Sedang Membaca
Soekarno: Islam Itu Kemajuan
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Pendaftaran Workshop Menulis

Soekarno: Islam Itu Kemajuan

Bandung Mawardi

“Bibliotheek roemah koeroengan ini lebih dimaksoedkan sebagai pelepas lelah dan oentoek mempertebal perasaan agama daripada oentoek beladjar,” tulis Soekarno saat menghuni “rumah kurungan” Sukamiskin.

Surat bertanggal 17 Mei 1931 itu mengesankan Soekarno masih berjarak dengan buku-buku bertema agama. Ia sedang gandrung membaca buku-buku mengenai perkara-perkara sosial atau sosiologi. Episode pergerakan politik sedang diredam penguasa kolonial. Soekarno mendirikan partai politik dan menginginkan mengerti situasi Indonesia berpatokan ilmu-ilmu sosial, belum menumpuk referensi agama.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Seruan melawan kolonialisme menghadiahi Soekarno dengan pemenjaraan. Hasrat terus membaca buku perlahan terhambat oleh ketentuan-ketentuan “rumah kurungan”. Koleksi buku agama di Sukamiskin belum “memanggil” Soekarno untuk membaca dan memaknai Indonesia dengan pemikiran-pemikiran agama.

Situasi itu berbeda saat Soekarno mengalami pengasingan di Nusa-Ende (Flores). Ia justru getol belajar Islam melalui korespondensi dengan A Hassan di Bandung. Soekarno meminta dikirimi buku-buku agama. Di tempat jauh dari Jawa, Soekarno membaca dan merenungi Islam diselingi perdebatan atau perbantahan sampai ke terang mengerti Indonesia.

Puluhan tahun berlalu dari babak pemenjaraan dan pengasingan, Soekarno tampil sebagai pemuka revolusi mulai berseru perbukuan Islam.  Pada peringatan Hari Pahlawan di Istana Negara, Jakarta, 10 November 1965, Soekarno berkhotbah:

 

“Saja sudah perintahkan terdjemahkan buku, jaitu misalnja buku dari Lothrop Stoddard. Lothrop Stoddard jang menulis buku The Rising Tide of Color. Di samping satu buku lain The New World of Islam… Maka di dalam buku-buku ini  Lothrop Stoddard membuktikan dengan baik sekali bahwa tiap-tiap gerakan, baik gerakan nasionalisme maupun gerakan Islam, gerakan agama, adalah tumbuh daripada keadaan-keadaan jang objektif. Bukan bikinan seorang pemimpin.”

Pada masa berbeda, Soekarno itu pembaca dan pemberi seruan berbeda tapi memiliki hubungan-hubungan pemaknaan demi pemajuan Indonesia. Buku anjuran Soekarno berhasil terbit pada 1966 dengan judul Dunia Baru Islam. Pihak panitia terjemahan menggunakan buku pinjaman dari koleksi milik perpustakaan di Jogjakarta. Di pengantar, panitia mengaitkan buku dengan perintah Soekarno:

“Kebangkitan dunia Islam jang menjelimuti dan laksana djalur merah mendjeludjuri seluruh isi buku inilah jang sangat beliau mintakan perhatian ummat Islam Indonesia, agar mereka dapat mengerti dan memahami hal jang amat perlu djustru bagi diri mereka sendiri, kemudian bangkit semangatnja untuk menggali api adjaran Islam jang telah dapat meledakkan gurun pasir djazirah Arabia mendjadi dinamit amat dahjsat menggema terdengar diseluruh dunia.”

Panitia pun menuruti perintah Soekarno agar di buku terjemahan ditambahi bab mengenai kebangkitan Islam di Indonesia. Buku tulisan pemikir asal Amerika itu bertambah gemuk dengan esai terperintahkan Soekarno. Pembaca tentu memaklumi perintah menginginkan dampak Islam bagi revolusi di Indonesia.

Baca juga:  Pelajaran dari Kalimat Kontroversi Gus Dur

Buku mengenai Islam ditempatkan dalam arus revolusi. Buku diterbitkan demi menjadi bacaan umat mengobarkan Islam dan revolusi bercorak “amanat penderitaan rakjat”. Kita mengenang buku itu bernalar kekuasaan dan pemenuhan seruan Soekarno sejak serius menekuni Islam dari masa 1930-an. Babak berbeda dari keengganan duduk di bibliotik Sukamiskin penuh koleksi buku agama. Soekarno telah mengukuhkan diri sebagai pemimpin bagi umat Islam, membekali diri dengan buku-buku.

Kegirangan Soekarno atas penerjemahan buku susunan Lothrop Stoddard tampak di halaman pengantar. Halaman dengan logo resmi pemerintah bertanggal 1 Januari 1966 memuat perkataan Soekarno: “Semoga para pembatja Indonesia menelaah buku ini setjara kritis dan tadjam, mengambil apa jang berfaedah, dan membuang apa jang tiada berguna.” Buku lama terbitan masa 1920-an disajikan pada pembaca Indonesia pada masa 1960-an. Soekarno tetap memiliki maksud buku menerangi pemikiran pembaca di misi revolusi belum selesai.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Biografi Soekarno meliputi buku-buku, tak melulu pidato-pidato. Soekarno dan pustaka Islam menjadi perkara besar jika menengok masa lalu sinau Islam pada HOS Tjokroaminoto, A Hassan, Ahmad Dahlan, M Natsir, dan para tokoh, sejak Soekarno bermukim di Surabaya dan menjadi penguasa. Soekarno terus menambahi bacaan bertema agama dalam pelbagai bahasa. Kita bisa menganggap Soekarno adalah pemicu gairah penerbitan buku-buku Islam di Indonesia melalui seruan beraroma kekuasaan atau sebaran pemikiran meminta tanggapan umat dan kalangan pemikir Islam.

Baca juga:  Agama Welas Asih

Goenawan Mohamad (2010) menganggap Soekarno mengawali pemahaman Islam sebagai “enersi politik pembebasan”. Soekarno pemikir tangguh dalam memajukan Islam di Indonesia, enggan cuma menjadikan Islam “tempelan” dalam deru kekuasaan.

“Baginya, Islam akan terus ada bukan karena ia ditakdirkan abadi, dengan ajaran yang kekal, melainkan karena ia terus-menerus bisa menjadi berharga. Dalam masa perjuangan antikolonialisme, harga itu terletak dalam perannya untuk menggerakkan manusia, terutama orang banyak, untuk menumbangkan apa yang tak adil. Dalam abad modern, harga itu terletak dalm kemampuannya jadi bagian zaman yang bergerak.”

Bacaan Soekarno pun ditularkan ke umat. Pemajuan Islam di Indonesia bermula dengan membaca dan menulis buku, tak bergantung pada pengumpulan orang melalui pengajian. Soekarno sadar literasi Islam penentu Indonesia, sejak kapitalisme cetak mulai bermunculan pada akhir abad XIX di tanah jajahan. Buku-buku mengenai Islam berkelimpahan, menggerakkan ide-ide dan seruan ke amalan-amalan melawan kolonialisme sampai capaian pemuliaan Indonesia.

Sejak mula tekun sinau Islam, Soekarno ingin menggabungkan paham demokrasi dan Islam, menampik aristokrasi dan feodalisme dalam Islam. Soekarno selalu memahami dan memastikan Islam itu kemajuan, memberi kekuatan bagi kemungkinan-kemungkinan tatanan hidup modern dan demokratis (Ridwan Lubis, Sukarno dan Modernisme Islam, 2010). Soekarno pantas jadi panutan saat mengumumkan kehendak menjadikan Indonesia maju berpatokan Islam melalui pemaknaan-pemaknaan di haluan revolusi dan demokrasi. Islam itu kepustakaan dan amalan memuliakan Indonesia, dari masa ke masa. Begitu.

Lihat Komentar (0)

Komentari

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Scroll To Top