Sedang Membaca
Saat Lelaki yang Sedang Kangen dan Seorang Ahli Bahasa Berbalas Syair
Mohammad-Nasif
Penulis Kolom

Alumni Pesantren Liroboyo, Kediri

Saat Lelaki yang Sedang Kangen dan Seorang Ahli Bahasa Berbalas Syair

1 Lelaki

Pemuda yang mengalami kasih tak sampai dan tiba-tiba bisa membuat puisi itu adalah hal yang biasa. Namun bila ia menyusun syair dan sempat berbalas syair dengan seorang tokoh ulama yang mumpuni dalam berbagai ilmu, itu bisa jadi bukan hal biasa. Bukan syair biasa yang bisa mendapat perhatian seorang ahli bahasa, apalagi ahli bahasa tersebut adalah Imam al-Asmu’i; sosok yang dijuluki hujjatul adab dan lisanul arab.

Imam al-Asmu’i adalah seorang ahli gramatikal Arab kenamaan yang berasal dari Basrah, Irak. Beliau hidup pada sekitar tahun 120 H. Banyak ulama terkenal yang mengambil ilmu dari beliau. Salah satunya adalah Imam Malik ibnu Anas; pendiri Mazhab Malikiyah. Imam Mubarrad pernah berkata, ilmu Imam al-Asmu’i dalam permasalahan tata bahasa Arab seperti lautan.

Lelaki yang Sedang Kangen dan Al-Asmu’i Berbalas Syair

Imam al-Absyihi dalam kitabnya yang berjudul Al-Mustatrafah Fi Kulil Fannin Mustadraf mendokumentasikan sebuah cerita. Cerita ini diceritakan langsung oleh Imam al-Asmu’i.

Imam al-Asmu’i bercerita bahwa suatu kali ia berjalan di sebuah desa. Lalu ia melewati sebuah batu yang bertuliskan sebuah bait syair:

أَيَا مَعْشَرَ الْعُشَّاقِ بِاللهِ خَبِّرُوا … إِذَا حَلَّ عِشْقٌ بِالْفَتَى كَيْفَ يَصْنَعُ

Wahai orang-orang yang merindukan Allah beritahukanlah padaku, apabila kangen menghampiri seorang pemuda apa yang musti ia perbuat

Lalu Imam al-Asmu’i membalas syair tersebut dengan menuliskan di bawahnya:

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

يُدَارِي هَوَاهُ ثُمَّ يَكْتُمُ سِرَّهُ … وَيَخْشَعُ فِي كُلِّ الْأُمُوْرِ وَيَخْضَعُ

Ia musti mengabaikan rasa inginnya lalu menyembunyikan rahasianya, dan mengalihkan perhatiannya dengan serius mengerjakan segala sesuau serta menundukkan hati

Sehari setelahnya, Imam Al-Asmu’i kembali lewat dan mendapati si pemuda membalasnya dengan syair:

فَكَيْفَ يُدَارِي وَالْهَوَى قَاتِلُ الْفَتَى … وَفِي كُلِّ يَوْمٍ قَلْبُهُ يَتَقَطَّعُ

Bagaimana bisa ia mengabaikannya sementara rasa ingin tersebut telah membinasakan si pemuda, dan setiap hari hatinya tercabik-cabik

Lalu Imam al-Asmu’i membalas

إِذَا لَمْ يَجِدْ صَبْراً لِكِتْمَانِ سِرِّهِ … فَلَيْسَ لَهُ شَيْءٌ سِوَى الْمَوْتِ أَنْفَعُ

Apabila ia tidak mendapati kesabaran dalam menyembunyikan rahasianya, maka tidak ada sesuatu yang lebih bermanfaat baginya kecuali kematian

Di hari ketiga, Imam al-Asmu’i kembali melewati batu tersebut. Ia berkata: “Di hari ketiga aku kembali lagi. Lalu aku menemukan si pemuda tergeletak di sisi batu tersebut dalam keadaan meninggal. Lahaula wala quwwata illa billah. Ia menulis sebelum kematiannya:

سَمِعْنَا أَطَعْنَا ثُمَّ مُتْنَا فَبَلِّغُوا … سَلَامِي عَلَى مَنْ كَانَ لِلْوَصْلِ يُمْنَعُ

Aku dengar dan aku taati lalu aku mati. Maka sampaikanlah, salamku pada orang yang terhalang melakukan pertemuan

Tentang Kangen dan Kematian yang Diinginkan

Ada dua hal tentang cerita di atas yang mungkin agak sulit difahami oleh pembaca di zaman sekarang. Yaitu tentang rasa kangen serta cuhatan kepada orang yang merindukan Allah, dan tentang tiba-tiba meninggal. Apakah si pemuda itu sedang lebay sehingga mencampur adukkan antara cinta manusia kepada Allah? Apakah kematian lelaki itu disebabkan bunuh diri?

Melihat masa hidup Al-Asmu’i, maka akan didapati banyak cerita-cerita serupa. Imam al-Asmu’i hidup di antara tahun 120 – 216 H. Beliau termasuk Atbauttabi’in; generasi mulia setelah Tabiin. Dan termasuk rawi yang dinilai jujur serta guru dari Imam Muslim, Abu Dawud dan At-Tirmidzi. Di masa itu banyak hidup para tokoh sufi terkemuka. Dan banyak berkembang kisah-kisah cinta dan kerinduan yang dialami para sufi.

Kisah-kisah cinta dan kerinduan yang dialami para sufi di zaman itu seringkali berkaitan dengan dilema antara memilih melampiaskan cinta pada perempuan serta abai pada perintah Allah, atau memilih mentaati perintah Allah dan bersabar menghadapi gejolak hawa nafsu. Ini merupakan dinamika kehidupan para sufi. Yang di satu sisi amat menjaga kedekatan dengan Allah, dan di sisi lain tak bisa lepas dari sisi manusiawinya. Tidak seperti sekarang yang jauh dari tradisi tasawuf dan hanya menjadikan tuhan hanya pelampiasan kekecewaan semata.

Di masa itu juga sering diceritakan tentang kematian yang diminta datang, dan akhirnya sang peminta meninggal. Ini bukan sebuah praktik bunuh diri dengan semacam racun atau senjata tajam. Para sufi adalah orang yang luas dan mendalam pemahaman syariatnya, sehingga pasti tahu bunuh diri haram hukumnya. Kematian tersebut adalah semacam kelebihan para sufi yang memiliki keramat dapat meminta sesuatu kepada Allah, dan mudah untuk dikabulkan.

Baca juga:  Lirik Lagu “Aisyah”, Novel, dan Buya Hamka
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top