Buku Harian Kiai Mustain Romly

Binhad Nurrohmat

Sejak muda, Kiai Mustain Romly memiliki tradisi menulis berbahasa Indonesia, Arab, dan Inggris serta tradisi aksara pegon. Buku harian Kiai Mustain merekam tradisi tulisnya yang bertitimangsa 1950-an, saat ia berusia 20-an tahun.

Pada awal usia 50, Kiai Mustain Romly mengatakan di hadapan istri dan putrinya bahwa ia masih punya angan-angan yang belum tercapai yaitu menulis buku.

Kesibukan Kiai Mustain Romly kala itu sebagai kepala keluarga, kiai, mursyid, rektor, dan anggota parlemen pusat bisa jadi tak meluangkan cukup waktu dan kondisi yang dibutuhkannya untuk menulis buku.

Sang istri kemudian mengatakan kepada Kiai Mustain Romly bahwa suaminya itu telah banyak peran dan kesibukan. “Ojo mbok pek kabeh to, Mas,” ujar sang istri.

Buku harian merupakan pintu lain yang terbuka tatkala yang lainnya tertutup rapat. Buku harian hadir dengan tulisan tangan yang bisa menumbuhkan kenangan dan kesan mendalam yang personal.

Pikiran dan perasaan yang mengendap bisa leluasa mengemuka secara personal di buku harian dan tak hadir atau tak ditemukan di tempat lain. Buku harian seperti suara dari masa lain yang tersembunyi dan tersimpan

Yang tak diketahui melalui catatan sejarah resmi, pengakuan pribadi maupun testimoni tentang seorang tokoh publik tak jarang bisa diketahui melalui buku hariannya.

Kiai Mustain Romly mulai dikenal khalayak luas di dunia pesantren, tarekat, dan perguruan sejak 1960-an. Kiai, mursyid dan rektor merupakan predikat cemerlang yang melekati namanya. Ia juga politikus kontroversial pada masanya.

Namun tak sedikit sisi dari Kiai Mustain Romly yang tak ketahui orang lain atau khalayak luas padahal penting dan berharga bagi siapa saja dan masih tersimpan di buku hariannya. Haru dan jenaka, juga kesedihan hadir dalam buku harian Kiai Mustain Romly ketika muda.

Baca Juga:  Menelusuri Jejak Gus Dur di Tegalrejo (1957-1959)

Di lembaran buku harian Kiai Mustain Romly terlekat potret hitam-putih ayahnya, Kiai Romly Tamim, yang berdiri seutuh badan di halaman masjid Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso, Jombang. Masjid itu masih berdiri sampai sekarang dan telah mengalami pelembaran bangunan.

Bangunan asrama santri putra tertua di Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso, Jombang, pada 1950-an. (foto: dok. penulis)

Di latar belakang potret di halaman masjid itu beberapa remaja berpeci hitam dan bersarung berdiri santun di arah kanan-kiri Kiai Romly Tamim sehingga beliau tampak berada di tengah-tengah di antara para santri.

“Do you know who in the middle picture?” tulis Kiai Mustain Romly di bawah potret hitam-putih ayahnya itu.

Di bawah tulisan berbahasa Inggris di buku harian itu, Kiai Mustain Romly menerakan kata-kata dalam tiga baris pendek pesan Kiai Romly Tamim: “Gembirakanlah hendaknya orang lain itu, kalau tidak janganlah menyusahkannya” dan di halaman lain buku hariannya ia mencatat pesan lain ayahnya bahwa, “Manusia hidup yang tiada ilmu, tiada beruang tiada berguna.”

Baca Juga

Masjid Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso Jombang di masa lalu. (foto: dok. penulis)

Selain potret saudara-saudaranya dan sebagian kondisi Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso, Jombang, di buku harian Kiai Mustain Romly juga tersimpan sebuah potret saat ia dan teman-teman semasa kuliahnya di Kuliiyatul Mubalighin NU Semarang bertamasya di pantai.

Di atas potret anak-anak muda yang bertamasya itu, Kiai Mustain Romly menuliskan baris-baris kalimat serupa sajak. Demikian nukilannya:

…students of K.M.N.U.
sedang tamasya
menghirup udara
ciptaan yang maha kuasa.

Riang gembira tiada sudah payah
menyaksikan alam fana
langitnya, buminya, lautnya, pantainya
sambil gembira bergurau menghibur
hati, berjalan, tidur, makan.
Bukankah hidup begini?

Mustain Romly muda juga mengguratkan tulisan di buku harian tentang ayah, ibu, dan orang lain yang dikaguminya. Rasa haru, harapan dan gelisahnya ia curahkan di lembaran-lembaran yang polos, tak bergaris.

Baca Juga:  Misteri Pertemuan Imam Ibnu Malik dengan Ibnu Mu’thi

Buku harian Kiai Mustain Romly di masa muda itu menyimpan sebagian garis-garis awal hidup sebagai pribadi pada masa-masa pembentukan dan proses pematangan diri.

Lihat Komentar (0)

Komentari