Sedang Membaca
Tunas GUSDURian (6): Cerita Tentang Narasi Kampanye Medsos GUSDURian

Penulis adalah redaktur pelaksana Alif.id. Bisa disapa melalui akun twitter @autad.

Tunas GUSDURian (6): Cerita Tentang Narasi Kampanye Medsos GUSDURian

Whatsapp Image 2020 12 16 At 10.34.03 Am

“Menjadi GUSDURian adalah Panggilan Sejarah”

-Alissa Wahid

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Pernyataan Mbak Alissa di atas merupakan quote of the year pada Tunas GUSDURian tahun 2018 di Asrama Haji Yogyakarta. Quote tersebut hingga kini menjadi populer di acara-acara komunitas Jaringan GUSDURian; untuk mengingatkan bahwa menjadi seorang GUSDURian (penerus perjuangan Gus Dur) itu tidak mudah, tidak semua orang mau, tidak semua orang rela waktunya dikhidmahkan untuk ngurusi Indonesia tanpa dibayar secara materi, dan juga tanpa dikasih jabatan. Makanya, patut bersyukur ketika menjadi bagian darinya.

Penulis sendiri bersyukur, pernah terlibat dan bergumul bersama para penggerak komunitas dalam membangun narasi positif di media sosial dalam mengampanyekan narasi Islam Indonesia.

Berawal dari tahun 2016, Jaringan GUSDURian melakukan pemetaan terhadap media sosial dan internet, yang hasilnya menunjukkan bahwa media sosial dan internet banyak digunakan untuk menyebarluaskan pesan-pesan permusuhan dan ekstrimisme. Kami menemukan banyak bukti pesan baik berupa brodcast message, meme, dan video.

Yang menarik adalah narasi yang kami temukan ternyata mempunyai kemiripan narasi ekstremisme dan populisme di negara-negara lain; seperti di Bangladesh, Myanmar, India, Amerika, dan sebagian negara Eropa. Bagaimana narasinya? pertama, soal pesannya, yaitu mendorong seseorang untuk membenci yang berbeda; baik agama, suku, keyakinan, dan identitas, namun aktor-aktornya saja yang berbeda. Di sini yang melakukan Muslim, di sana yang melakukan Non Muslim.

Baca juga:  Esai Gus Dur untuk Pengantar Buku Humor "Mati Ketawa Cara Rusia"

Kedua, pesan-pesan yang disebarkan atas dasar rasa takut, membenci, dan mendominasi (mayoritarianisme). Kasus Al-Ma’idah ayat 51 adalah bukti dari itu. Bagaimana demo berjilid-jilid dilakukan atas dasar rasa takut, benci, dan dominasi. Dalam menanamkan ketakutan serta kebencian, kami menemukan kata kunci yang sampai hari ini masih dipakai, seperti: komunis, antek asing, liberal, yahudi, syiah, LGBT, dan kafir.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Dari dua pola narasi tersebut, ada dua strategi yang dilakukan. Gerakan online dan offline sama-sama jalan. Ada seseorang yang benar-benar rajin bersuara di medsos, bernarasi, membangun opini, dan ada bagian yang aksi turun ke lapangan (demo). Jumlah mereka tidak banyak (kalau diukur dari prosentase jumlah penduduk di Indonesia), namun yang kami pelajari, mereka melakukannya secara kontinyu—narasinya kuat, dilakukan secara istiqomah, dan solid—sehingga terlihat besar.

Oleh sebab itu, bagi kami yang concern di media, tidak asing dengan apa yang terjadi hari ini; ketika terjadi polarisasi dan permusuhan di masyarakat, yang segala hal dipandang serba hitam putih, saling nyinyir, dan saling lapor melaporkan, karena itulah yang sudah ditabung oleh para aktor, baik tokoh agama maupun politisi sejak tahun 2016 (sebagaimana yang kami temukan).

Penulis memandang, harus ada kesadaran dari semua pihak jika ingin kembali menjadikan Indonesia sebagai rumah bersama; yang aman, tentram, damai, dan berkeadilan. Kesadaran untuk saling bersabar, kesadaran berindonesia, kesadaran saling memahami satu sama lain, dan kesadaran untuk berjiwa besar; tidak mengedepankan ego dan nasfu sesaat.

Baca juga:  Kita dan Elan Vital Pendidikan

Tentu, itu PR yang sangat besar. Namun, PR itu bisa diselesaikan jika para stakeholder maupun masyarakat berpegang pada nilai-nilai yang luhur. Oleh sebab itulah dibutuhkan ‘semangat’ dari sosok yang bisa mengayomi semua, sosok yang memiliki track reccord saleh secara individu maupun sosial. Kami yakin, itu ada dalam diri Gus Dur.

Membangun Narasi: Bertunas dan Bertumbuh

Dari Gus Dur, kami mengambil inspirasi dan nilai yang telah beliau wariskan kepada para murid dan sahabatnya untuk mengimbangi narasi-narasi kebencian dan kekerasan di media sosial. Kami mencoba membangun alternatif narasi yang lebih menyejukkan, mendamaikan, bukan ingin mengajak berperang atau penggal-penggalan.

Kami kemudian melihat bagaimana karakter atau ciri-ciri orang Indonesia dan Gus Dur itu sendiri; yang humoris, suka silaturrahim, hormat pada orang lain, tawadlu’, berbudaya luwes, senang syukuran, dermawan tanpa menunggu sejahtera, peduli kepada saudara yang sedang susah, suka berziarah, menghargai tradisi leluhur, dan mudah memaafkan.

Dari situ lalu kami kembangkan yang kemudian menjadi narasi besar: Islam Indonesia. Lalu kami terjemahkan narasi besar Islam Indonesia dalam bentuk meme, video, dan utas (broadcast message). Alhasil, banyak orang yang suka dengan video/meme kami. Mereka menyebarkan dengan sendirinya. Organik, tanpa buzzer (bayaran). Dari gerakan-gerakan yang kami lakukan, salah satunya di media sosial, alhamdulillah GUSDURian mendapatkan sejumlah penghargaan. Bagi kami, penghargaan-penghargaan itu semua bukan tujuan. Itu sekadar bonus dari apa yang kami kerjakan.

Baca juga:  Sajian Khusus: Humor Anak-anak dan Tuhannya

Pada tahun ini, Jaringan GUSDURian menggelar temu nasional secara daring, dari tanggal 7-16 Desember. Kami berharap di acara temu nasional tersebut menghasilkan rumusan strategi yang bisa dilakukan oleh para GUSDURian di daerah-daerah sebagaimana yang dicita-citakan oleh Gus Dur, untuk kemaslahatan rakyat.

Menjadi GUSDURian adalah panggilan sejarah merupakan perjuangan yang dilakukan bukan kok tanpa strategi atau serampangan. Dengan bertunas, justru GUSDURian akan bertumbuh, bertumbuh menjadi jaringan yang keberadaannya tidak untuk menakut-nakuti orang lain yang berbeda pandangan. Juga bukan untuk bertumbuh menjadi jaringan yang menghakimi saudara sebangsa dengan sesat dan kafir. Juga bukan bertumbuh untuk menyombongkan diri dengan memakai segala atribut atau baliho yang ingin menunjukkan hendak berkuasa, berpolitik praktis.

Yang kami harapkan GUSDURian menjadi jaringan yang bertumbuh menjadi rumah bersama bagi semua, sebagaimana tema Tunas 2020: menggerakkan masyarakat, memperkuat Indonesia. Tema tunas tersebut menjadikan kami semakin yakin kalau Gus Dur masih ada dan selalu mendoakan perjuangan kami. Terima kasih Gus Dur, sudah mewariskan nilai-nilai luhur untuk kami dan untuk Indonesia.

Pesan Kerudung Bergo
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top