Sedang Membaca
Mengupas Novel Perdana Goenawan Mohamad

Mengupas Novel Perdana Goenawan Mohamad

Arif Saifudin Yudistira

Penantian itu pun terjawab sudah. Goenawan Mohamad (GM) akhirnya menulis novel perdananya. Setelah giat menulis esai, dan puisi, ia merambah menjadi penulis naskah teater, hingga akhirnya menerbitkan novel.

Di usia yang renta, energinya seperti tak pernah habis untuk berkarya dan terus belajar. Ia seperti tak puas dengan menulis esai. Sebagai sastrawan, ia pun menulis novel. Jejak GM sebagai seorang kritikus sastra bisa kita temukan di buku maupun esai-esainya yang mengulas novelis ataupun penyair Indonesia. Kini, ia sendiri bereksprerimen dengan novel yang ditulisnya.

Novel Surti+ Tiga Sawunggaling mengangkat batik sebagai sebuah latar cerita. Tiga motif burung dalam batik ini kemudian dinamai Tiga Sawunggaling. Burung-burung ini pun menjadi tampak hidup saat berubah menjadi teman yang hidup dalam imajinasi tokoh utama (Surti).

Tiap malam mereka hinggap di antara daun-daun pakis yang mulai kugoreskan klowngannya. Mereka seakan-akan tak menatapku, tapi aku tahu mereka mengerti mereka bukan lagi sekadar garis dan titik yang keluar dari Canthing (h.10).

Anjani, Baira, dan Cawir ketiga Sawunggaling ini pun menjadi seperti tokoh yang keluar masuk panggung seperti dalam pementasan. Ini seperti memperkokoh pengakuan GM bahwa novel ini semula diangkat dari pengembangan lakon pementasan.

Ada dua tema pokok yang menjadi perhatian novel ini. Batik dan revolusi. Novel ini mengangkat satu latar penting setelah dua tahun pasca-Indonesia merdeka, saat Belanda melancarkan agresi militer pertama tepatnya pada 1947. Mengambil setting di daerah Pekalongan utara, GM membuat batik menjadi aroma yang kental di novel ini. Batik di sini tak hanya identik sebagai sebuah aktivitas perempuan, tapi juga lekat dengan nuansa psikologis yang kuat.

Baca juga:  Dakwah Sebagai Media Transformasi Sosial (3): Menjembatani keragaman dan menguatkan kemanusiaan

Surti tokoh utama novel ini digambarkan rutin melakukan aktivitas membatik semenjak suaminya Jen sering menghilang dari rumah. Jen adalah tokoh yang misterius yang hadir di kehidupan Surti. Keberhasilannya memikat hati Surti tak lain karena Jen adalah teman sang Ayah. Di masa revolusi, tokoh misterius bukan hal yang asing. Mereka tak hanya sedang melakukan penyamaran, tapi juga melakukan gerilya. Sebab antara musuh, rekan begitu susah dibedakan kala itu.

Cerita revolusi di sini tak banyak diulas detail. Ada ketidakutuhan cerita, semacam fragmen dari perjuangan kelompok gerilya. Yang menarik kita telisik adalah hadirnya tokoh Sunarto. Ia merupakan keturunan bangsawan, menjadi guru, tapi di novel ini kita melihat ada sekilas penggambaran perilaku keji yang ia perbuat.

Aku ingat Nyah Su menceritakan apa yang mengagetkan itu dengan berbisik: pada suatu siang, sepulang dari pabrik, Pak Munajad menemukan istrinya tertidur telanjang—kain dan bajunya terserak di lantai—pulas di sebelah tubuh guru dari timur itu (h.42).

Meniduri istri pemilik kos, menjadi secuil cerita dari kehidupan guru sekaligus gerilyawan itu. Revolusi menjadi cerita tak utuh, tak heroik, seperti usaha untuk lari dan sembunyi semata. Ada kesan pengampunan dari sebuah perilaku amoral dari tokoh yang dihadirkan GM.

Baca juga:  Fragmen Syekh Arsyad Al-Banjari

Sebuah Misteri

Ada “misteri” yang masih mengganjal kala kita membaca novel GM. Ia seperti hendak membiarkan pembaca menaruh tafsir sendiri atas novelnya. Kita tak sepenuhnya mendapati gambaran konflik yang utuh. Hanya ada gejolak amarah, perasaan tak terima, dan luka batin yang ritmis dari seorang Surti yang melihat suaminya menghilang berkali-kali.

Ada perasaan takut kehilangan, meski tak disampaikan secara langsung. Hanya dipendam dalam diam, dan dialirkan lewat kain mori yang jadi medium membatiknya bersama tiga Sawunggalingnya. Peranan Belanda dalam menyerang rakyat kala itu pun tak begitu dijelaskan terang. Suara tembakan hampir tiap malam, seperti dianggap mampu menjelaskan perang antara rakyat melawan penjajahan Belanda.Suamimu orang komunis, kata salah satu dari mereka (h.92).

Sepenggal kalimat ini seperti menjelaskan kepada pembaca bahwa kala itu, tidak hanya Belanda yang saling bermusuhan, tapi juga orang komunis menjadi hal yang perlu diwaspadai. Kita bisa mengingat bahwa kala itu, satu tahun setelah Agresi Belanda, terjadi pemberontakan PKI di Madiun tahun 1948.

Di tahun 1947, persis saat setting novel ini ditulis, terjadi pula perlawanan Gerilya yang dilakukan di bawah pimpinan Pangeran Diponegoro. Pekalongan juga menjadi tempat yang disinggahi oleh Diponegoro dan para gerilyawan.

Novel Surti+ Tiga Sawunggaling pada akhirnya masih menyimpan misteri. Misteri itu tak hanya terletak pada keganjilan tokoh-tokoh di novel ini, tapi juga terletak pada cara novel ini memotret kejadian kala itu. Meski begitu, GM telah berhasil membuktikan pada apa yang ia katakan saat ia diwawancarai oleh Majalah Playboy (2007) mengenai mengapa ia tak menulis novel.

Baca juga:  Kisah Ulama Khatamkan Alquran Berkali-kali Selama Ramadan

Melalui novel perdana ini, GM telah mencoba teknik baru dalam penggarapan novel yang mirip lakon. Sehingga kita seperti melihat tokoh, adegan yang muncul dan tenggelam di novel ini. Selain itu, GM juga telah berhasil membuat novel ini menjadi kuat bukan pada ide, tema atau konflik tokoh-tokoh di novel ini, tapi pada kekuatan imajinasi. Imajinasi sebagaimana yang pernah ia katakan—merupakan kekuatan terbesar sebuah novel.

GM tak hendak menempatkan peristiwa komunis pada tahun 1948 di Madiun kala itu, atau peristiwa gerilya sebagai sebuah tema besar. Kita justru mendapati tema Surti sebagai tokoh perempuan yang kuat, pasrah, dan melawan arus hidup dengan penuh ketenangan dengan membatik. Batik di sini justru menjadi simbol perlawanan kecil perempuan yang pasrah, tegar, dan kuat menerima takdir.

Judul buku                               : Surti + Tiga Sawunggaling

Penulis                                     : Goenawan Mohamad

Tahun                                      : 2018

Penerbit                                   : Gramedia Pustaka Utama

Halaman                                  : 103 Halaman

ISBN                                        : 978-602-06-1187-7

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top