Sedang Membaca
Meresapi Nilai Tradisi Sedulur Sikep

Dokter hewan. Memiliki hobi membaca serta mendengarkan musik. Memiliki motto hidup “kejujuran merupakan akar dalam kehidupan”. Guide (virtual) Indonesia Generasi Literat

Meresapi Nilai Tradisi Sedulur Sikep

Sedulur Sikep Blowanews.com

Pengantar: Komunitas Generasi Literat yang didirikan oleh aktivis perempuan Milastri Muzakkar menginisiasi kegiatan #MerayakanMerdekaDariRumah. Proyek ini mengajak anak muda dari berbagai daerah untuk menggali kembali dan menuliskan nilai-nilai persatuan dalam kearifan lokal di berbagai daerah di Indonesia, yang sangat penting untuk dipraktekkan di masa pandemi.  Karena itu,  mereka disebut “Guide (virtual) Indonesia”, yang mengajak para pembaca untuk berwisata ke berbagai daerah. Generasi Literat memilih cara ini untuk merayakan merdeka dari rumah sebab kegiatan ini memiliki dua kekuatan: anak muda dan kearifan lokal. Keduanya adalah modal besar yang dimiliki Indonesia sebagai bangsa yang beradab dan maju. Untuk itu, mulai Minggu, 16 Agustus 2020 hingga sepuluh hari ke depan, alif.id akan memuat karya para Guide (virtual) Indonesia Generasi Literat. Dirgahayu Republik Indonesia. Salam literasi.

Jika mendengar kata Jawa Tengah apa sih yang terlintas di pikiran kalian? Apakah Gunung Merapi? Keindahan pantainya? Candi Borobudur dan  Prambanan? Nyadran? Atau malah lumpia Semarang?

Kali ini, saya bukan mau bercerita tentang semua itu. Tapi saya mau mengajak kalian untuk mengenal lebih dekat mengenai sebuah kampung adat yang terletak di Kabupaten Blora. Sebelum mengenal lebih jauh tentang kampung adat tersebut, lebih baik kita mengenal wilayahnya terlebih dahulu ya!

Kabupaten Blora berada di 127 km sebelah Timur Semarang. Kabupaten Blora ini berbatasan langsung dengan Provinsi Jawa Timur. Tahu tidak, jika penghasil utama minyak bumi di Pulau Jawa berada di bagian timur dari kabupaten ini. Menurut cerita, nama Blora sendiri berasal dari kata ‘belor’ yang berarti lumpur. Kemudian berkembang menjadi ‘mbeloran’ yang akhirnya sampai sekarang lebih dikenal dengan nama Blora.

Di Kabupaten Blora, ada satu desa adat yang lebih dikenal dengan kampung adat Samin atau yang biasa juga disebut dengan “sedulur sikep. Nah, desa ini yang akan saya ceritakan. Nama “Samin” sebenarnya diambil dari nama tokoh masyarakat yang bernama Samin Surosentiko.

Pasti kalian bertanya-tanya, siapa sih Samin Surosentiko itu? Samin Surosentiko dilahirkan pada tahun 1859 di Desa Ploso, Kediren, sebelah utara Randublatung, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, dengan nama asli Raden Kohar.  Ayah Raden Kohar adalah Raden Surowijaya.

Ia  bekerja sebagai Bramacorah (penjahat yang sehari-harinya bergaul dengan masyarakat, tetapi pada suatu saat tidak segan-segan melakukan kejahatan, seperti merampok) untuk kepentingan orang-orang desa yang miskin dari daerah Bojonegoro, Jawa Timur.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Baca juga:  Kata Nabi Muhammad Saw: Setiap Bangsa Punya Cara Sendiri Merayakan Idul Fitri

Nama Raden Kohar berubah menjadi nama Samin. Nama Samin sendiri dipilih karena lebih bernafas kerakyatan. Samin Surosentiko merupakan anak kedua dari lima bersaudara, yang semuanya adalah laki-laki. Di desanya, Samin Surosentiko disamakan dengan Bimasena ”Wekudara”, putra kedua dari lima bersaudara dan kesemuanya laki-laki, yakni Pandawa dalam mitologi wayang, dan kemudian oleh anak didiknya disebut sebagai Ki (kiai) Surosentiko. Samin Surosentiko merupakan seorang petani lugu dan kaya (Hutomo, 1996:14), sebab ia memiliki tanah sawah seluas tiga bau atau lima are (Benda & Castles, 1969:210), satu bau ladang dan enam ekor sapi.

Sedulur Sikep
Tradisi Sedulur Sikep jelang bulan Suro (Sumber: inibaru.id)

Bagaimana cara Samin melawan kolonial pada saat itu? Sekitar tahun 1890, saat usianya  31 tahun, Samin Surosentiko mulai menyebarkan ajarannya. Para pengikutnya ialah warga dalam satu desa, yang pada akhirnya berkembang hingga ke desa-desa lainnya. Pada Januari 1903, Residen Rembang melaporkan bahwa pengikut Samin berjumlah sekitar 772 orang di desa-desa Blora selatan, sebagian di wilayah Bojonegoro.

Ada juga pengikut Samin yang berasal dari Ngawi dan Grobogan. Selanjutnya, pada tahun 1906 pengikut Samin ada di wilayah Rembang. Penyebar ajaran Samin di wilayah ini adalah menantu laki-laki Samin, yakni Surokidin dan Karsiyah (Benda dan Cantles, 1959:211). Di tahun berikutnya, pengikut Samin mencapai 3000 orang.

Pesan Kerudung Bergo

Para pengikut Samin  giat mengembangkan ajaran Samin, terutama tentang tidak adanya kewajiban membayar pajak kepada pemerintah kolonial serta mulai enggan menyetor padi ke lumbung desa.

Pada 1907, Samin diangkat oleh pengikutnya sebagai “ratu adil” atau “ratu adil Heru Cakra” dengan gelar prabu panembahan suryangalam. Para pengikut ini menganggap Samin berjasa dalam menentang pihak kolonial yang telah mengganggu masyarakat, terutama pajak yang dibebankan oleh pihak kolonial kepada masyarakat kecil.

Semakin banyaknya pengikut Samin membuat pihak kolonial mulai khawatir, sehingga mereka menyebarkan isu bahwa Samin serta pengikutnya akan melakukan suatu pemberontakan. Pada saat pengikut Samin berkumpul untuk melakukan selametan, kegiatan ini dianggap bahwa orang-orang akan melakukan persiapan untuk melakukan perlawanan kepada pihak kolonial. Hal ini membuat pamong desa geram dan jengkel, sehingga membuat mereka membenci pengikut Samin.

Baca juga:  Nasirun, Tarekat dan Imajinasi Kebudayaan

Empat puluh hari setelah dikukuhkan sebagai ratu adil, Samin ditangkap bersama delapan pengikutnya. Ia diinterogasi dan diasingkan ke daerah Sumatera, hingga akhirnya meninggal. Namun, meski Samin telah meninggal,  perjuangan pengikut Samin tetap berlanjut. Mereka berusaha menggembangkan ajaran Samin ke berbagai daerah.

Mereka menghasut orang-orang yang berada di desa untuk tidak membayar pajak ke pihak kolonial. Puncaknya pada tahun 1914, di mana pajak yang dibebankan kepada warga semakin tinggi sehingga membuat masyarakat semakin membenci pihak kolonial.

Untuk mengantisipasi semakin berkembangnya ajaran Samin, pihak kolonial menyerang dan membakar desa pusat pertahanan pengikut Samin di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Banyak pengikut Samin yang terbunuh, sedangkan yang selamat tercerai-berai. Pihak kolonial akhirnya melarang ajaran Samin dan mengancam masyarakat yang menyembunyikan pengikut Samin yang masih selamat.

Selain itu, pihak kolonial juga menyebut pengikut Samin sebagai kaum perampok dan penjahat, sehingga masyarakat Jawa menolak keberadaan pengikut Samin. Pada akhirnya, para pengikut Samin pun menutup diri dari lingkungan luar. Mereka baru mengetahui jika Indonesia telah merdeka pada sekitar tahun 1970.

Dalam menjalani kehidupan sehari-hari, masyarakat Samin senantiasa menjaga kerukunan antar sesama. Di antaranya yang dapat dijadikan dasar prinsip berinteraksi sosial pertama,  “lung tinulung, tang piutang, nyileh kudu mbalekno, lan utang kudu nyaur” (saling menolong, saling menghutangi, meminjam harus mengembalikan, dan hutang harus dibayar).

Kedua, “dipager betis tembok, ijeh aman dipager mangkok” (jika mengharapkan keamanan sosial, bukan karena rumah dipagar tembok, tetapi memagarnya dengan pagar makanan).

Ketiga, “sedulur sikep kudu iso nglakoni ngalah, gunem sekecap tutuke pangan secokotan. Barang apik nak iso ora kanggo dewe” (Samin harus mengalah, sedikit berbicara hingga makanan satu gigitan).

Keempat, “gunemem iki saiki mbok dol sewu ora payu. Mbesok, mbok dol sekethi ora ngedoli, kuwe mbesuk diluru dulur” (ungkapanmu sekarang dijual murah tidak laku, kelak dibeli mahal tidak kau jual, kamu kelak dicari saudaramu) (Baca: Rosyid, 2010).

Kearifan lokal berupa ajaran masyarakat Samin atau biasa mereka sebut “sedulur sikep” diungkapkan dengan bahasa Jawa, meliputi ajaran tentang larangan mengumbar hawa nafsu, ajaran agar tidak berbuat jahat, serta ajaran tentang larangan menyakiti orang lain, panutan hidup, memegang teguh ucapan, hukum karma, kejujuran, agama, hal-hal yang mustahil, hak milik dan istri, berbakti pada orang tua, melestarikan lingkungan, dan etika kerja.

Baca juga:  Sajian Khusus: Semesta Muhammad Iqbal

Satu kearifan lokal ajaran Samin yang dinyatakan dengan bentuk kata, khususnya kata ulang putih-putih ‘putih-putih’, abang-abang ‘merah-merah’. Makna kearifan lokal “putih-putih” dan “abang-abang” yaitu, bahwa masyarakat Samin sangat menjunjung tinggi kejujuran. Semua hal harus dinyatakan apa adanya, tidak perlu ada yang ditutup-tutupi.

memang putih dikatakan putih, kalau merah dikatakan merah—kalau memang baik dikatakan­ baik, kalau salah dikatakan salah. Kearifan lokal ini sangat melekat pada kehidupan masyarakat Samin, bahkan sudah dianggap sebagai pegangan hidup. Oleh karena itu, masyarakat Samin terkenal sebagai masyarakat yang sangat jujur dan menghargai kejujuran (Baca: Mardikantoro, 2013).

Di tengah derasnya arus modernisasi yang berimbas pada gaya hidup materialis, individualis dan hedonis, masyarakat Samin masih mempraktekkan ajaran Samin  dalam kehidupan sehari-hari. Meski begitu, masyarakat Samin bukan tidak mungkin mengikuti perkembangan yang ada. Mereka juga tak bisa menutup diri atau menghindar dari perkembangan yang terjadi di semua lini kehidupan.

Secara tidak langsung, dalam ajaran Samin tercermin nilai-nilai pancasila, yaitu pentingnya mengutamakan kejujuran serta tidak boleh mengambil hak milik orang lain. Menurut Mohamad Mustari (2013), jujur adalah perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai seorang yang dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan—apa yang dilakukan harus sesuai dengan keadaan yang sebenarnya.

Kejujuran serta tidak diperbolehkannya mengambil hak orang lain tercermin dalam sila ke 2 dan 5. Ketika kita menerapkan nilai Pancasila ini, berarti kita sudah menjadi adil untuk diri sendiri maupun orang yang berada di sekitar kita. Ada pepatah yang mengatakan bahwa “kejujuran bagaikan emas permata bagi kehidupan”.

Selain itu, belajar dari ajaran Samin, kita tidak boleh memiliki rasa iri hati, suka mengganggu orang,  sombong atau pun suka bertengkar. Kita dapat menegakkan keadilan dan harus menghargai setiap orang yang memiliki latar belakang yang berbeda dengan kita, karena hal itu dapat digunakan untuk mencapai kesejahteraan lahir maupun batin sehingga membentuk suatu tatanan masyarakat yang lebih nyaman, damai dan sejahtera.

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0

Petani Sikep Pahlawanku

Petani Sikep Pahlawanku
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top