Sedang Membaca
Pemetik Puisi (23): Pahit Kehilangan Mesra
Penulis Kolom

Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah

Pemetik Puisi (23): Pahit Kehilangan Mesra

Images 2021 05 08t212104.495

Pada 1965-1966, Indonesia muram, berantakan, lusuh, dan terluka. Orang-orang mengucap politik masih dipenuhi marah, dendam, dan fitnah. Di sela bara-bara politik, orang-orang merenung dengan keraguan-keraguan nasib Indonesia. Orang-orang tak jelas nasib, melanjutkan hidup atau “rampung” tanpa kejelasan. Di luar politik selalu kusut, para pengarang menulis diri dan Indonesia. Sekian puisi protes terbacakan. Prosa-prosa rekaman zaman memberi peringatan kebiadaban dan keinginan-keinginan luhur. Arifin C Noer berada dalam ruang dan waktu tak tentu saat 1965-1966 adalah tahun-tahun keparat.

Di kertas, ia menggubah serial puisi berjudul “Dalam Langgar”. Ia menaruh diri dalam kekisruhan dan kerusuhan sosial-politik tapi memilih bercakap dengan Tuhan. Di langgar, ia bercerita dan mengajukan masalah-masalah ruwet belum bisa dirampungi di Indonesia. Kita memilih “Dalam Langgar (III)” untuk mengetahui masa lalu sempat tercatat. Arifin C Noer sudah menapaki sastra dan teater, belum ke film. Kepekaan-kepekaan termiliki, mampu terbahasakan. Ia memang belum tenar pada masa 1960-an. Puisi-puisi sudah digubah dan terbit di majalah-majalah mengesankan ia memilih sastra “kesadaran” bertambah sastra “kasmaran” setelah berjumpa pujaan.

Arifin C Noer (1965) mengisahkan: Kebohongan mengenakan pakaian pengantin jang gemerlapan/ Ia akan dikawinkan dengan martabat dan harta kekajaan/ Rumah-rumah dari katja telah didirikan/ Tidak lupa, pesta sepandjang waktu mengisi kebudajaan. Protes! Ia mengamati kehidupan elite politik atau petualang-petualang dalam pertempuran ideologi masa 1960-an. Indonesia diajak berpesta dengan segala kemunafikan di atas kejelataan. Indonesia sedang merana tapi orang-orang berduit dan merasa memiliki kekuasaan justru memilih senang. Di tatapan mata, mereka menghinakan Indonesia.

Baca juga:  Cara Dakwah Nabi, Amar Ma’ruf bil Ma’ruf

Nasib kaum miskin makin tak jelas. Sengketa politik tak pernah rampung. Makanan diperlukan segera, bukan pidato dan poster. Arifin C Noer berseru: Sebagai si miskin tak usahlah kita bergumam/ Tegaklah dan tantanglah mereka/ sebagaimana Allah menundjukkan telundjukNja/ Sudahlah tjukup waktu untuk tetap selalu membisu/ sementara khotib-khotib telah menghiasi pidato-pidatonja/ dengan kata-kata usang berdebu dan tak bertolak dari djiwa. Ia berada dalam langgar: beribadah dan membuka gugatan-gugatan. Ruang religius menjadi tempat penentuan membentuk kesadaran untuk berani melawan atau berlindung dari kutukan-kutukan zaman.

Puisi berwatak keras itu mungkin terbandingkan dengan puisi-puisi gubahan Rendra ketimbang ledekan lagak Taufiq Ismail. Kita mengerti puisi-puisi “keras” bermunculan masa 1950-an dan 1960-an: tanggapan atas zaman tak keruan. Arifin C Noer dalam pengalaman mengerti Indonesia selama di Solo dan Jogjakarta memilih berpuisi, berharap memiliki kemauan waras dan memungkinkan seruan-seruan kesadaran. Penempatan diri sebagai penggubah puisi pun terbaca: Sudahlah tiba masanja ditulis sadjak seperti ini/ walau pahit dan hampir kehilangan kemesraannja/ sebagai puisi/ Kedjudjuran tak akan mampu mengibarkan pandji-pandji Kebenaran/ tanpa dipotong keberanian. Berdiam diri dan membiar tinta/ menguap sia-sia/ akan mentjemarkan sedjarah bangsa. Ia mengungkap kelugasan, enggan kecebur dalam metafora-metafora sulit di zaman sulit. Pola itu terasa tergunakan saat Arifin C Noer menggarap film-film berselera rezim Orde Baru dalam menghampiri sejarah berlatar 1965-1966.

Baca juga:  Mengaji Al-Ghazali atau Refleksi Ulil Abshar Abdalla Sendiri?

Puisi-puisi gubahan Arifin C Noer pada masa berbeda jarang teringat, setelah ia rajin menulis naskah-naskah pementasan teater dan keranjingan membikin film. Hal tak berubah adalah religiositas. Ia tetap menguak religiositas berkaitan kemiskinan, politik, keluarga, perkotaan, dan lain-lain. Di puisi berjudul “Dalam Langgar (III)”, kita menemukan kemarahan tapi berlambaran pengharapan di ruang ibadah dan “sambat” demi menjadikan diri tetap menanggungkan kewarasan. Arifin C Noer ingin mengalami hari-hari tak terpuruk. Penulisan puisi dan pengungkapan hal-hal politis dan religius menjadi kewajaran bagi orang-orang mengalami zaman bimbang bertitik tolak 1965. Begitu.

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
1
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top