Sedang Membaca
Pemenang Lomba Menulis Ramadan Berkah (8): Saatnya Bangun Harmoni untuk Hadapi Pandemi
Penulis Kolom

Redaksi Alif.ID - Berkeislaman dalam Kebudayaan

Pemenang Lomba Menulis Ramadan Berkah (8): Saatnya Bangun Harmoni untuk Hadapi Pandemi

Lomba Menulis Ramadan Berkah Ma'had Ali

Adapun tulisan pemenang kedua lomba menulis Ramadan Berkah kategori Ma’had Aly atau Perguruan Tinggi adalah Uzlifatul Laily. Laily adalah Mahasiswa Institut Ilmu Keislaman Annuqayah [INSTIKA] Guluk-Guluk Sumenep. Selamat ya, Laily. Berikut tulisannya. Selamat menyimak!

Waktu libur Idul Fitri di pesantren saya dipercepat tiga minggu lebih awal dari yang dijadwalkan. Prosedur pemulangan pun tidak seperti biasanya. Kami para santri paham, korona viruslah alasan utamanya. Beberapa hari terakhir, pengurus pesantren pusat sudah memberlakukan beberapa kebijakan baru guna mencegah masuk dan penularan virus mematikan ini. Mulai dari tidak memperkenankan wali santri memasuki area pesantren; melarang kegiatan-kegiatan yang mengundang orang luar; bahkan satuan pendidikan mulai diliburkan.

Sebagai santri yang sam’an wa tha’atan ,saya berusaha untuk mengikutinya dengan lapang. Betapa tidak, saya dan teman-teman santri harus mengubur rindu pada orang tua yang biasanya setiap minggu dapat bersua. Sungguh luar biasa. Tapi satu hal, patuh pada ucapan kiai adalah suatu yang wajib dilakukan para santrinya. Saya yakin bahwa pengurus pesantren pusat memberlakukan kebijakan demikian atas dawuh para sesepuh pesantren.

Sebelum pulang, seluruh santri diberikan edukasi seputar korona virus. Tak lupa, kami juga diberikan amalan atau dzikir sehabis salat lima waktu. Sampai saat ini, satu pernyataan yang saya ingat dari salah satu pengurus pusat sekaligus pengasuh pesantren. Beliau kurang lebih mengatakan begini, “Seluruh penyakit memang datangnya dari Allah. Kita manusia hanya bisa berdoa dan ikhtiar. Salah satu ikhtiar yang bisa kita lakukan ya lakukan saja. Jangan terlalu takut namun tetap waspada. Bukan karena takut pada wabah ini. Tapi andaikan mati kesepian karena korona virus ini kan jadi tidak asik.” Tak lupa pula, kami diperingatkan untuk selalu mengikuti protokol pemerintah.

Baca juga:  Ramadan: Sebulan Nyantri, Seumur Hidup Menginspirasi

Sayang, begitu saya pulang ke rumah. Kenyataan berkebalikan beberapa kali saya temui. Masyarakat di sekitar terkesan acuh dan meremehkan kebijakan pemerintah. Menganggap bahwa korona virus bukanlah penyakit berbahaya. Tidak perlu melakukan kewaspadaan. Bahkan beberapa pihak menentang aturan pemerintah untuk tidak berkerumun dalam jumlah banyak. Ada apa? Apakah karena masyarakat desa masih belum paham betul akan pandemi ini?

Selain karena memang kurang paham. Agaknya faktor tokoh agama (selanjutnya penulis akan menyebut sebagai ulama) lebih mendominasi. Maklum. Masyarakat desa lebih patuh pada ulama setempat ketimbang pemerintah yang seakan tak bisa dijangkau keberadaannya. Ironisnya, yang mereka gugu terkesan juga acuh terhadap protokol pemerintah.

Buya Hamka (1976) mengatakan, “Ulama adalah pemimpin Rohani Umat. Maka itu ulama hendaklah memimpin rohani ummat atau rakyat, termasuk pejabat yang mana sekalipun, agar mereka menjadi mukmin sejati, bertaqwa pada Allah.” Selanjutnya menurut Fadlullah (2020) ulama adalah intelektual publik yang memahami kitab suci Al-Quran secara mendalam sekaligus berwibawa dalam menyuarakan aspirasi umat dalam menegakkan supremasi hukum keadilan dan kebenaran.

Di sinilah kita menemukan tembok besar yang ada di masyarakat desa bahkan umat Islam di Indonesia. Pandemi tidak tampak sebagai persoalan yang melibatkan hal ilmiah. Contoh riilnya adalah rencana kegiatan Ijtima’ Ulama di Gowa, Sulawesi Selatan. Para calon jemaat menganggap persoalan pandemi Covid-19 bukanlah hal berbahaya. Tidak perlu ditimbang secara ilmiah (Rizkiansyah: 2020).

Baca juga:  Sosok KH Habibulloh Zaini di Mata Saya

Memang tidak semua ulama di Indonesia bertindak oposisi terhadap protokol pemerintah. Termasuk para kiai saya di pesantren. Akan tetapi, sebagian yang lain tersebut juga memberikan pengaruh besar terhadap sikap masyarakat. Miris memang ketika mendengar salah satu ceramah yang mengatakan bahwa, korona virus tidak akan mendekati pada orang muslim yang menjaga salat dan ketaatannya kepada Allah. Sekilas memang pernyataan ini tidak keliru. Namun dampak yang diakibatkan justru berbahaya.

Selaras dengan pernyataan di atas Miftahul Abror (2020) bahwa MUI dan pemerintah secara umum telah menghimbau masyarakat untuk menghindari kerumunan termasuk dalam peribadatan seperti sholat jumat dan larangan mudik. Walau MUI dan beberapa ulama telah menjelaskan tentang bolehnya mengganti sholat jum’at dengan sholat dhuhur di rumah, namun masih banyak yang tak menghiraukan. Tentu hal tersebut tidak lain mengikuti ulama setempat.

Sudah sangat tampak di lapangan bahwa terjadi perpecahan antara sesama ulama di Indonesia. Jika ulama belum bersatu maka selama itu umat juga akan berkubu. Ada yang mengunggulkan faktor keimanan yang jauh dari teori ilmiah. Menganggap bahwa pandemi hanya bisa dihadapi oleh ketakwaan sehingga menghiraukan hal-hal yang berbau ilmiah. Ulama yang lain lebih moderat karena selain mewanti-wanti untuk memperkokoh keimanan. Pula mengajak untuk ikut serta dalam mengikuti aturan-aturan dari pemerintah.

Baca juga:  Mari Hayati dan Patuhi Adab Menuntut Ilmu

Pada akhirnya dibutuhkan harmoni dari seluruh pihak. Semuanya saling bertanggung jawab atas yang lain. Meliputi pemerintah, ulama, tenaga medis, dan masyarakat secara umum. Saling mengingatkan bahwa tindakan ceroboh akan membahayakan tidak hanya diri sendiri namun juga orang lain. Semisal kita mengalami gejala korona virus lalu tidak melakukan self isolation, maka bukan tidak mungkin orang-orang di sekitar kita akan tertular bahkan meregang nyawa.

Lebih jauh, pemerintahlah yang memegang kendali atas segala kebijakan dan tindakan selanjutnya. Untuk itu, sikap kita adalah menerima dan menjalankan segala kebijakan selama mendatangkan manfaat dan menghalangi madharat. Sikap nyinyir terhadap pemerintah, tuding ini itu merupakan tindakan yang tidak elok. Sudah bukan saatnya sekarang bertindak seenak jidat.

Terakhir, ikhtiar kita dalam bersatu untuk menghadapi pandemi hemat penulis bisa dimaknai sebagai sikap nasionalisme. Cinta tanah air dengan tetap berusaha menjaga kesehatan dan keselamatan bangsa secara umum. Sebaliknya, segala tindakan yang dapat menghalangi atau bahkan memperumit masalah dalam pencegahan pencemaran virus bisa dianggap pula sebagai hal apatis. Mari saling mengingatkan. Jangan lupa sering cuci tangan. Wallahu a’lam.

 

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top