Sedang Membaca
Kontroversi Pemulangan Keris Pusaka Pangeran Diponegoro dari Belanda: Keris Naga Siluman atau Nagasasra?
Adrian Perkasa
Penulis Kolom

Dosen Departemen Ilmu Sejarah Universitas Airlangga dan PhD candidate di Universiteit Leiden.

Kontroversi Pemulangan Keris Pusaka Pangeran Diponegoro dari Belanda: Keris Naga Siluman atau Nagasasra?

Img 20200312 Wa0006

“There is no formula that can deliver all truth, all harmony, all simplicity. No Theory of Everything can ever provide total insight.”

Kalimat terakhir dalam buku the Three Cultures karangan Jerome Kagan kembali muncul dalam benak saya ketika membaca pro-kontra, terkait pengembalian keris Naga Siluman milik Pangeran Diponegoro oleh Belanda. Tidak tanggung-tanggung, sang raja Belanda sendiri yang langsung menyerahkan kembali keris tersebut pada saat kunjungan kenegaraannya ke Indonesia, 10 Maret 2020. Dari perspektif Indonesia, tentu gestur yang ditunjukkan oleh Belanda ini tentu patut diberi apresiasi.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Sementara Raja Belanda beserta rombongan telah melanjutkan agenda lainnya dalam misi kenegaraannya kali ini di Indonesia, keaslian Keris Naga Siluman yang dikembalikannya justru menyisakan keraguan. Keraguan tersebut menyeruak manakala foto-foto keris Naga Siluman tersebut beredar bahkan viral di khalayak luas. Permasalahan yang paling mengemuka adalah terkait keaslian dari pusaka sang pangeran. Beberapa kalangan mempertanyakan apakah memang benar pusaka yang dikembalikan tersebut adalah benar-benar keris Naga Siluman? Mengingat dari penampakan yang ada di foto-foto justru tidak mengindikasikan identitas bahwa keris tersebut merupakan keris Naga Siluman. 

Kelompok tersebut berargumen bahwa dalam kaidah perkerisan terdapat pengetahuan tertentu berikut istilah-istilah seperti dapur, tangguh, warangka, dan sebagainya yang diwariskan dari generasi ke generasi. Nama Naga Siluman sendiri memang merupakan salah satu bentuk atau dapur keris yang dikenal dalam khazanah perkerisan di Indonesia. Istilah dapur keris adalah penamaan ragam bentuk atau tipe keris. Menurut konvensi yang berlaku umum di masyarakat perkerisan dan tercatat pula dalam buku Ensiklopedia Keris karya Bambang Harsrinuksmo, keris dengan dapur Naga Siluman bisa diidentifikasi dengan adanya bentuk kepala naga dengan moncong menganga di bagian gandik keris. Bentuk kepala naga itu hanya sebatas leher saja dan badannya menyatu dengan bilah keris. Berikut adalah ilustrasi yang ada dalam buku Bambang Harsinuksmo.

Img 20200312 Wa0005
Sumber: buku Bambang Harsinuksmo

Sekarang mari kita bandingkan dengan gambar keris Pangeran Diponegoro yang baru saja dikembalikan oleh Raja Belanda.

Img 20200312 Wa0006
Keris yang baru saja diterima dari kerajaan Belanda

Memang harus diakui dari jauh tidak terlalu tampak mencolok bagian kepala naganya. Hanya saja yang tidak bisa ditampik adalah bagian leher dan badan ularnya tampak menonjol hingga bagian ekor yang berakhir pada pucuk keris tersebut. Kembali merujuk pada penjelasan Ensiklopedia Keris, bentuk naga lengkap dengan badannya yang meliuk mengikuti arah pucuk bilah keris dapat diidentifikasi sebagai keris Nagasasra. Keris Nagasasra sendiri merupakan salah satu bentuk dapur keris terpopuler di Indonesia. Apalagi seiring dengan populernya cerita bersambung Nagasasra-Sabuk Inten karangan S.H. Mintarja. Berikut adalah ilustrasi Keris dengan dapur Nagasasra yang ada dalam Ensiklopedi Keris

Img 20200312 Wa0007
Sumber: Ensiklopedia Keris

Dari sekilas bentuk dapur keris yang baru saja dikembalikan oleh Belanda tersebut memang cenderung lebih mirip dengan bentuk keris Nagasasra. Namun apakah Pemerintah Belanda akan segegabah itu dalam melakukan proses identifikasi keris tersebut? Tentu tidak perlu diulang kembali di sini berbagai berita seputar adanya kajian yang panjang, mendalam, dan dilakukan oleh banyak ahli untuk menemukan keris milik sang pangeran. Bahkan konten berita-berita yang ada pun tak jauh dari laporan riset yang kebetulan saya dapatkan juga dari Museum Volkenkunde Leiden, tempat disimpannya keris tersebut sebelum dikembalikan ke Indonesia. 

Keseriusan Pemerintah Belanda jelas sekali terlihat dalam melakukan kajian terhadap riset ini. Tidak hanya para ahli dari Belanda sendiri yang terlibat, tetapi juga dari negara lain termasuk Indonesia. Sedari awal, telah dilakukan pemilahan agar sesuai dengan kategori antara lain berasal dari Kesultanan Yogyakarta (asal sang Pangeran Diponegoro), bertarikh sebelum tahun 1830 (tahun dimana Pangeran Diponegoro ditangkap), memiliki hiasan naga pada bilah kerisnya (sesuai dengan namanya keris tersebut dan keterangan Raden Saleh maupun Sentot Alibasah), dan terakhir terdapat sisa-sisa emas pada bilahnya (sesuai dengan keterangan Raden Saleh dan Sentot Alibasah). 

Dari ratusan koleksi keris yang tersimpan di Museum Volkenkunde, sampailah pada suatu objek yang memenuhi keempat kriteria tersebut. Menariknya, keris ini sendiri telah melanglang buana hingga ke Amerika Serikat sebagai salah satu benda yang dipamerkan dalam pameran 100 tahun perayaan kemerdekan Amerika Serikat di Philadelphia. Di dalam deskripsinya pun jelas disebutkan bahwa keris ini milik Pangeran Diponegoro. 

Berdasarkan seleksi ratusan keris tersebut, dokumen-dokumen yang masih cukup lengkap tersimpan di kantor arsip, dan proses riset yang berkelanjutan dengan berbagai ahli semakin menguatkan identifikasi keris ini sebagai keris Naga Siluman milik sang Pangeran. Bahkan pada tahap terakhir sebelum benar-benar secara resmi dikembalikan, terdapat dua ahli dari Indonesia yang dilibatkan dalam proses verifikasi kesahihan keris ini.

Lantas mengapa kemudian timbul keraguan hingga memunculkan kontroversi di Indonesia, khususnya di kalangan masyarakat perkerisan? Hal inilah yang kemudian mengingatkan saya terhadap kutipan di awal tulisan ini. Dalam buku the Three Cultures, Kagan menjelaskan bahwa setidaknya terdapat tiga kultur ilmu pengetahuan modern yakni ilmu alam, ilmu sosial, dan humaniora. Masing-masing ilmu tersebut memiliki karakter dan jalannya masing-masing dalam memahami suatu fenomena. Bisa jadi fenomena atau objek yang diamati beririsan, maka akan terdapat berbagai perbedaan di antara masing-masing ilmu tersebut dalam menganalisa hingga mencapai simpulan meski objeknya sama. Jadi, tidak ada satu rumus atau teori mujarab yang dapat memberikan satu kebenaran mutlak.

Meminjam perspektif Kagan tersebut, kita bisa melihat bahwa masalah kesahihan keris tersebut terjadi karena terdapat perbedaan antara ilmu sejarah modern dan ilmu perkerisan yang telah turun temurun eksis di nusantara. Apa yang dilakukan dalam tim riset yang diinisiasi Pemerintah Belanda berhasil melakukan identifikasi terhadap keris Naga Siluman berdasarkan langkah-langkah yang sesuai dengan ilmu sejarah modern. Berbagai sumber seperti dokumen-dokumen yang ada menjadi dasar hingga terbukti kesahihannya.

Di sisi lainnya, mereka yang meragukan keaslian keris Naga Siluman tersebut juga memiliki dasar yang kuat dari pengetahuan yang mereka dapatkan dan lestarikan. Bahkan pengetahuan tersebut juga telah banyak dijadikan karya tulis atau dibukukan seperti halnya Ensiklopedi Keris. Belum lagi jika merujuk pada lembaga internasional UNESCO yang memberi label keris sebagai Intangible Cultural Heritage of Humanity, telah mengakui pula pengetahuan yang terekam dari generasi ke generasi tekait keris berikut komunitas atau asosiasi perkerisan yang ada di Indonesia.   

Maka patut kita tunggu bagaimana Pemerintah Indonesia bersikap terhadap kontroversi seputar keris sang Pangeran ini, apakah memang benar-benar serius melakukan kajian seperti halnya yang telah dilakukan oleh Pemerintah Belanda? Atau hanya membiarkannya berlalu seiring dengan mudahnya kita melupakan isu-isu lainnya. 

 

Baca juga:  Sabilus Salikin (62): Tarekat Sa'diyyah
Apa Reaksi Anda?
Bangga
1
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top