Sedang Membaca
Goenawan Mohamad dan Kuntowijoyo dalam Perbincangan Sastra di Indonesia
Bandung Mawardi
Penulis Kolom

Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah

Goenawan Mohamad dan Kuntowijoyo dalam Perbincangan Sastra di Indonesia

Goenawan Mohamad dan Kuntowijoyo

Kita memerlukan istilah-istilah asing dari pelbagai bahasa untuk mengerti sastra dan agama. Kemahiran orang mengungkapkan gagasan-gagasan dengan beragam istilah menjadikan itu terang atau samar. Di sejarah dan perkembangan sastra di Indonesia, kita menduga sekian istilah digunakan berasal dari bahasa Latin, Belanda, Inggris, Jerman, Arab, Itali, dan lain-lain. Semua digunakan dalam arus kesusastraan sedang mencari bentuk dan “kesempurnaan”.

Di buku berjudul Islam dan Dialog  (1994) dengan editor EA Effendi, kita membaca hasil wawancara bersama Goenawan Mohamad. Wawancara dijuduli “Sastra Religius dan Ekspresi Keagamaan”. Goenawan Mohamad mengatakan: “… setiap puisi adalah ibarat roh yang hidup dan bergerak dalam ‘badan’, sang roh senantiasa cenderung mengatasi batasan kata-kata.” Kita mulai digiring ke masalah-masalah kedalaman, bukan lagi masalah angkatan sastra atau capaian-capaian corak estetika.

Wawancara memungkinkan ucapan-ucapan tak tertata rapi dibandingkan dengan menghasilkan tulisan. Kita mengutip lagi usaha Goenawan Mohamad memberi penjelasan: “Toh antara seni dan agama ada pertautan yang kuat dalam jiwa serta perasaan serba indah, suatu wilayah di balik alam nyata ini. Dari sini, saya melihat seni-seni keislaman masih belum banyak dijamah para seniman kita. Kalaulah ada sifatnya reaktif untuk mengimbangi pihak-pihak lain yang tidak diwarnai nilai-nilai yang khas. Ada juga yang memang secara murni, meski masih dalam taraf pencarian.” Ia tak mengatakan nama-nama. Pendapat itu umum, mudah terbantah.

Pada situasi seni di Indonesia masa 1980-an dan 1990-an, politik masih berpengaruh besar. Sekian seniman perlahan mengungkap religiositas atau rasa-keberagamaan dengan simbol atau bahasa-bahasa belum tentu mengejutkan. Mereka di jalan besar dalam mengaitkan seni dan Islam. Di sastra, gejolak-gejolak itu bermunculan tanpa lekas mendapat “pengakuan” dan bentuk dianggap “baku”. Para penggubah sastra bergerak ke arah mungkin sama tapi tata cara dan selera menimbulkan debat-debat bikin lelah.

Omongan-omongan Goenawan Mohamad itu umum, belum mengarah ke nama atau sodoran pemikiran sastra di Indonesia. Penjelasan pun tak mengarah pengakuan sudah “terbit” sastra beragam “sebutan” berpijak agama. Segala masih meragukan meski ada nama-nama dan pengajuan gubahan-gubahan sastra berupa cerita pendek, novel, dan puisi.

Baca juga:  Kita dan Tragedi 65 (7): Sejarah PKI dan Narasi Tunggal Orde Baru

Kita menghubungkan dengan tulisan Kuntowijoyo (1982) berjudul “Saya Kira Kita Memerlukan Juga Sebuah Sastra Transendental.” Judul tanpa pemastian atau usulan bakal mewujud dengan tegak. Ia sadar dengan situasi bersastra di Indonesia cukup disikapi dengan “kira”.

Kuntowijoyo itu pemikir berat selain rajin menggubah teks-teks sastra. Di esai-esai, ia kadang memberat ketimbang memudahkan kita paham. Kuntowijoyo mengungkapkan: “Sastra transendental adalah kesadaran balik yang melawan arus dehumanisasi atau subhumanisasi. Kemanusiaan bukan hanya pelayan bagi mekanisme pasar yang menempatkan manusia dalam kotak-kotak dengan tarif-tarif yang bisa turun dan naik berdasarkan hukum permintaan dan penawaran. Ia juga bukan produk dari angka-angka yang mengatur lalu lintas barang dan jasa. Manusia sebagai semata-mata satuan produksi dan konsumsi adalah subhuman yang tak pernah menyentuh hakikatnya sendiri dan karena itu melahirkan peradaban yang tidak otentik. Direnggutkan dari roh, manusia tidak lagi menikmati kemerdekaan.”

Kalimat-kalimat pantas berada di ruang kuliah atau seminar. Kuntowijoyo memang pengajar selain “pendakwah” melalui sastra. Kita menduga penggunaan diksi roh oleh Kuntowijoyo dan Goenawan Mohamad mengandung persamaan. Roh itu keutamaan, terpokok. Roh menjadi pusat dari keputusan menjadi manusia. Kuntowijoyo mengajukan umpama: “Tanpa roh manusia benar-benar sebagai batu-batu yang menggigil kedinginan tanpa menyadari apa yang terjadi di sekitar.”

Kita mengira ia bertele-tele dalam penjelasan mengenai sastra transendental. Ia berhak memberi puluhan paragraf, berharap kita lekas mengerti. Definisi-definisi terus dimunculkan justru membingungkan bila tak saling dekat atau memiliki titik temu. Kalimat dianggap jelas: “Sastra transendental merupakan pernyataan dan perwujudan dari hidup yang lebih dari segalanya dipengaruhi oleh gerakan roh.” Kalimat mungkin tak lagi teringat kalangan sastra masih sibuk mengurusi sastra dan agama. Situasi zaman terlalu berubah. Pembahasan makin rumit.

Pada masa 1980-an, Kuntowijoyo dengan tulisan sesak definisi itu ingin menemukan tempat dalam perbincangan sastra di Indonesia. Penamaan-penamaan telah dilakukan para pengarang dan pengamat sastra. Ia memerlukan turut meramaikan dengan deretan kalimat bisa agak berbobot dibandingkan risalah-risalah sudah rebutan perhatian.

Baca juga:  Diaspora Santri: Masjid-Masjid NU di Lintas Negara

Kita beralih membaca puisi saja. Pada 1995, terbit buku puisi berjudul Makrifat Daun, Daun Makrifat gubahan Kuntowijoyo. Buku kecil dan tipis. Kuntowijoyo tak membiarkan pembaca bermain dugaan-dugaan saat khatam buku. Ia memberi sehalaman pengantar mengandung definisi: “Sajak-sajak ini adalah sebuah pemberontakan, pemberontakan metafisik terhadap materialisme. Pemberontakan dari jenis yang paling sederhana. Tidak melahirkan syuhada. Tidak bersuara, tapi menyeluruh. Beradab dan mulia.”

Ia bukan pembuat puisi sembarangan. Sejak mula masuk di arus sastra Indonesia, Kuntowijoyo mahir menulis puisi, cerita pendek, novel, dan naskah drama. Ia memang tak harus “menangan” tapi persembahan puisi-puisi tak boleh diabaikan saat orang-orang selalu mengingat judul-judul novel.

Kita mengutip: Ya, Allah. taburkanlah wangian/ di kubur Tercinta yang mulia/ dengan semerbak salawat/ dan salam sejahtera// Aku ingin/ jadi pencuri/ yang lupa menutup jendela/ ketika menyelinap/ ke rumah Tuhan/ dan tertangkap. Kita membaca dan merasakan ada cara tanggap atas warisan-warisan kesusastraan Islam, sejak ratusan tahun lalu. Kuntowijoyo tak tergesa “mengucapkan” masalah-masalah berkaitan tata dunia akhir abad XX. Ia mengerti warisan-warisan dalam pengungkapan sastra dilakukan pujangga-pujangga silam.

Sastra sebagai tanggapan dunia. Kuntowijoyo menulis: Dari hukum gaya berat/ kita mengerti/ kemiskinan selalu bercumbu dengan maut/ Sampai keabadian/ berubah secara sempurna dan memuliakan semesta/ Jangan serahkan bukit-bukit/ jika mereka hanya membagi nestapa/ Karena engkau pun. Kita teringat tentang “roh bergerak”. Sastra berpijak roh untuk “kemerdekaan”, sikap agar manusia tetap menikmati kemerdekaan.

Buku puisi tipis tak memadai untuk kepentingan Kuntowijoyo melanjutkan penjelasan sastra transendental. Ia malah mungkin sadar pilihan diksi dan konsep, mengubah sebutan telah “merepotkan” pengamatan sastra masa 1980-an dan 1990-an.

Pada suatu masa, ia justru dimengerti dengan “maklumat sastra profetik”. Teks tak panjang tapi cukup memadai memberi penjelasan ketimbang dengan seruan sastra transendental. Pada babad berbeda dan pergulatan sastra saat usia makin menua, Kuntowijoyo tampak “mendalam” dan tenang dalam membahasakan misi bersastra.

Baca juga:  Film, Sastra, dan Sains

Di buku berjudul Maklumat Sastra Profetik (2006), kita mengutip usaha sederhana dan penentuan posisi dalam bersastra dan menempati peran di sastra Indonesia. Ia mengawali: “Saya tidak pernah menyebut hasil sastra saya sebagai sastra Islam, tidak karena sastra saya bukan ibadah. Tapi karena selama ini orang mendefinisikan sastra Islam – dan seni Islam pada umumnya – terlalu sempit.” Di situ, kita mengetahui ada koreksi. Kita agak paham dengan kemauan membedakan diri dari ketelanjuran pemahaman sempit berdalih sastra Islam.

Sastra di Indonesia, sastra dengan beragam istilah atau sebutan. Kita ingin mengerti semua bakal kewalahan bila tak menguasai sekian bahasa asing dan longgar dalam membedakan perbedaan-perbedaan gagasan. Pada saat memaklumatkan sastra profetik, orang-orang sudah duluan membaca sekian esai dan buku garapan Kuntowijoyo mengarah ke penggunaan istilah sama. Penggemar buku-buku Kuntowijoyo mungkin lekas memahami pemunculan sastra profetik.

Kuntowijoyo terbuka mengungkapkan: “Sebagai sastra yang berdasarkan Kitab-kitab Suci, sastra profetik dimaksudkan sebagai sastra bagi orang beriman. Khusus bagi saya, iman itu berarti iman secara Islam.” Kita berhak menilik ulang jejak awal Kuntowijoyo untuk sampai pengesahan sastra profetik. Kita mengetahui ada sekian penjelasan “umum” tapi mengikutkan pula penjelasan mengandung istilah-istilah memberat bagi penikmat sastra cap awam.

Kini, perbincangan sastra profetik tak lagi seseru masa lalu. Sastra telah bergerak jauh, bergerak ke pelbagai arah. Kita tak sanggup menata babak-babak kemunculan pelbagai istilah atau sebutan. Di akhir maklumat, kita mudah mengerti misi Kuntowijoyo setelah kerumitan-kerumitan: “Maklumat ini hanyalah satu usaha untuk meningkatkan kualitas sastra Indonesia, supaya sastra lebih berperan dalam masyarakat. Saya berharap kehadiran maklumat ini memberi sumbangan pemikiran pada teman-teman pengarang, terutama para pengarang muda.” Kita menerima dua kalimat itu mirip berasal dari penasihat sastra ketimbang ajakan adu gagasan. Keinginan sederhana saja meski menuntut kita melewati kalimat-kalimat menggunakan istilah-istilah dari pelbagai bahasa. Begitu.

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
4
Ingin Tahu
5
Senang
4
Terhibur
4
Terinspirasi
6
Terkejut
2
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top