Sedang Membaca
Resensi Buku: Catatan Mbak Admin
Penulis Kolom

Guru Madrasah Ibtidaiyah.

Resensi Buku: Catatan Mbak Admin

Resensi buku: Catatan Mbak Admin

Sejak Ramadhan tahun 2017 jagat maya disuguhi ‘Ngaji Ihya’ yang digagas oleh Gus Ulil Abshar Abdalla melalui akun Fecebook miliknya. Ulil yang pernah mengeyam Pendidikan di Barat tidak bisa dipungkiri lahir di lingkungan pesantren dan tumbuh dewasa dalam perut pesantren. Sebagai santri, Gus Ulil merasa rindu suasana ngaji dengan metode tradisional, yaitu metode bandongan: Kiai membaca teks, diberikan “makna gandhul” (Interlinear translation), diberikan keterangan sekadarnya, sementara para santri menyimak dan mendengarkan.

Kerinduan Gus Ulil ini ditangkap dengan ide cerdas Mbak Ienas Tsuroya yang mengusulkan menyiarkan secara langsung melalui akun Fecebook, kebetulan saat itu ada fitur yang cukup baru, live streaming (siaran langsung). Dengan fitur ini, Gus Ulil berfikir tidak perlu lagi punya pesantren di darat. Cukup menyediakan alat sederhana: telepon seluler, microfon, tripod, dan kabel sekadarnya. Dan, bismillah, terlaksanakanlah keinginan saya itu: ngaji kembali dengan cara tradiosional,”Ungkap Ulil dalam prolog”.

Diluar dugaan, Mas Ulil dan Mbak Ienas ngaji ihya digandrungi banyak santri online dalam negeri dan juga luar negeri seperti Malaysia, Hongkong, Boston, Maroko dan lain-lain. Para santri online yang  kemudian mengusulkan kepada Mbak Ienas (yang kemudian dikenal mbak admin) untuk mengadakan kopdar ngaji Ihya’ sekaligus halal bi halal di Omah Btari Sri, Jakarta Selatan setelah lebaran tahun 2017. Acara kopdar perdana yang didukung oleh beberapa sahabat, penerbit Mizan, dan NU Online sukses besar. Jumlah pesertanya melebihi perkiraan kami.

Baca juga:  Mendaras "Pada Sebuah Kapal" Karya Nh. Dini

Kesuksesan kopdar perdana ini membuat beberapa santri Online di luar kota menyatakan keinginannya untuk menggelar acara serupa di kotanya. Mas Ulil kemudian menyanggupi dengan syarat diadakan sesederhana mungkin.

Dalam catatan buku mbak admin ini tercatat kopdar pertama di luar kota adalah di Purwokerto pada September 2017 di rumah Joglo Gatra Mandri, kediaman K.H Abbas Mu’in, salah satu ketua PBNU periode 2015-2020. Setelah dari Purwokerto kopdar Ihya’ dilanjut di Yogyakarta tepatnya di UNU Yogyakarta. Kapdar ini dicatat oleh mbak admin sebagai rekor baru, karena berjalan selama 4 jam sampai pukul 23.30 WIB. Wow!

Dalam berjalannya waktu kopdar Ihya semakin diminati santri online dan berjalan dari satu kota ke kota yang lain. Rupanya ini membuat ‘cemburu’ santri online yang berada di luar negeri dan berkeinginan mengadakan Kopdar juga. Dalam buku catatan mbak admin mencatat beberapa negara yang disinggahi kopdar Ihya seperti: Korea Selatan dan Boston.

Dalam perjalan kopdar Ihya di berbagai kota, Mas  Ulil dan Mbak Admin selalu meluangkan waktu untuk sowan ke kyai setempat, seperti saat kopdar Ihya di PCNU Mojokerto keesokan harinya Mas Ulil dan Mbak Admin sowan ke ndalem KH Husein Ilyas Mojokerto, seorang kyai sepuh yang menjadi salah satu paku bumi Indonesia. Selain sowan, Mas Ulil dan Mbak Admin juga selalu ziarah makam wali atau makam para tokoh yang telah wafat mendahului kita. Tecatat Ulil pernah berziarah ke Ngelom Sepanjang Sidoarjo, Makam KH. Imron Hamzah dan KH. Qomaruddin, Nyai Ageng Pinatih, Ibu Sunan Giri di Gresik.

Baca juga:  Mengenang Masa Kecil: Ngaji Turutan

Selain kopdar Ihya, dalam buku ini juga merekam perjalanan bedah buku “Menjadi Manusia Rohani” karya pak lurah pondok di tiga kota empat tempat: PBNU Jakarta, UIN Surabaya, UIN dan kafe Jiwajawi Yogyakarta. Peluncuran buku “Menjadi Manusia Rohani” diselenggarakan di PBNU Lantai  8. Dalam peluncuran buku ini turun hadir sebagai narasumber  Prof.Dr. Komaruddin Hidayat dan KH Ahmad Ishomuddin, yang tidak diragukan lagi kepakarannya. Selain itu hadir pula para intelektual muda NU seperti : Mas Rumadi Ahmad, ketua Lakpesdam PBNU yang baru saja bukunya diterbitkan alif.id dengan judul ‘Keberagaman Islam Nusantara: Respon Atas Isu-Isu Kontemporer’. Mas Ahmad Suaedy, yang meraih doktor dengan meneliti kebijakan KH Abdurrahman Wahid dalam menyelesaikan konflik Aceh dan Papua. Mas Abdul Muqsith Ghozali, aktivis LBM PBNU yang secara mendadak diminta oleh panitia, Hamzah Sahal untuk ikut memberikan sambutan. Seperti biasa, Mas Muqsith selalu keren saat berpidato, cerdas, sekaligus kocak sambal menukil kitab Al-Hikam dan Ihya’ lengkap dengan halamannya.

 

 Judul Buku     : Catatan Mbak Admin

Penulis             : Ienas Tsuroiya

Penerbit           : Afkaruna.Id

Tebal               : 272 halaman

ISBN               : 978-623-93728-5-9

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top