Sedang Membaca
Sardono W. Kusumo: Perlawanan Kultural adalah Kunci
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Sardono W. Kusumo: Perlawanan Kultural adalah Kunci

Benny Benke

Tetiba saya ingin mengenang Mas Don. Ya, Sardono W. Kusumo. Tentu saja lewat jejak serakan tulisan saya, yang tersebar dalam beberapa kala. Saya ingin memuliakan Mas Don, sekaligus mendoakan kesehatannya via tulisan ini, agar senantiasa menjadi salah satu penjaga marwah Indonesia dan keindonesiaan, dengan ketajaman dan kedalaman intuisinya.

Kerana, atas nama intuisi Mas Don bisa melakukan apa saja dari “sekadar” keahliannya menari.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Buktinya, ia mampu mensinergikan keahliannya menari manakala bersua dengan maestro piano klasik Ananda Sukarlan.

Mundurkanlah sejenak memori Anda pada akhir 2004, ketika kecanggungan tiba dan menjadi sebuah keniscayaan, kala dua ranah kesenian yang berbeda disepanggungkan dalam sebuah pergelaran.

Yaitu antara dunia tari Sardono dan ranah musik klasik yang sangat dikuasai Ananda Sukarlan.

Hasilnya, pertalian yang memungkinkan perkawinan di antara keduanya terjadi dengan apik, meski hanya berlandaskan intuisi.

Ya, saat itu, maestro tari Sardono W Kusumo dan Ananda Sukarlan berkolaborasi dalam kerja kesenian bertajuk, Ananda dalam Hutan Plastik di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 14-15 Oktober 2004.

Saat ini, Sardono melandasi kerja intuisinya dengan mengatakan, ”Ini bukan masalah siapa yang akan menyesuaikan dengan siapa. Namun kami saling merespons dengan interpretasi masing-masing perihal tema yang kita sepakati,” katanya sebelum lakon dipertontonkan.

Maka, di atas panggung berlatar gemawan plastik raksasa, yang digantungkan di atas langit-langit pertunjukan, Ananda Sukarlan merespon ‘lawan mainnya’ dengan permainan piano.

Itulah komposisi Penghayatan Bulan Suci’ (Trisuci Kamal/1984) yang melipat waktu pertunjukan sepanjang 120 menit.

Komposisi Penghayatan Bulan Suci, kata Ananda kala itu, diamainkan, “Sekaligus untuk menyambut datangnya Ramadan,” katanya.

Lalu ia membawakan suita dalam tiga bagian; “Ramadan”, “Malam Takbir”, dan “Idul Fitri”. Sampai di situ, repertoar yang menjual tiket termahalnya seharga Rp 250 ribu itu masih berjalan dengan kewajaran. Hingga tiba saatnya Ananda mulai memainkan komposisi “Jangan Lupa” (Gareth Farr).

Nah, dari sinilah intuisi Ananda, juga mulai menjawab tantangan intuisi Sardono, dengan pianonya. Sehingga, berkat kekayaan dan kedalaman pemaknaan musikalitasnya, pelan-pelan musik mengantarkan penonton ke sebuah peristiwa penikmatan yang kita kenal dengan diksi: melenakan.

Tak ayal, arena pertunjukan yang nyaris disesaki penonton itu hening dan senyap hingga denting terakhir tuts piano menyudahi reportoar.

Di tangan alumnus Royal Conservatory of Music Den Haag, Belanda itu, musik telah mampu mengekspresikan hal-hal yang sudah tak terungkapkan lewat kata-kata.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

”Termasuk hal-hal spiritual yang tidak dapat diterjemahkan dengan akal. Ia hanya dapat dirasakan,” ujar Ananda Sukarlan, saat itu. Dia melanjutkan, intuisi lebih diutamakan dalam pertunjukan saat itu, daripada sekadar logika. Apalagi ketika para penari, yang dikoreografi Sardono, yang mengisyaratkan keberadaan hutan, mulai unjuk panggung.

Puncaknya, ketika representasi kehidupan telah disesaki segala hal berbau plastik menyeruak ke atas panggung, para penari yang berbalut plastik, hingga para waria yang telah terkena dampak plastik (dengan operasi plastiknya) menunjukkan maujudnya.

Semua pergerakan penari itu dilaraskan dengan komposisi klasik Love Songs (Gareth Farr), Prelude in C, op 87 no 1 (Dmitri Shostakovic), It’s Snowin in Bali (Polo Vallejo), Invenciones, Short Pieces for Children (Jesus Rueda), hingga Alio Modo (David del Puerto).

Sungguh, sebagaimana paparan Ananda, pagelaran itu langsung dapat berkomunikasi dengan lubuk hati terdalam, lepas dari segala bentuk kepercayaan, agama, dan latar belakang budaya penikmatnya.
Apalagi, Sardono yang sesekali menyeruak ke atas panggung, menggiring suasana menjadi sangat cair, penuh nuansa humor, ringan tanpa kehilangan ketakziman.

Intuisi benar-benar membuktikan tajinya dalam pergelaran yang dihasilkan perkawinan dua intuisi mapan milik maestro tari Sardono W. Kusumo dan maestro piano klasik Ananda Sukarlan.

Maka, Slamet Rahadjo Djarot dan Christine Hakim yang berada di tempat pertunjukan, bersama ratusan penonton lainnya, atas nama panggilan hati mereka, memberikan sorak yang panjang saat pertunjukan purna.

Sardono pada sebuah kesempatakan pernah mengatakan, “Dalam dunia tari, diam adalah puncak dari gerak tari,” dan itu bekerja dalam lindungan intuisi.

Oleh karena itu, sejumlah karya puncaknya seperti Samgita Pancasona (1968), Sumantri Gugur (1971), hingga Soloensis (1999), sepengakuannya dibuat karena panggilan jiwa. Pada Agustus 2007 kepada penulis, Sardono banyak berbicara tentang intuisi dan perlunya pemuliaan harga diri manusia.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Saat itu, pada sebuah siang, di lingkungan Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta, ketika ia masih menjabat Rektor Institut Kesenian Jakarta (IKJ), dengan gelar Prof di depan namanya, Sardono berbicara tentang perspektif kebudayaan Indonesia, serta berbagai fenomena yang menyertainya.

Baca juga:  KH Hasyim Asyari: Pak Tani itulah Penolong Negeri

Atas nama intuisi pula, ia bisa berbicara tentang apa saja, tanpa harus kehilangan makna kedalaman. Dari makna kemerdekaan sampai nasionalisme. Juga tentang karya-karya utamanya semacam Opera Diponegoro dan Hutan Plastik.

Apakah semua itu merupakan sikapnya dalam menghargai kemerdekaan dan nasionalisme?

Berikut, sepengingatan saya, hasil perbincangan saya, dengan salah satu maestro, empu yang masih tersisa di Indonesia.

Bangsa Indonesia kian tidak merdeka, katanya. Terikat pada kekuatan asing dan tak memiliki kedaulatan sepenuhnya. Dalam perspektif kebudayaan, apakah masih mungkin kita, menjadi bangsa yang merdeka dalam berbagai aspek?

“Indonesia justru tidak terlalu terjajah,” katanya. Ia mengatakan hal itu, karena mengaku sudah berjalan dari ujung Papua hingga ujung Aceh. Atau paling tidak ,di wilayah perkotaannya. Sehingga ia dapat menyimpulkan, kalau dalam pengertian kebudayaan dalam arti luas, Indonesia tidak terjajah. Bukti kongkretnya, Indonesia masih multikultural.

Sardono menganalogikan Indonesia sebagai sebuah ekosistem. Di dalam environment yang semakin kompleks, semakin ada diversitas jenis tanaman, ekosistemnya semakin kuat, karena selalu ada input, interaksi, dan kritik.

Makanya, ekosistem hutan tropis yang terdiri atas ribuan spesies akan membuatnya semakin kuat. “Meskipun dibakar, dia akan menyembuhkan dirinya sendiri,” katanya saat itu.

Semakin banyak pemikiran, kian banyak suku, akan semakin sustainable, kian berkelanjutan sistem kebudayaannya. “Makanya semakin kita mencoba menyatu-nyatukan, menyeragamkan, ia akan rontok dengan sendirinya sampai kapan pun,” katanya.

Dan, nasionalisme? Menurut koreografer yang sejak 14 Januari 2004 menjadi Guru Besar Institut Kesenian Jakarta (IKJ), itu kebudayaan ujungnya adalah peradaban.

Nasionalisme hanyalah salah satu bagian dari sebuah pencapaian. Seperti dulu, Solo berkembang karena ada ekonomi global, karena masuknya Belanda dan para pedagang China, yang membawa sistem ekonomi global saat itu.

Itu membikin Solo berubah dari Kerajaan Mataram menjadi sebuah kota. “Jadi, nasionalisme akan melekat dengan sendirinya jika peradaban kebudayaan juga terjaga.”

Lalu, pada saat ia menggarap sejumlah karyanya, misalnya Opera Diponegoro, apakah itu dapat diartikan ia sedang memberikan nasihat pada bangsanya, agar “berwawasan kebangsaan” sebagaimana Diponegoro?

Pesan dari sebuah lakon, apa pun itu, pasti ada, katanya. Khusus untuk Opera Diponegoro, “Sebenarnya pesan yang paling penting adalah antikolonialismenya.”

Kolonialisme itu datangnya tidak harus dari orang asing. Antarkita sendiri juga bisa. Nah, pada waktu itu Diponegoro sedang melakukan antikolonialisme itu. Pada zaman itu Indonesia belum ada, tapi kolonialisme ada. Kolonialisme datangnya bukan hanya dari Belanda, tapi juga diciptakan oleh kerajaan sendiri.

Nah, karena pendidikan Diponegoro tidak sepenuhnya dari keraton tapi juga banyak dari neneknya, maka dia dekat dengan rakyat.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Salah satu rekaman Babad Diponegoro versi Keraton Solo menyebutkan, Diponegoro adalah orang pertama yang menyadari adanya penjajahan, karena intuisinya tajam, saat terjadi pematokan tanah.

Rakyat pun kemudian mendatangi dia. Kepada rakyat Diponegoro bilang, “Lho, yang mematoki tanah itu para preman dan jawara yang bekerja untuk Belanda. Itu tanah kamu, hak kamu, jadi, lawan dong…! Nanti kalau tentara Belanda datang, saya akan berdiplomasi!” Di situlah empowering the society sudah dimunculkan.

“Jadi, Diponegoro tidak sendiri, dia menyadarkan, ini lho ada kolonialisme, dan yang bisa melawan ya masyarakat!” Oleh karena itu, inti perjuangan Diponegoro adalah penyadaran hak-hak masyarakat, dan otorisasi harus ada di masyarakat.

Itu lebih dasar dari sekadar melawan Belanda, karena dengan demikian rakyat sadar akan haknya, dan lebih berani mempertahankan dan merebut kembali hak mereka.

Sebagaimana diketahui, karya Sardono, termasuk Hutan Plastik, Passage Trough the Gong, Nobody’s Body, boleh jadi merupakan pembacaan ulang terhadap kemerdekaan dan nasionalisme.

Apakah sulit menumbuhkan rasa merdeka dan semangat kebangsaan lewat jalur pendidikan, sehingga Sardono pun menggunakan medium kesenian untuk menumbuhkan hal itu?

“Ya, itu karena saya hidup di dunia kesenian.” Tapi, kita harus berhati-hati bicara mengenai kebangsaan. Jangan-jangan kita sedang memperjuangkan kebangsaan Jawa. Jangan sampai kita terjebak, alih-alih memperjuangkan Indonesia, kita justru memperjuangkan kesektarianannya.

Inti perjuangan kemerdekaan itu basisnya adalah memperjuangkan manusia untuk berpikir merdeka. Dan Diponegoro telah melakukan itu, dengan memerdekakan manusianya.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Memerdekakan dalam arti yang lebih luas, yaitu memerdekakan dari penjajahan mitos. Itulah yang membuat Diponegoro menjadi “pahlawan budaya” bukan hanya pahlawan perang.

Dalam sebuah pupuh versi Diponegoro dikisahkan, pada suatu sore, ketika Diponegoro kalah perang, dia duduk di pendapa. Saat bersandar pada sebuah saka guru, tahu-tahu ada tiga perempuan datang. Para perempuan itu duduk di depannya tanpa menyentuh lantai pendapa, dan memperkenalkan diri sebagai, “Ratu Laut Kidul”.

Baca juga:  Haji Fachrodin, Pahlawan Media dari Muhammadiyah

Setelah itu Ratu Kidul berkata, “Pangeran jangan khawatir, nanti saya akan membantu pangeran dengan para prajurit saya. Tapi ada satu syarat: Mintalah kepada Allah agar saya dijadikan manusia lagi.”

Sesaat kemudian Diponegoro menjawab: “Matur nuwun saya mau dibantu. Tetapi saya itu mengikrarkan perang sabil, dan saya tidak boleh meminta bantuan kepada siapa pun kecuali kepada Allah. Dan yang kedua, permintaan Anda itu di luar wewenang saya, karena Allah tidak memberi perantara untuk hal-hal seperti itu.”

Setelah itu, dikisahkan Ratu Kidul lenyap. Inti dari cerita itu adalah, sebagai manusia kita tidak boleh dijajah oleh mitos-mitos yang sebenarnya juga sebentuk penjajahan dalam bentuk lain, karena dimanipulasi oleh orang sendiri.

Hal itu sekaligus menjadi pelajaran bahwa manusia dijadikan Allah sebagai makhluk merdeka, maka jangan mencari pertolongan selain kepada Allah. “Mitos bisa diakui tapi tempatkanlah ia dalam porsinya.”

Tapi, sejauh mana efektivitas mendidik bangsa lewat kesenian menurut maestro sekelas Sardono?

Sangat efektif. Selama kesenian jangan hanya diartikan sebagai tari, karena di balik tari itu ada kode-kode budaya, dan perjalanan yang panjang.

Sebagaimana kita melihat Diponegoro, di baliknya ada sastra, naskah yang dia tulis sendiri hampir 1.000 halaman. Dan, di balik naskah itu ada wawasan keagamaan, serta wawasan politik.

Persoalannya, bagaimana hal-hal seperti itu bisa masuk ke dalam sistem edukasi kita? Dr. Peter Carey, pengajar Ilmu Sosial Politik dari Universitas Trinity, pernah mengatakan kepada Sardono:

“Hampir 20 tahun saya observasi tentang kebudayaan Indonesia, terutama fokus pada kebudayaan Jawa, terutama lagi tentang Diponegoro. Saya heran, mengapa tidak ada kajian tentang politik Diponegoro, sistem perangnya, transformasi nilai dan lainnya? Mengapa itu tidak menjadi kajian ilmu?”

Oleh karena itu, Sardono punya saran budaya agar bangsa Indonesia bangkit dari keterpurukan. Bangsa ini harus mempunyai kesadaran bahwa apa yang kita lakukan adalah pemuliaan harga diri manusia. Siapa pun dia.

Apakah dia pemulung, tukang obat, atau pekerja lain. Kita harus pandai-pandai belajar, agar tidak selalu sembunyi di balik kehebatan masa lampau, yang seolah-olah kita warisi juga kehebatannya.

Memang ada Borobudur, keraton dan peninggalan bersejarah dan yang agung lainnya. Tapi dulu orang membangun dengan mencangkul.

Nah, apakah sekarang kita masih mau mencangkul lagi? “Kita hanya menikmati statusnya saja, dan dilenakan oleh masa lalu. Kita harus memiliki critical mind.”

Bahkan ketika lagu kebangsaan Indonesia Raya pada suatu masa pernah diributkan, Sardono juga mempunyai komentarnya sediri.

“Itu kerjaan orang-orang yang kurang kerjaan,” katanya. Serahkan saja masalah itu kepada Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) atau lembaga keilmuan lain, sehingga hasilnya bisa dipertanggungjawabkan.

Hal itu terjadi kerena kita tidak mempunyai critical mind. Seolah-olah yang dilontarkan langsung menjadi kenyataan.

Ya, seperti mitos, selain senang kepada isu, bangsa ini sering hidup di dalam mitos. “Itu menguras energi yang yang sebenarnya tidak perlu kita keluarkan,” katanya.

Jadi, jika berbicara tentang Indonesia dan keindonesiaan, berbicaralah kepada Sang Penari ini. Karena dia bisa melakukan apa saja, termasuk melakukan perlawanan kultural.

Seperti yang belum lama ini kembali diperlihatkan, ketika untuk kali kesekian, sebagai koreograger dan penari, Sardono memotret Diponegoro dalam sosok yang berbeda.

Dalam pertunjukan Opera Diponegoro versi 2011, itu ia menghadirkan sosok sang pangeran sebagai petani dan pemimpin yang gamang.

Sardono memberi pesan penting dalam lakon yang dipentaskan di Taman Ismail Marzuki, 11-13 November akhir 2011, lalu. Ia tak menghadirkan perlawanan sengit Diponegoro dengan pedang, tapi justru memunculkan adegan sang pangeran menunggu janji hadiah naik haji dari Belanda sambil menulis babad.

“Saya ingin menyampaikan, pertempuran terbaik terhadap penindasan apa pun, hanya bisa dilakukan dengan perlawanan kultural,” ujar Sardono.

Ia tak ingin sekadar menjadi koreografer pertunjukan, namun lebih sebagai pemikir kebudayaan.

“Pemikir yang menggunakan pertunjukan sebagai medium mengutarakan kebajikan-kebajikan,” lanjutnya.

Atau dalam bahasa sederhananya, ia ingin menyajikan kebajikan. Dengan memotret Diponegoro dalam sosok yang berbeda.

Malah dalam konteks yang lebih luas lagi, dalam Opera Diponegoro versi 2011, itu ia menghadirkan adegan-adegan yang menampakkan Diponegoro yang gamang, saat ia melihat mayat-mayat sanak kadangnya bergelimpangan di depan latar lukisan Merapi Meletus, dalam dua copy lukisan Raden Saleh yang masing-masing berukuran 3×5 meter.

Baca juga:  Gus Dur dan Cerita Silat Cina

Dalam Diponegoro versi terkininya itu, Sardono lebih menampilkan sang pangeran sebagai manusia yang tak punya hasrat kekuasaan.

Perang yang dilakukannya bukanlah perwujudan sesuatu yang oleh filsuf Nietzsche disebutkan sebagai “kehendak untuk berkuasa,” melainkan hasrat untuk menegakkan kemanusiaan dan kehormatan sebagai manusia.

Karena itu pula, tidak banyak adegan perang fisik seperti dalam pertunjukan Java War, 1825-0000. Segala pertempuran justru mengarah pada “pertempuran yang tak tampak.”

Ketika adegan Merapi meletus, misalnya, pangeran digambarkan dalam situasi tidur. Ketika dibangunkan, ia malah mengajak sang istri tetap di peraduan dan bercumbu. Itu tentu sebuah metafora untuk menyatakan betapa ada cara-cara yang sangat “kultural” untuk menghadapi chaos. Tak hanya dengan perang fisik.

Juga pada adegan terakhir setelah “pesta mabuk” para serdadu Belanda dan pembuangan dengan kapal hendak dilakukan. Sardono memberikan “pesan” penting dalam lakon itu.

Ia tidak menghadirkan perlawanan sengit Diponegoro dengan pedang, tetapi, sekali lagi, justru memunculkan adegan Diponegoro menunggu janji hadiah naik haji dari Belanda sambil menulis babad, menulis perlawanan dengan tulisan.

Intinya, melalui Opera Diponegoro 2011, Sardono ingin menyampaikan, pertempuran terbaik terhadap penindasan apa pun hanya bisa dilakukan dengan perlawanan kultural.

“Itu sebabnya kita memerlukan semacam hijrah kultural.” Agar sebagai “pemikir kebudayaan” ia dapat mengutarakan kebajikan-kebajikan.

Maka jangan heran, dalam pertunjukan Java War, 1825-0000 digelar pada ulang tahun Sang Pangeran, 11-11-2011, dan berlangsung selama tiga hari di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki.

Perang Diponegoro bukanlah sekadar perang personal Sang Pangeran terhadap kesewenang-wenangan Belanda, melainkan sebagai pertempuran sengit tak kunjung habis antara kemanusiaan dan kesewenang-wenangan yang lebih luas.

Bahkan, perang itu tidak hanya dalam bingkai teritorial sepetak tanah milik pangeran, tetapi meluas ke Jawa, Indonesia, dan akhirnya ke dunia.

Pertempuran juga tidak hanya terjadi pada kurun 1825-1830, melainkan ke masa tak terhingga, ke tahun 0000. Itu jelas mengisyaratkan sebuah never ending war, perang yang tak kunjung usai.

Identik dengan perubahan atau hijrah kultural yang tidak kunjung usai, karya-karya Sardono W. Kusumo yang terus bergerak dinamis, mulai dari Samgita Pancasona, Cak Tarian Rina, Dongeng dari Dirah, Hutan Plastik, Hutan Merintih, Passage Through the Gong, Awal Metamorfosis, serta Opera Diponegoro.

Yang memiliki ruang ekspresi kesenian yang semakin meluas, ditambah dengan melukis atau lebih tepat lagi “menari” dan menciptakan “koreografi” di kanvas.

Tidak berlebihan bila mas Don mengatakan, Opera Diponegoro, lebih tampak sebagai kisah yang berkembang tak berkesudahan.

“Saya menampik akhir, kematian, sekalipun panggung sudah ditutup, lampu-lampu tak dinyalakan, dan para penonton kembali ke rumah masing-masing. Opera Diponegoro akhirnya kian memosisikan diri sebagai kisah dengan coda yang tak rampung-rampung,” demikian pesannya.

Java War 1825-0000 menampilkan sejarawan Peter Carey, penulis The Power of Prophecy: Prince Dipanagara and The End of An Old Order in Java 1785-1855 (2008).

Carey juga membahas lukisan copy Penangkapan Diponegoro karya Raden Saleh berukuran berukuran 7×14 meter, yang dijadikan latar pertunjukan.

“Copy Raden Saleh memasukkan dirinya di tiga potret yang berbeda. Yang pertama menunduk, yang kedua memandang tegas ke arah Diponegoro, dan ketiga menatap para penyaksi lukisan,” ujar Carey.

Munculnya Peter Carey dan Raden Saleh, itu ingin mewartakan kepada khalayak, betapa sejarah tak berhenti sesaat setelah ia ditulis.

Sejarah terus bergulir ke berbagai arah – sebagaimana tatapan Raden Saleh dalam lukisan – tak hanya ke belakang, tetapi juga ke samping, dan lebih jauh lagi ke depan.

Demikian halnya dengan penataan musik. Tak hanya tembang-tembang Jawa. Sardono juga memunculkan Requiem karya Wolfgang Amadeus Mozart untuk mempertajam kisah tragis penangkapan Diponegoro.

Juga memasukkan kemegahan musik Wagner – yang pernah dipakai Francis Ford Coppola dalam adegan pengeboman di Vietnam dalam film Apocalyse Now – untuk memunculkan paradoks dan hasrat hidup di tengah-tengah bau kematian yang menyebar dalam adegan penangkapan Diponegoro oleh de Kock.

Dan, untuk melaraskan dengan nuansa kekinian, Sardono bahkan memberikan kemerdekaan kepada Iwan Fals untuk “menembangkan” autobiografi Pangeran Diponegoro, sebagaimana yang termaktub dalam Babad Diponegoro, dan sekaligus memosisikannya sebagai narator sekaligus dalang.

Jadi, berbicara tentang Sardono W. Kusumo tidak melalu berbicara tentang tari, intuisi, dan Diponegoro. Ia juga bisa berbicara tentang apa saja. Terutama “perlawanan kultural” untuk membangun kembali harga diri bangsa ini. Sehat terus mas Don. (SI)

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top