Hanafi.

Dari peristiwa membaca itu, saya tahu dan ingat bahwa ucapan bismillah (merujuk pada pengucapan) atau basmalah (merujuk pada ilmu shorof) itu tercetak di lembar-lembar awal isi buku. Ucapan lisan tercetak itu meneroka pada saya, dan kemungkinan pembaca lain terhadap buku-buku lain. Entah itu buku agama, sosial, budaya, psikologi, sejarah, pendidikan, politik, sampai dengan ekonomi. Apakah dalam buku-buku itu juga terdapat ucapan bismillah—sebuah kata diucapkan/dituliskan di kalangan umat Islam?

Dari buku-buku itu, sepengetahuan saya hanya tercetak dalam buku-buku yang memaparkan dan membahas Islam. Dan, itu tak semua buku genre agama Islam, selalu diawali dan tercetak ucapan bismillah. Hanya sebagian (kecil) yang menuliskan, entah itu dari penulis buku, editor, penerjemah, maupun pihak penerbit.

Sebagai representasi kecil, buku-buku genre agama Islam telah saya ketahui ada cetakan ucapan bismillah, seperti buku garapan A. Hanafi (1984) di atas dengan penerbit Pustaka Alhusna; buku Humanisme: Antara Islam dan Mahzab Barat (cetakan ke-2, 1996) garapan Ali Syari’ati, penerbit Pustaka Hidayah; Sejarah Hidup Muhammad (cetakan ke-11, 2011) garapan Muhammad Husain Haekal, penerbit Litera AntarNusa; Sehari Bersama Setan (1991) garapan Ali ath-Thanthawi, penerbit Gema Media Pustaka; Pelajaran Surah Yusuf (2013) garapan Fuad al-Aris, penerbit Zaman; Islam, Ideologi Dunia dan Dominasi Struktural (1984) garapan Fachry Ali, terbitan Mizan; Insan Qur’ani (1994) garapan Wahiduddin Khan, terbitan Pustaka Mantiq; serta Kapita Selekta Kaligrafi Islami (1995) garapan H. Nurul Makin, terbitan Pustaka Panjimas.

Beberapa buku telah tersebutkan itu, terdapat ucapan-ucapan bismillah telah tertulis dan tercetak. Dan, ucapan itu cukup aneka ragam wujudnya. Yakni, wujud simbol kaligrafi, huruf latin Arab, dan kata terjemahan bahasa Indonesia.

Dari buku-buku itu, sebagian menarik perhatian saya. Buku pertama, yakni Sehari Bersama Setan. Di buku itu, selain ada ucapan bismillah tercetak (Bismillahirrahmaanirrahim), juga terdapat kata-kata (tepatnya, doa ta’awuz) di sampul belakang bagian bawah, tertulis begini:

Baca juga:  Sabilus Salikin (67): Tarekat Qadiriyah - Biografi Syaikh Abdul Qadir al-Jilani

“aku berlindung kepada Allah dari godaan syetan yang terkutuk”.

Buku kedua, Insan Qur’ani. Di dalam buku (bekas) itu, secara tersurat, memang tak ada ucapan bismillah. Sebaliknya, ucapan ini ada lewat tempelan kertas penanda nama dan nomor buku dari pengelola perpustakaan.

Jika melihat stempel di dalam buku, tempelan kertas penanda nama dan nomor buku tersebut berasal dari pihak pengelola perpustakaan mushola Fakultas Pertanian UNS (Universitas Sebelas Maret Solo), tulisannya, yakni: “bismillah” dan “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan (QS. Al-Alaq, 96:1)”. Dan, buku ketiga, yakni Sejarah Hidup Muhammad. Di buku itu (hal. xl), malah tercetak surat al-fatihah, dimana, ucapan bismillah ini merupakan salah satu ayat dalam surat itu.

Kalimah Bismillah di sampul belakang, ditulis dengan aksara latin

Lalu, kenapa sebagian buku itu tertulis dan tercetak ucapan bismillah, dan malahan, ada doa ta’awuz, serta surat al-fatihah?

Lewat Sayyid Qutb dalam tafsir al-qur’an fi zhilali’l-qur’an (1992), kita akan mengetahui basis dan makna ucapan bismillah, sekaligus surat al-fatihah. Beberapa pemaparan dan tafsir cukup panjang itu, kita setidaknya akan mengetahui bahwa basmalah/bismillah merupakan ayat dari surah al-Fatihah (hal. 24).

Adapun memulai dengan bismillah adalah adab disiplin yang diwahyukan Allah kepada nabiNya Muhammad saw pada waktu diturunkan Alquran pertama kali (hal. 25).

Baca Juga

Dan, jika memulai dengan bismillah dengan semua kandungannya berupa tauhid dan disiplin, merupakan pola umum pertama dari konsepsi Islam; maka kedua sifat ar-Rahman ar-Rahim dengan seluruh pengertian rahmat, adalah pola umum kedua dari konsepsi Islam; dan sekaligus menjelaskan hakikat hubungan antara Allah dan hambaNya (hal. 25-26).

Dari sini, pembaca (kita) berikhtiar memahami bahwa dihadirkan/diucapkan/dituliskannya bismillah di luar ibadah salat, khususnya ada di buku-buku, itu merupakan adab, disiplin, maupun pengingat bagi penulis/penerbit (dan pada nantinya mengingatkan pada pembacanya) untuk tak lupa/abai mengingat Sang Pencipta.

Dan malahan, lewat H. Nurul Makin dalam Kapita Selekta Kaligrafi Islami (1995), dipaparkan begini, “Basmalah adalah lafadz yang seyogyanya diucapkan kaum Muslim untuk memulai aktivitas mulia dalam kehidupannya, (dan) Rasulullah telah mengisyaratkan hal tersebut dalam hadits yang artinya: “Tiap-tiap pekerjaan yang tidak dimulai dengan Bismillah adalah sia-sia.”

Sedangkan, adanya doa ta’awuz dan Al-Fatihah di beberapa buku, kita pun berikhtiar memahami bahwa itu dihadirkan/diucapkan/dituliskan dalam buku, yakni selain merupakan adab, dan ikhtiar menghindari dari godaan setan (bisa kita artikan ‘jalan sesat’, ‘keburukan’, atau ‘kejahatan’), juga merupakan ‘syiar dan pengarahan umat’ (Sayyid Quthub, 1992: 24). Ini bisa kita simak dan renungi dari terjemahan surat Al-Fatihah (ayat 1-7), sebagai berikut.

Baca juga:  Sabilus Salikin (116): Zikir dan Doa Tarekat Alawiyah

“Dengan nama Allah, Maha Pengasih, Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Maha Pengasih, Maha Penyayang. Penguasa hari akhirat. Hanya pada Engkau kami menyembah, dan hanya pada Engkau kami mohon bantuan. Tunjukilah kami ke jalan lempang. Jalan orang-orang pernah Engkau beri nikmat; bukan orang-orang pernah Engkau marahi, dan bukan pula orang-orang sesat jalan.”

Dari pemaparan di atas, seyogyanya, kita pun pantas memulai, mengucap, menulis bismillah; atau mengucap doa ta’awuz; atau malahan al-fatihah sebelum berperistiwa demi kebaikan, salah satunya ketika akan membaca. Tak mustahil pula bacaan itu mendatangkan keramat dan berkah.

Lihat Komentar (0)

Komentari