Sedang Membaca
Santri Membaca Zaman (1): Kamera, Sastra, dan Fotografi
Penulis Kolom

Bergiat di dunia pendidikan. Menulis sastra berupa cerpen. Tinggal di Jawa Timur. IG @elakhmad dan @akhmadmedia.

Santri Membaca Zaman (1): Kamera, Sastra, dan Fotografi

Whatsapp Image 2022 01 19 At 06.11.57

Dulu, foto tak lebih dari kertas persegi penanda peristiwa penting yang memenuhi buku album; dompet; dan dinding-dinding rumah. Kini, foto telah beralih menjadi kebutuhan harian yang menjelma identitas manusia dalam teknologi antarjaringan.

Foto menjadi laporan segala kegiatan, mulai dari menghadiri kondangan hingga menyuapi hewan peliharaan. Melalui akun-akun media sosial, foto tak lagi sekadar gambar, namun juga diselipi beberapa kata mutiara dari tokoh-tokoh ternama hingga kutipan-kutipan sastra.

Ada yang menampilkan foto pemandangan dengan tambahan kutipan (dibaca: caption) di bawahnya yang diambil dari kutipan salah satu penulis favoritnya, bahkan ada juga yang mencomot sembarang kutipan tanpa merasa perlu mencantumkan nama penulisnya, agaknya ini yang biasa disebut dengan mencuri sok estetis. Jika dalam dunia jurnalistik terdapat istilah jurnalisme sastrawi (Literacy Journalism), agaknya dalam dunia fotografi juga perlu dikembangkan istilah fotografi sastrawi.

Merujuk pada kali pertama jurnalisme sastrawi diperkenalkan oleh majalah The New Yorker lewat tulisan John Hersey yang melaporkan kondisi warga Hiroshima pasca serangan bom atom pada tanggal 6 Agustus 1945, artikel laporan dengan gaya novel fiksi tersebut membuat para pembacanya merasa lebih dekat dengan tragedi serangan bom di Hiroshima. Karena bergaya cerita, para pembaca seakan bisa menikmati berita secara nyata, tak hanya sekadar informasi yang perlu dibaca.

Hasil yang sama juga diharapkan dari fotografi gaya sastrawi: sebuah seni penghasilan gambar yang bersifat sastra tak hanya menghadirkan keindahan hasil pemotretan, namun juga mampu menyiratkan pesan-pesan lewat bahasa kiasan. Foto tak hanya bercerita tentang yang terlihat, tetapi juga mampu menyuarakan yang tersirat. Terkadang, tidak semua hal bisa dinikmati oleh mata, sebab hanya rasa yang membuatnya bisa disebut ada. Pahit dan manis misalnya. Tak ada yang mampu mendeskripsikan wujud fisik pahit dan manis, karena keberadaannya tidak untuk dilihat, tetapi untuk dirasakan.

Baca juga:  Mencari Inspirasi Ala Kiai Abdul Wahid Hasyim

Pertanyaannya, bagaimanakah caranya memperkenalkan fotografi sastrawi kepada masyarakat?

Rubrik Foto di Jawa Pos Group

Di antara cara memperkenalkan fotografi sastrawi kepada khalayak luas adalah memanfaatkan rubrik foto yang disediakan oleh media-media nasional maupun lokal, seperti rubrik lensa minggu di Jawa Pos dan rubrik foto pilihan di Jawa Pos Radar Mojokerto. Aspek fotografi sudah jelas terpenuhi lewat penerimaan karya foto dari masyarakat umum dengan proses seleksi (memilih tiga foto terbaik tiap minggunya), sedangkan aspek sastrawi-nya terpenuhi lewat jalur pemilihan judul berdasarkan tema yang telah ditentukan setiap minggunya. Para pengirim foto dapat ber-sastra ria melalui kalimat estetis yang akan membingkai foto andalannya berdasarkan tema.

Tema yang singkat, satu hingga dua kata, akan memancing sisi imajinatif calon pengirim foto, sehingga ruang kosong itulah yang dapat dimanfaatkan untuk menghadirkan gambar yang ‘lebih’ dari tema yang telah ditentukan. Relasi antara foto dan judul inilah yang akan menghasilkan sesuatu yang bisa disebut dengan istilah fotografi sastrawi. Sehubungan dengan hal ini, terdapat dua jepretan foto saya yang dimuat di Jawa Pos Radar Mojokerto. Foto pertama dimuat saat edisi tema sendu dan foto yang kedua dimuat ketika edisi tema alam benda. Dua foto tersebut juga berusaha menampilkan makna yang ‘lebih’ dari dua tema yang menaunginya.

Baca juga:  Mengenal Intelektual Iran Hamid Dabashi

Ketika berhadapan dengan tema “sendu”, sebagai seorang santri yang terbiasa dengan kegiatan tafakkur selama mondok, ruang kosong yang saya imajinasikan adalah pertanyaan: adakah yang lebih sedih dari manusia yang menangis berhari-hari karena patah hati? Saat itulah saya teringat pada satu di antara jepretan foto ketika mendaki Gunung Arjuna, yakni potret sebongkah batu yang menyerupai wajah manusia dengan senyum getir di garis bibirnya.

Akhirnya, saya memberinya judul: Sedang Batu pun Tersenyum Sayu. Artinya, pada dasarnya kesedihan manusia adalah hal yang wajar-wajar saja, karena manusia dikaruniai hati untuk merasa. Entah itu lara maupun tawa. Ada yang jauh lebih sendu dari tangis manusia, yakni sebongkah batu (yang tak memiliki hati untuk merasai) yang sedang tersenyum sayu. Bukankah lebih menyakitkan ketika sebuah makhluk yang diciptakan untuk tak memiliki perasaan, ternyata bisa mengekspresikan kesedihan?

Foto yang kedua sejatinya diperoleh dari lokasi yang sama, namun dengan objek yang berbeda. Di dalam lingkup tema “alam benda”, saya mengimajinasikan ruang kosong tentang dekonstruksi terhadap pandangan umum tentang yang hidup dan yang mati. Menurut sebagian besar masyarakat, mereka yang hidup adalah mereka yang masih ada; bernapas; bergerak; dan bekerja sebagaimana mestinya.

Sementara mereka yang mati adalah ‘mereka’ yang tidak bernyawa; tidak bernapas; atau tidak melakukan hal sebagaimana mereka yang hidup, sehingga benda selalu dianggap sebagai mereka yang mati. Padahal bagi saya, hidup dan mati itu ditentukan oleh rasa, tidak ditentukan oleh pandangan umum manusia. Sebagaimana yang dilakukan oleh kelompok sinkretis di wilayah Gunung Arjuna lewat aktivitas mereka dalam meyakini arca-arca di Gunung Arjuna. Oleh sebab itu, saya memilih potret sebuah arca yang dibalut kain bermotif kotak hitam-putih dengan sajian dupa dan kemenyan di depannya. Saya memberinya judul: Hidup dan Mati Ditentukan Oleh Rasa.

Pada akhirnya, fotografi menjadi sebuah seni disebabkan oleh kandungan unsur dulce, keindahan sajian gambar yang dihasilkan, dan utile, pesan yang terkandung di dalam relasi antara tema dan judul yang mendasarinya. Tak berlebihan jika dikatakan bahwa melalui kamera dan sastra, fotografi mampu menghadirkan sang liyan yang kerap kali disembunyikan.

Baca juga:  Ben Anderson Memandang Pesantren
Apa Reaksi Anda?
Bangga
1
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top