Sedang Membaca
Buku dan Minggu Berlalu
Penulis Kolom

Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah

Buku dan Minggu Berlalu

Img 20211108 Wa0004

Minggu belum berakhir. Senja itu rampung bercakap dengan tujuh remaja berada di pelbagai kota. Kami omong-omong dari rumah masing-masing, tak berkumpul. Obrolan rutin saat Minggu menjadi sore.

Mereka bersekutu untuk omong-omong sebagai pembaca buku dan penulis (esai). Mereka belum terlena dengan kesibukan menggubah puisi atau cerita untuk menikmati pertemuan setiap Minggu. Kami beranggapan Minggu itu ibadah sesak gairah. Kami selalu saja mengingat buku-buku terbaca dan film-film pernah dinikmati agar tema-tema terobrolkan bergerak jauh.

Magrib tanpa hujan. Aku menutup mata sejenak. Angin dari celah-celah jendela itu memberi dingin. Di atas dadaku, buku terbaca bersama menit-menit berlalu, sebelum pejam. Buku itu berjudul Kucing, Lelaki Tua, dan Penulis yang Keliru (2021). Buku kiriman dari Abinaya Ghina Jamela. Aku belum pernah bersalaman dan bertemu untuk omong-omong sembarangan. Naya terbaca dan terpikirkan saja, sekian tahun. Pembaca dan penulis bikin cemburu bila mengingat diriku perlahan tua bersama kumis, jenggot, dan keompongan. Cemburu gara-gara selera buku. Cemburu dalam gairah menanggapi buku menjadi tulisan-tulisan berhak dituduh esai atau resensi.

Naya memulai sejak bocah. Ia berjalan jauh di perbukuan, tak melulu membaca buku-buku untuk bocah. Daftar bacaan memanjang dengan acuan buku-buku sering berasal dari negara-negara jauh. Sekian buku terbaca dalam terjemahan bahasa Indonesia. Ia bergelimang buku. Malu bila cuma menugasi diri dengan khatam. Buku justru “digerakkan” menjadi tulisan-tulisan memuat sebal, kagum, kritik, sedih, curiga, marah, dan ragu. Ia bermata buku. Ia penabur kata.

Kalimat-kalimat terpikir dengan mengantuk akibat Naya peka membaca buku berjudul Kisah Seekor Camar dan Kucing yang Mengajarinya Terbang gubahan Luis Sepulveda: “Beberapa orang mengira jika buku adalah segala-galanya: apa-apa buku, melakukan ini harus baca buku, sedikit-sedikit harus melihat buku. Tapi di buku ini, Luis Sepulveda justru bilang jika buku-buku yang kamu baca bukan segala-galanya. Buku tidak selalu menyelesaikan masalahmu.” Ah, kalimat-kalimatmu membuatku mesem sebelum tidur. Jeda dari buku dengan tidur mungkin kebaikan (tak) berpahala. Tidurlah, buku! Tidurlah, manusia!

Baca juga:  Menelisik Wahabi (9): Kitab Wahabi Karya Mbah Faqih Maskumambang yang Terkenal Itu

Naya terbiasa mengutip isi buku dalam memberi tanggapan-tanggapan. Di sela paragraf-paragraf mengacu buku terbaca, ia menggodaku dengan kesanggupan memberi pendapat-pendapat. Sekian hal bisa berkaitan bacaan: dekat dan jauh. Ia menjadi pembaca tak mau sia-sia. Buku-buku terpikirkan setelah membaca, terpikirkan menghasilkan tulisan-tulisan ketimbang “terkutuk” sebagai pembaca termangu.

Aku menduha babak-babak menjadi pembaca buku, Naya tak pernah terpengaruhi buku berjudul panjang susunan M Leonhardt: 99 Cara Menjadikan Anak Anda “Keranjingan” Membaca (1999). Buku laris dipelajari para orangtua menginginkan bocah-bocah mengenali dan ketagihan buku. Di situ, kita mendapat petunjuk-petunjuk minta diamalkan. Buku garapan orang asing, mengesankan berhak memberi petunjuk bagi bapak dan ibu di Indonesia jarang memiliki pengetahuan atau rumus mencipta persekutuan bocah dan buku. Petunjuk terberikan: “Anak-anak yang gemar membaca akan mempunyai rasa kebahasaan yang lebih tinggi. Mereka akan berbicara, menulis, dan memahami gagasan rumit secara lebih baik.” Semula, petunjuk bagi orang-orang hidup di negara-negara sana sering terkabarkan memiliki sejarah membaca sudah ratusan tahun, bukan lekas mengingatkan situasi di Indonesia.

Paragraf memuat kalimat: “Aku tidak tahu apa maksud Arthur Golden dalam novelnya ini. Apakah dia benar-benar ingin merusak nama baik geisha? Padahal yang merusak nama geisha itu justru perang, kelaparan, dan para tentara Amerika. Dan di dalam novel ini, Arthur Golden juga mengatakan jika sejak awal sejarahnya geisha memang seorang perempuan penghibur yang menggoda laki-laki. Mereka simpanan para laki-laki kaya dan berkuasa.” Sangsi dan kemarahan Naya, terbaca setelah mataku terbuka dan minum kopi di cangkir kecil. Babak membuka mata menjelang menonton ulah Salah dan Mane. Selera bahasa Naya itu sudah “pukulan” dan mempertimbangkan adab dalam serangan atas gagasan-gagasan disangka keliru. Ia membaca novel berjudul Memoirs of Geisha dengan mata “membara” dan pikiran-pikiran berani melawan. Aku menerima “marah” itu sambil menikmati roti murahan, seharga seribu rupiah. Roti mustahil mengalahkan “kelezatan” buku persembahan Naya.

Baca juga:  Memberi Daging pada Belulang Sejarah Solo dalam Novel Mahbub Djunaidi (2-habis)

Halaman demi halaman terbaca, mata makin terbuka meski lampu tak terang. Aku tak ingin mengakhiri Minggu sebelum khatam. Buku di pangkuan. Posisiku tak lagi terbaring. Naya telah membikin cemburu dan memberi tantangan-tantangan selaku pembaca “cerewet” dengan sodoran tulisan-tulisan sering panjang.

Ia memberi pertimbangan setelah khataman novel berjudul Tahun Penuh Gulma gubahan Siddhartha Sarma: “Oh, buku ini masuk dalam kategori buku remaja dengan ketebalan 247 halaman tanpa ilustrasi. Tapi menurutku, buku ini bisa dibaca anak-anak mulai kelas lima sekolah dasar. Mungkin beberapa anak akan bilang kalau buku ini terlalu berat. Apalagi tebal dan tanpa ilustari. Tapi itu tergantung seberapa luas pengathuan pembacanya, sih!” Aku mengangguk dan paham. Naya menjadi “penilai” buku berkaitan sasaran pembaca. Ia memiliki pengalaman membaca ratusan buku, paham dengan percakapan-percakapan bertema perbukuan, dan mengamati lakon perbukuan di Indonesia tak melupa situasi global. Novel itu memicu Naya bersikap keras dan mahir berargumentasi sebagai pembaca mengetahui masalah-masalah pelik terjadi negara sana, bisa pula terjadi di Indonesia.

Naya itu pembaca bertanggung jawab. Aku meragu bila Naya pernah terpengaruh buku laris garapan Hernowo berjudul Mengikat Makna (2001). Buku berisi kita-kiat dan bertaburan nasihat bagi orang-orang menjadi pembaca dan “pengikat makna”. Di situ, ada pengajaran cara membaca dan mengutip. Konon, selera kutipan menentukan hikmah buku dan sikap pembaca setelah khatam. Buku ringan tapi laris. Naya belum perlu atau mendingan berjauhan dari buku-buku melulu pamer kiat-kiat menjadi pembaca buku. Naya berhak memilih siasat berbeda dalam capaian sebagai pembaca dan penulis. Ia tetap pengikat makna tanpa harus khatam buku berjudul Mengikat Makna. Aku malah menantikan tulisan-tulisan kecil kedirian Naya bertautan dengan masa bocah Sartre, Borges, dan Orhan Pamuk. Naya berhak pula menuliskan kedirian sebagai pembaca buku dengan acuan biografi para perempuan memberi warisan buku-buku klasik untuk dunia.

Baca juga:  Sabilus Salikin (12): Wasilah

Pada suatu hari, Naya menulis keinginan: “Selain itu, aku juga ingin ada perpustakaan atau tempat yang asik untuk membaca di mana saja, seperti di sisi trotoar, di stasiun, di pasar, dan di manapun. Perpustakaan bukan hanya di gedung-gedung. Mungkin tidak semua anak-anak atau orang-orang suka berada di dalam gedung. Jadi lebih baik membuat perpustakaan kecil di banyak tempat.”

Tulisan itu mungkin tak terbaca para pejabat di Perpustakaan Nasional keseringan membuat “berita-berita” keberhasilan pelbagai program di koran-koran. Usulan pernah tertulis dan tersampaikan belum tentu terpikirkan pejabat-pejabat mengaku memiliki perhatian besar dan bertanggung jawab atas ribuan perpustakaan di seantero Indonesia. Naya mungkin wajib iseng berpidato di Perpustakaan Nasional untuk memberi lelucon dan tuntutan. Aku pun memilih menghuni ruman dalam membaca buku-buku ketimbang masuk gedung perpustakan sering menghabiskan duit. Konon, gedung dan beragam fasilitas selalu menjadi berita terpenting perpustakaan di Indonesia. Berita bukan buku tapi duit.
Buku selesai terbaca. Minggu hampir rampung.

Di televisi, Salah dan Mane tak membuat gol. Sedih. Mataku mengantuk dan berharap tidur bersama buku-buku saja ketimbang mengumbar makian. Duh, Liverpool kalah! Sedih setelah Minggu berganti Senin. Aku masih mungkin mesem gara-gara buku persembahan Naya. Tidur saja berharapan mengimpikan masuk labirin buku. Begitu.

Judul : Kucing, Lelaki Tua, dan Penulis yang Keliru
Penulis : Abinaya Ghina Jamela
Penerbit : Gorga
Cetak : 2021
Tebal : 162 halaman
ISBN : 978 623 60530 34

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top