Sedang Membaca
Sepatu: Modernitas dan Ramadan
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Sepatu: Modernitas dan Ramadan

Bandung Mawardi

Koentjoeng mulai masuk sekolah. Di rumah, segala hal dipersiapkan agar Koentjoeng tampil rapi dan bersemangat belajar. Ibu mendandani Koentjoeng dengan baju dan celana baru. Di bawah, kaki Koentjoeng tak bersepatu. Bapak mengantar Koentjoeng ke sekolah. Koentjoeng girang, berjalan cepat sambil membawa sabak dan grip (R Wignjadisastra, Tataran, 1950).

Di buku bacaan bocah masa 1950-an, Koentjoeng itu bocah desa di Klaten, Jawa Tengah. Di desa-desa, bocah-bocah belum terbiasa bersandal atau bersepatu. Mereka bersekolah dengan dandanan rapi tanpa alas kaki. Barangkali sandal atau sepatu masih benda berharga mahal, tak semua warga sanggup membeli. Sekolah pun belum mewajibkan murid-murid bersepatu.

Dulu, modernitas datang ke Nusantara bersepatu. Orang-orang asing dari pelbagai negeri singgah dan menetap di Nusantara berpenampilan aneh dan unik. Mereka menginjak tanah dengan sepatu. Pribumi melihat itu asing. Orang-orang penasaran dan berharap bisa mengenakan sepatu.

Para pemakai sepatu tentu orang-orang terhormat dan berduit. Sepatu mulai jadi pembeda derajat. Sepatu juga mengesankan kebaruan dalam pelbagai peristiwa politik, ekonomi, pendidikan, dan sosial. Tahun demi tahun, sepatu terus bermunculan di Nusantara. Sepatu dikenakan murid sekolah sampai pejabat di birokrasi kolonial.

Pada 1924, terbit novel berjudul Si Samin garapan Mohammad Kasim. Novel untuk bocah, bercerita impian-impian Samin menjadi bocah modern. Orang tua Samin memiliki rezeki, bermaksud membahagiakan Samin. Di hati, Samin sudah lama memendam keinginan memiliki sepatu. Samin pernah terlibat percakapan bersama teman-teman mengenai hasrat bersepatu. Bocah-bocah rajin menabung demi membeli sepatu.

Baca juga:  Budaya Sedekah Laut dalam Tinjauan Hadis

Di mata mereka, sepatu itu tanda menjadi bocah keren dan gagah. Kongsi demi sepatu mungkin dilakukan: “Kata si Talap, maknja akan berkongsi dengan mak si Bahauddin membeli sepatu sepasang, berganti-ganti memakainja.” Semua siasat diadakan agar bisa bersepatu. Mohammad Kasim membahasakan bahwa mereka sedang “maboek angan.”

Samin minta dibelikan sepatu. Bapak memberi jawaban mengejutkan: “Apa goena sepatoe? Anak orang kaja-kaja dan orang berpangkat sadja jang patoet bersepatoe.” Bapak memiliki pertimbangan kepatutan. Bocah-bocah dusun, anak dari orang tua bukan berpangkat dan berlimpah rezeki tak patut memanjakan kaki dengan sepatu. Percakapan bapak dan Samin mengajak pembaca mengerti situasi sosial-ekonomi di tanah jajahan. Sepatu itu kemodernan.

Di kalangan dusun, sepatu tak cuma alas kaki tapi simbol kebaruan. Khotbah bapak si Samin: “Pakaian kita patoetlah sepadan dengan pentjaharian kita. Kalau kita telah bersepatoe hendaknja diroemah poen doedoek diatas koersi atau diatas tikar permadani, tidoer diatas katil, makan tjoekoep, goelai djangan sambal terasi berganti dengan sambal belatjan sahadja.”

Samin sedih tiada terkira. “Maboek angan” bersepatu hampir gagal. Bapak memberi tawaran mau membelikan sepatu pada saat Lebaran asal Samin mau jadi penggembala kambing. Rencana jitu adalah uang dibelikan kambing. Selama empat bulan, kambing sudah besar. Kambing bisa dijual dengan mendapat keuntungan. Ongkos membeli sepatu berasal dari laba penjualan kambing.

Baca juga:  People Power dalam Pandangan Ushul Fiqh

Samin malah merengut dan menggerutu. Protes Samin di hati: “Awak minta sepatoe, dibelikan kambing, alangkah gandjilnja. Apa goena kambing kepadakoe, kalaulah matilah semoea kambing didoenia ini, berapalah senang hatikoe.” Sepatu itu impian muluk ingin lekas diwujudkan.

Nasib Samin dan Koentjoeng berbeda. Samin hidup di dusun di Sumatra sudah berhasrat pada sepatu. Di Jawa, Koentjoeng belum bermimpi atau menuntut bersepatu. Mereka beraada di buku cerita dengan latar tempat dan waktu berbeda.

Baca Juga

Di Nusantara, makna sepatu tak muncul serentak. Sepatu mengikutkan perkara usaha mencari nafkah, taraf pendidikan, etika sosial, dan referensi kultural. Samin terlalu ingin bersepatu, tak menggubris nasihat-nasihat bijak dari bapak.

Koentjoeng mengerti situasi ekonomi keluarga. Sepatu tak wajib. Sekolah malah memberi rangsangan berilmu dan girang tanpa harus bersepatu. Di dusun, Samin dan para bocah bersepatu untuk saling pamer demi gagah. Sepatu tak lekas berarti bocah-bocah bersekolah.

Tahun demi tahun berlalu. Kini, sepatu tak lagi serumit nalar-imajinasi masa lalu. Orang-orang di desa dan kota sudah terbiasa bersepatu untuk sekolah, bekerja, dan pelesiran. Sepatu bukan keajaiban lagi. Orang biasa memiliki koleksi puluhan sepatu disesuaikan waktu dan peristiwa saat pemakaian. Sepatu bisa berharga murah dan mahal. Orang-orang mulai dibujuk belanja sepatu pada bulan suci.

Umat Islam mengartikan Ramadan adalah bulan suci bergelimang hikmah. Di mata pengusaha, Ramadan adalah bulan seribu iklan dalam penjualan sepatu. Pengusaha menggoda kita agar memaknai Ramadan dan Lebaran dengan sepatu baru. Serbuan kata-kata mengandung muslihat demi membujuk orang-orang belanja sepatu: diskon, bonus, hemat, dan gratis.

Pemaknaan sepatu, sejak masa kolonial sampai abad XXI, mengalami perubahan drastis. Sepatu tak lagi selugu “maboek angan” Samin atau kecuekan Koentjoeng. Sepatu telah hadir dalam arus pemaknaan berkaitan ibadah dan amalan. Sepatu itu benda berharga bertujuan laba dan empati saat Ramadan. Begitu.

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top