Sedang Membaca
Pemetik Puisi (26): Subagio Sastrowardoyo Mengajak Berdoa
Penulis Kolom

Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah

Pemetik Puisi (26): Subagio Sastrowardoyo Mengajak Berdoa

Subagio Sastrowardoyo

Perang, diksi membuka sejarah-sejarah berdarah bertema agama, kekuasaan, dan identitas. Di Jawa atau Nusantara, perang-perang ternikmati dalam epos-epos asal Indonesia. Perang paling seru dan haru terdapat dalam epos Mahabharata. Cerita mengenai perang itu dinikmati selama ratusan tahun, berhikmah bagi orang-orang memerlukan kalimat-kalimat bijak. Di Jawa, perang terampuh itu makin terasa dalam pertunjukan wayang kulit. Perang tak cuma menang-kalah atau hidup-mati. Perang justru menguak filsafat-filsafat dianut orang Jawa, dari masa ke masa.

Di sejarah, orang-orang mencatat Perang Jawa pada abad XIX. Di situ, politik mungkin paling menonjol. Orang-orang pun memahami Perang Jawa memuat masalah agama dan identitas. Sosok penting mengajukan Islam dan Jawa itu bernama Pangeran Diponegoro. Perang tergelar mengikutkan masalah-masalah dakwah, asmara, seni, teknologi, dan lain-lain. Di buku-buku sejarah, Perang Jawa diceritakan dengan diksi-diksi mengacu Islam, selain terpokok adalah sejarah kekuasaan di Jawa.

Perang demi perang tercatat dalam sejarah Nusantara. Di Aceh, Jawa, Bali, Ternate, Makassar, dan pelbagai tempat, perang-perang terceritakan dengan adonan khas: mengaitkan adat atau agama. Sekian perang perlahan menguatkan ide-ide kebangsaan. Dokumentasi perang berupa teks-teks sastra, tembang, tarian, atau lukisan menuntun kita mengetahui pijakan religius dalam keberanian masuk ke medang perang. Perang dialami dengan doa atau ritual, bermaksud meminta berkah dan keselamatan dari Tuhan. Warisan (cerita) sejarah lazim menurunkan jimat atau doa-doa mujarab.

Baca juga:  Kiai Ma'ruf dan Weltanschauung NU

Pada abad XX, perang-perang masih berlangsung di Indonesia. Pemberitaan perang memudahkan orang mengetahui pihak kuat-lemah dan menang-kalah. Kesan berbeda bila kita membaca puisi. Perang bisa mengacu peristiwa melibatkan ribuan orang di medan tapi bergerak pula sebagai diksi untuk mengungkap lakon abad XX. Kita simak puisi berjudul “Doa di Medan Laga” gubahan Subagio Sastrowardoyo (1970). Doa terucapkan: Berilah kekuatan sekeras badja/ Untuk menghadapi dunia ini, untuk melajani zaman ini/ Berilah kesabaran seluas angkasa/ Untuk mengatasi siksaaan ini, untuk melupakan derita ini.

Kita mulai berjarak dari perang-perang terceritakan dalam epos-epos atau pemberitaan perang-perang menggunakan beragam senjata di suatu tempat. Perang telah berbeda di zaman berbeda. Perang di pikiran, batin, atau imajinasi terselenggara pada abad XX, abad penuh persaingan dan kepongahan. Abad menjadikan manusia pesimis, kalah, kapok, atau terpuruk. Perang sebagai peristiwa sulit dan dilematis. Orang-orang ingin hidup dalam tatanan membahagiakan tapi situasi zaman justru menempatkan mereka dalam “perang-perang” tak berkesudahan atas nasib.

Subagio Sastrowardoyo mengajak berdoa lagi: Berilah kemauan sekuat garuda/ Untuk melawan kekedjaman ini, untuk menolak penindasan ini/ Berilah perasaan selembut sutera/ Untuk mendjaga peradaban ini, untuk mempertahankan kemanusiaan ini. Perang tanpa pedang, keris, bedil, bom. Perang tak memperlihatkan darah, memperdengarkan teriak, atau pengibaran bender. Perang berbeda dialami setelah lakon kolonial mulai berkurang di Asia dan Afrika. Orang-orang hidup di negara merdeka tapi perang-perang lanjutan selalu ada. Perang dengan jenis berbeda tapi berdampak besar.

Baca juga:  Ali Abdur Raziq : Islam dan Fase Problematika Khilafah

Para filosof, pendakwah, intelektual, atau seniman di pelbagai negara berseru tentang abad XX dalam kehancuran dan kebimbangan. Pelbagai kebijakan negara, ulah manusia, kondisi alam, dan segala hal menjadikan abad XX sulit memberi jaminan kebahagiaan, perdamaian, dan kemakmuran. Doa-doa diperlukan bagi orang-orang masih menempatkan agama dalam pendasaran kerja dan sikap memajukan atau meralat kemajuan peradaban. Puisi mengajak berdoa gubahan Subagio Sastrowardoyo itu sederhana dan gamblang. Kita membaca sambil mengingat tempat atau peran Indonesia dalam pergolakan dunia. Puisi mengingatkan bahwa umat manusia di dunia tak sedang baik-baik saja. Begitu.

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top