Sedang Membaca
Hari Anak: Hayo, Siapa Pencipta “Lihat kebunku penuh dengan bunga”?
Penulis Kolom

Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah

Hari Anak: Hayo, Siapa Pencipta “Lihat kebunku penuh dengan bunga”?

1 Pak Kasur

Ateng, pelawak kondang masa lalu, memiliki ingatan berhikmah selama menjadi murid Pak Kasur. Ia merasa bahagia diasuh Pak Kasur, 1950-1964. Ateng mengaku “selalu menjumpai kebebasan untuk mengungkap hasrat hati.” Pada setiap Sabtu, Ateng dan teman-teman diberi kebebasan dalam “krida”.

Mereka melakukan apa saja dalam kesenian. Di situ, anak-anak turut dalam musik, menari, melukis, dan drama. Ateng pun memenuhi hasrat melawak.

Kita ikuti kenangan Maridi Danukusumo selaku pihak sering memberi sumbangan dalam agenda mendidik-mengajar Pak Kasur. Ia mengagumi cara dan sikap dalam mendidik jarang formal: “Pak Kasur mengajak anak-anak dengan telaten. Tampak main-main tetapi serius. Hasilnya memuaskan. Ini terbukti bila anak-anak pentas di depan tamu negara atau masyarakat selalu mendapat sambutan hangat.” 

Ingatan tentang Pak Kasur dan lagu dimiliki Salamun. Sejak usia 7-13 tahun, ia bergembira mendapat didikan Pak Kasur. Ia sering diajak dalam siaran di RRI membawakan lagu-lagu gubahan Pak Kasur. Salamun masih ingat lagu dibawakan masa lalu itu berjudul “Min, Anak Indonesia Merdeka”. Sekian lagu dibawakan oleh anak-anak pernah direkam di piringan hitam. 

Semua kenangan itu terbaca dalam buku persembahan 75 tahun Pak Kasur. Para murid, sahabat, dan pengamat urun pendapat dan ingatan selama bersama Pak Kasur. Buku dokumentatif itu berjudul Pak Kasur: Pengabdi Pendidikan (1987) disusun tim: Sides Sudyarto DS, Pertiwi B Hasan, dan Naning Pranoto. Kita beruntung masih bisa membaca sekian pengisahan mengenai Pak Kasur, tokoh penting dalam pendidikan bocah dan gubahan lagu di Indonesia. 

Pengakuan terpenting disampaikan Ibu Sud. Persamaan diajukan: “Kami sama-sama mencintai anak-anak. Kami juga mengarang lagu untuk anak-anak agar mereka gembira, agar cinta tanah air, bangsa, dan bahasanya.” Pujian diberikan Ibu Sud meski lebih tua dibandingkan Pak Kasur. Mereka sama-sama pendidik tapi Pak Kasur memiliki kelebihan. “Sistem pendidikan Pak Kasur adalah sistem lagu,” pujian memiliki bukti. Pak Kasur memang mengajar sambil main-main. Unik! Cara itu membuat anak-anak berbahagia dan berilmu.

Kita ikuti pengisahan Pak Kasur melalui istri disebut Bu Kasur. Di buku berjudul Anak-Anak adalah Duniaku: Album Perjalanan Dunia Ibu Kasur (2003) disusun Susianna D Soeratman, kita mendapat penjelasan: “Awal mulanya populer nama Pak Kasur dari Kak Sur, julukan atau panggilan di kegiatan kepanduan (pramuka) saat Soerjono belum berkeluarga. Kemudian setelah berkeluarga, ia dipanggil bapak.” Biografi sebagai suami perlahan mengubah sapaan, dari Kak Sur menjadi Pak Kak Sur. Orang-orang membuat menjadi sederhana: Pak Kasur. Pada masa berbeda, orang-orang mungkin tak mengetahui nama asli: Soerjono.

Pak Kasur memang tokoh pendidikan. Di ingatan bocah-bocah, Pak Kasur adalah sosok menggirangkan dengan lagu-lagu sederhana. Di Indonesia, puluhan lagu Pak Kasur terus disenandungkan di rumah dan sekolah. Bocah-bocah bergembira belum memiliki kewajiban mengenal nama penggubah. Orangtua atau guru justru abai untuk mengenalkan Pak Kasur atau memberi penjelasan singkat mengenai lagu. Pak Kasur masih berhikmah bagi Indonesia tapi lupa-lupa itu mengecewakan. Pak Kasur seperti “terhilangkan” dalam sejarah pendidikan dan lagu.

Pada 1983, terbit buku berjudul Naik Delman. Buku terbitan Tarate (Bandung) itu berisi lagu-lagu gubahan Pak Kasur. Buku mulai dianggap langka atau jarang mendapat perhatian. Orang-orang masih bisa membaca buku Naik Delman di Bilik Literasi (Solo). Buku mengawetkan lagu-lagu, sebelum orang-orang mudah saja menikmati lagu-lagu anak di internet tanpa mengingat Pak Kasur. 

Di pengantar, Pak Kasur menjelaskan: “Pertama-tama saya ucapkan banyak terima kasih kepada ibu-ibu, bapak-bapak, dan saudara-saudara, yang telah menyampaikan saran-saran dan anjuran-anjuran agar lagu-lagu yang pernah saya susun dan sedikit banyak sudah dikenal oleh masyarakat, dihimpun kembali dan diterbitkan sebagai buku.” Keinginan membukukan agak terlambat, setelah rajin dengan siaran di RRI atau rekaman di piringan hitam. 

Lagu paling teringat tentu “Naik Delman”. Kita mengingat lirik:

Pada hari Minggu kuturut ayah ke kota/ Naik delman istimewa kududuk di muka/ Kududuk samping pak kusir yang sedang bekerja/ Mengendali kuda supaya baik jalannya/ Tuk tik tak tik tuk tik tak tik tuk/ Tuk tik tak tik tuk tik tak tuk suara sepatu kuda.

Lagu mengajak anak-anak bergembira bepergian ke kota. Pelesiran! Lirik mudah diingat tapi orang-orang jarang mengetahui cerita untuk penggubahan lagu. Pak Kasur mengingat: “Atas usul Ibu Kasur, buku sederhana ini diberik Naik Delman, seiring dengan nama sebuah lagu, yang telah dikenal oleh masyarakat. Memang lagu “Naik Delman” itu dilahirkan pada permulaan tahun 1954 di sebuah delman, yang kebetulan mengangkut saya, dari Sokaraja Wetan ke Purwokerto, untuk mengejar keretap api pertama jurusan Jakarta.”  

Kita mungkin cuma sedikit ingatan atas lagu-lagu Pak Kasur bila dibandingkan gubahan lagu Ibu Sud dan Pak AT Mahmud. Kita masih bisa bersenandung: Kring, kring, kring ada sepeda/ Sepedaku roda dua/ Kudapat dari ayah/ Karena rajin bekerja. Lagu itu digubah Pak Kasur. Lagu biasa diajarkan untuk balita atau bocah di TK. Lagu diakrabi tapi orang jarang mengingat Pak Kasur berjudul “Sayang Semua”. Si bocah dibimbing ibu sambil bergerak: Satu satu aku sayang ibu/ Dua dua juga sayang ayah/ Tiga tiga sayang adik kakak/ Satu dua tiga sayang semuanya. Lagu membentuk biografi bocah dalam asuhan orangtua dan keluarga besar. 

Kegembiraan di luar rumah pun dimiliki bocah-bocah. Di kebun, bocah ingat lagu dengan lirik mudah diingat. Pak Kasur memberi gubahan lagu berjudul “Kebunku”. Lagu untuk bocah masih bisa bermain di kebun saat rumah-rumah di Indonesia mulai kehilangan pekarangan dan tak memiliki kebun. Berbahagialah bocah-bocah masa lalu masih berlarian dan menunaikan pekerjaan ringan di kebun. Lirik buatan Pak Kasur: Lihat kebunku penuh dengan bunga/ Ada yang putih dan ada yang merah/ Setiap hari kusiram semua/ Mawar melati semuanya indah. Kita mungkin tak pernah berpikiran lagu Pak Kasur dibuat secara mudah. Para penggubah lagu anak justru memiliki beragam kesulitan dalam penentuan nada dan kata bakal cocok disenandungkan anak-anak. Pak Kasur mengamati, merenung, dan membuat nada-kata itu termiliki bocah. 

Kini, kita mulai mengingat sekian lagu. Pak Kasur wajib dihormati dan mendapat doa atas segala pemberian bagi pendidikan-pengajaran anak di Indonesia, dari masa ke masa. Lagu tak boleh terlupa dan penting selama kita menanggungkan wabah berjudul “Makan Jangan Bersuara”. Kita simak: Sebelum kita makan, dik, cuci tangamu dulu/ Menjaga kebersihan, dik, untuk kesehatanmu/ Banyak, banyak makan jangan ada sisa/ Makan jangan bersuara/ Banyak, banyak makan jangan ada sisa, ayo makan bersama. Kita diingatkan untuk rajin makan. Hal terpenting adalah mencuci tangan. Begitu.   

Baca juga:  Hari Ini Seabad Saifuddin Zuhri: Pesantren dan Indonesia
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top