Sedang Membaca
Adu Jotos Habib dan Petugas Satpol PP di Surga*
Ben Sohib
Penulis Kolom

Penulis novel dan cerita pendek. Tinggal di Jakarta

Adu Jotos Habib dan Petugas Satpol PP di Surga*

54f5215d 1633 4fdc B69c Cd7c75ae5603 169

Ilmu saya belum dalam, akhlak saya belum sesuai dengan yang diajarkan agama. Jadi tak usah panggil saya habib-(Quraish Shihab).

Adu jotos antara seorang habib dan petugas satpol PP benar-benar terjadi pada satu sore akhir bulan lalu di tepi jalan tol di Surabaya, bukan di surga. Rangkaian akibatnya memuai ke mana-mana: ke masalah perlakuan diskriminatif pada pelanggar PSBB, keganjilan hukum dan etika, kekayaan dan jabatan, keturunan Nabi, ulama pengasuh pondok pesantren dengan pengikut sekian banyak, dan sentimen rasis anti-etnis keturunan Arab. 

Awalnya satu kejadian biasa. Sebuah sedan yang sedang melaju di jalan tol arah Surabaya diberhentikan oleh sejumlah petugas gabungan yang tengah melakukan penjagaan terkait aturan PSBB.

Mereka meminta kendaraan pribadi itu untuk putar balik lantaran ada penumpang yang tak bermasker dan jumlah penumpangnya melebihi dari yang diizinkan. Salah seorang penumpang lalu turun dari mobil. 

Dari tayangan video yang beredar luas, terlihat penumpang itu, seorang pria bergamis dan berpeci putih, bersitegang dengan para petugas: ia menolak putar balik. Meski pria itu ngotot dan mendorong-dorong para petugas, tampak para penegak hukum tetap berbicara baik-baik, berupaya memberi pemahaman bahwa mereka tidak bisa membiarkan mobil itu melanjutkan perjalanannya ke Surabaya.

“Yang terkena penyakit itu orang yang tidak sembahyang!” hardik pria itu pada seorang anggota polisi.

“Siapa yang tidak sembahyang? Apakah Bapak sendiri yang sembahyang?” balas Pak Polisi.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Di sinilah keganjilan bermula. Selain dengan bentakan dan dorongan, pria itu seperti berupaya mengintimidasi para petugas dengan previlage keagamaannya, bahwa ia seorang yang saleh, yang bersembahyang, oleh karena itu pelanggaran yang ia lakukan layak ditolerir.

Tapi para petugas bergeming. Si pria juga menyebut-nyebut bahwa dirinya dari Polda, sesuatu yang bisa dipahami bahwa ia memiliki koneksi dengan sebuah jabatan yang berpengaruh, jauh di atas para petugas lapangan. Dan mobilnya yang mewah, juga plat nomor polisinya yang unik (N 1 B) menguatkan kaitan itu. Namun lagi-lagi para petugas tak tergoyahkan.

“Bapak dari Polda, mustinya lebih tahu aturan,” kata si petugas.

Singkat cerita, setelah adu mulut, adu dorong, dan adu jotos, akhirnya dengan sorot mata yang masih memancarkan amarah, pria itu masuk ke mobil dan putar balik. Tak lama setelah video beredar, berbagai berita dan reaksi di media sosial bermunculan silih berganti. Saya, dan saya yakin banyak orang lain, geram melihat arogansi pria yang kemudian terungkap bernama Umar Assegaf. Ia seorang habib (gelar bagi keturunan Nabi) pengasuh sebuah pondok pesantren di Pasuruan.

Lalu muncul berita bahwa kejadian itu akan diproses secara hukum. Sang habib dilporkan ke polisi. Menurut Kasatpol PP Surabaya Eddy Christijanto, laporan dibuat bukan atas nama satpol PP melainkan petugas gabungan (Satpol PP, Polisi, Linmas) yang terlibat dalam insiden itu. Sementara itu, Kabid Humas Polda Jatim Kombes Trunoyudo Wisnu Andiko mengatakan bahwa penyelidikan sedang dilakukan. 

Tak lama kemudian beredar video berjudul “Satpol PP yang Memukul Habib Umar Assegaf Akhirnya Minta Maaf”. Isinya berupa adegan anggota Satpol PP sedang mencium tangan sang habib sambil mengucapkan permohonan maaf.

Saya, dan saya yakin banyak orang lain, kembali geram. Bagaimana orang yang berbuat salah; melawan petugas dengan sangat kasar saat melanggar aturan PSBB, justru dimintai maaf? Apakah ini bagian dari new normal? Saya yakin tidak. Tapi kita tak pernah tahu bagian dari apa itu. Yang jelas, penyelesaian ala “kekeluargaan” yang tercapai di rumah Habib Umar Assegaf itu, difasilitasi  oleh Kapolres Pasuruan AJBP Rofiq Ripto Himawan. 

Sebelumnya, beredar sejumlah unggahan di media sosial yang bernada hasutan untuk memburu si petugas Satpol karena dianggap telah menzalimi seorang ulama keturunan Nabi. Konten-konten provokatif itu di antaranya datang dari media online Tarbawia dan cuitan Ustaz Tengku Zulkarnain di twitter.

Maka, permintaan maaf Satpol PP kepada Umar Assegaf itu menimbulkan banyak pertanyaan. Bagaimana peristiwa seaneh itu bisa terjadi? Apakah karena ia seorang habib? Apakah karena ia orang kaya? Apakah karena ia ulama pengasuh pondok pesantren dengan sekian banyak pengikut? Apakah karena ia memiliki kedekatan dengan petinggi di Polda Jatim? Atau karena gabungan dari semua itu? Kita tidak tahu. Tapi yang jelas, kejadian itu memunculkan sejumlah reaksi kemarahan di media sosial. Peristiwa itu dianggap mencederai rasa keadilan. Dan sebagian reaksi itu sama tak adilnya: rasisme berupa sentimen anti-etnis keturunan Arab. 

Salah satunya ialah video pegiat media sosial Arya Permadi alias Abu Janda. Ia melihat peristiwa permohonan maaf itu sebagai bentuk inferior bangsa Indonesia terhadap bangsa Arab, seolah-olah Umar Assegaf itu bukan bangsa Indonesia. Rasisme semacam ini menunjukkan kekerdilan pikiran sekaligus kedangkalan wawasan kebangsaannya. Ia tak memahami apa dan siapa bangsanya sendiri. Ia tak mengerti bagaimana entitas bernama “Bangsa Indonesia” ini terbentuk. 

Dan saya mempunyai beberapa teman yang semacam itu. Dulu, saya bersama mereka mengecam keras para rasis yang menyerang etnisitas Ahok. Kami tegaskan, kalau tak suka Ahok, serang saja perilaku dan kebijakannnya, tidak usah membawa-bawa etnisitasnya. Dan sekarang, ketika mereka melecehkan etnisitas Habib Umar Assegaf, saya ingatkan mereka agar konsisten: kecam saja perbuatannya.

Jadi, dengan kejadian itu, tak perlu kemudian seseorang membenci semua keturunan Nabi, semua orang yang mempunyai hubungan baik dengan pejabat tinggi di Polda, semua orang kaya yang memiliki mobil mewah dengan plat nomor polisi unik, semua ulama pengasuh pondok pesantren yang memiliki sekian banyak pengikut, maupun semua orang Indonesia dari etnis keturunan Arab. Sebab, bukankah si pelaku tidak mewakili semua orang yang memiliki salah satu, sebagian, atau seluruh dari kriteria-kriteria tersebut?

Sejak dulu, jika ada orang bersikap rasis terhadap satu etnis, pikiran saya niscaya tertuju kepada orang-orang baik dari etnis yang sedang dilecehkan itu. Satu contoh kecil saja, ketika seorang penentang Rizieq Shihab dan Bahar bin Smith sedang menghina etnisitas mereka, yang selalu terbayang di benak saya adalah wajah Quraish Shihab. Saya tidak tahu sebabnya. Ini mungkin karena saya begitu menggandrungi beliau; suara, nada bicara, dan isi ceramah-ceramahnya membuat hati terasa sejuk. Dan sesuatu yang sejuk selalu mengingatkan saya pada surga.  

Jadi, supaya kejadian adu jotos antara Habib Umar Assegaf dan anggota Satpol PP di pinggir jalan tol di Surabaya itu tak memanas, saya bayangkan saja surga sebagai tempat kejadian perkara.  

*Judul terinspirasi dari buku kumpulan cerita pendek karya Sherman Alexie Adu Jotos Lone Ranger dan Tonto di Surga (Banana, 2007).

Baca juga:  Gus Dur, HAM, dan Kontekstualisasi Pemikiran Keagamaan
Apa Reaksi Anda?
Bangga
1
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
1
Scroll To Top