Sedang Membaca
Kiai Hasan Abdillah: Sanad Keilmuan, hingga Pelopor Haul Syaikhona Kholil di Blambangan
Penulis Kolom

Penulis artikel ringan dan jurnal ilmiah. Saat ini sedang menempuh pendidikan di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

Kiai Hasan Abdillah: Sanad Keilmuan, hingga Pelopor Haul Syaikhona Kholil di Blambangan

Kh Hasan Abdillah Ahmad

Nama Syaikhona Kholil Bangkalan  tidak asing lagi di mata muslim Nusantara. Beliau dikenal sebagai seorang wali Allah  yang masyhur fii zamanihi. Konon derajat Syaikhona Kholil hampir mendekati maqom sang Sultanul Auliya’ Syekh Abdul Qodir al-Jailani. Syaikhona Kholil Bangkalan adalah satu angkatan/sepantaran dengan Kiai Nawawi Banten, Kiai Sholeh Darat Semarang.

Murid-murid Syaikhona Kholil pun dalam bukti literatur yang banyak beredar rata-rata menjadi Kiai besar. Salah satunya KH. Muhammad Shiddiq, KH. Hasyim Asy’ari, KH. Zainul Hasan Genggong, KH. As’ad Syamsul Arifin dan masih banyak lagi. Tak heran jika, santri-santrinya menjadi ulama besar, karena Syaikhona Kholil adalah wali kutub dan tidak diragukan lagi keilmuannya.

Generasi pertama murid Syaikhona Kholil Bangkalan adalah KH. Muhammad Shiddiq, Jember. Generasi ke-2 adalah KH. Hasyim Asy’ari, Jombang. Kemudian generasi ke-3 adalah KH. Achmad Qusyairi. Generasi ke-4 adalah putra dari Kiai Achmad Qusyairi yaitu KH. Ridhwan. (Wawancara, KH. Washil Hifdzi Haq—salah satu putra KH. Hasan Abdillah, 2020)

Warisan-warisan yang paling mulia adalah warisan intelektual, yang diberikan oleh Syaikhona Kholil Bangkalan, seperti halnya kepada Kiai Muhammad Shiddiq, Kiai Achmad Qusyairi dan Kiai Ridhwan yang merupakan salah satu dari sekian santrinya. Kiai Achmad Qusyairi sendiri merupakan satu keturunan dengan KH. Abdul Hamid Pasuruan, dan KH. Achmad Shiddiq Jember. Beliau lahir dari satu ayah yaitu KH. Muhammad Shiddiq (Mbah Shiddiq) Jember) yang dikenal pula sebagai seorang Waliyullah.

Baca juga:  Hikayat Walisongo (5): Kanjeng Sunan Kudus, Inspirasi Moderasi dan Toleransi

Tidak heran pula KH. Achmad Qusyairi juga melahirkan keturunan yang juga shalih dan juga seorang Waliyullah, beliau adalah KH. Hasan Abdillah bin Achmad Qusyairi. Dalam suasana bincang santai penulis dengan KH. Musthafa Helmy (putra sulung Kiai Abdillah) ketika mengisi sambutan pada acara Haul KH. Hasan Abdillah ke-8, beliau mengatakan bahwa:

“Apapun sebenarnya yang terkait dengan kehidupan, ajaran-ajaran yang dilakukan, diyakini, disampaikan kepada orang lain oleh almaghfurlah KH. Achmad Qusyairi dan almaghfurlah KH. Hasan Abdillah, itu selalu terkait dengan apa yang diajarkan oleh Syaikhona Kholil, Bangkalan.”

Jadi, jika menilik kembali sejarah ke belakang, almaghfurlah Kiai Hasan Abdillah sejak tahun 1950 mengadakan haul Syaikhona Kholil, setiap 29 Ramadhan dan dilanjut dengan sahur bersama warga sekitar dusun Sepanjang, Glenmore, Banyuwangi. Haul Syaikhona Kholil tersebut mulai diselenggarakan Kiai Hasan Abdillah sejak sebelum beliau menikah.

Diadakannya haul itu pun tidak lain karena sebagai ketawadu’an Kiai Hasan Abdillah kepada Kiai Kholil dan keilmuannya yang bersanad secara turun-temurun bersumber langsung dari beliau. Penting sekali untuk kita ketahui, KH. Hasan Abdillah mengaku bahwa Syaikhona Kholil Bangkalan adalah Maha Gurunya. Mengapa demikian?, karena kakeknya (Kiai Muhammad Shiddiq) murid Syaikhona Kholil. Abahnya (Kiai Achmad Qusyairi) pun murid Syaikhona Kholil, dan kakak kandungnya (Kiai Ridhwan) juga demikian.

Oleh karenanya, sebagai rasa ungkapan terima kasih kepada Mbah Kholil, Kiai Hasan Abdillah senantiasa menyelenggarakan haul Syaikhona Kholil sejak tahun 1950 setiap 29 Ramadhan di kediamannya. Hingga sekarang, haul Syaikhona Kholil tetap istiqamah diselenggarakan oleh putra-putri Kiai Hasan Abdillah. (Wawancara, KH. Washil Hifdzi Haq—salah satu putra KH. Hasan Abdillah, 2020).

Baca juga:  Khuzaifah bin Al-Yaman: Telik Sandi Rasulullah

Bahkan sebelum itu, KH. Hasan Abdillah dalam sejarah peradaban Islam ujung Timur Jawa pun merupakan salah satu pelopor diadakannya haul untuk pertama kali. Tepatnya di Banyuwangi, beliau dahulu sempat resah karena banyak jasa para pendakwah Islam seperti halnya Datuk Ibrahim, dan Kiai-Kiai sepuh yang berkontribusi besar terhadap perkembangan Islam dan keilmuan sebelumnya tidak diadakannya haul dalam rangka menghormati dan mendoakan jasa-jasanya.

Oleh karenanya, KH. Hasan Abdillah tergerak untuk mengadakan haul untuk pertama kalinya di Banyuwangi, Khususnya di tanah Kecamatan Glenmore, dan berkembang hingga daerah-daerah lainnya. Bahkan dalam sesi bincang-bincang hangat dengan putra-putra Kiai Hasan Abdillah seperti halnya Kiai Musthafa Helmy dan Kiai Washif Hifdzi, dikatakan bahwa dahulu Kiai Abdillah juga pelopor diadakannya haul di Solo untuk pertama kalinya.

Tradisi manaqiban dan haul sangatlah baik untuk diselenggarakan. Mengapa?, tak lain supaya kita bisa meneladani dan menghayati perjalanan mereka (para Ulama) yang penuh inspiratif, gigih beribadah, berdakwah, meniru akhlak, dan kebiasaan-kebiasaan baik yang lain. Dengan begitu, Allah SWT akan mendatangkan rahmat bagi siapa saja yang mengenang orang-orang yang salih. Seperti dalam hadits berikut:

Muhammad bin Hasan berkata, “Aku mendengar Sufyan bin Uyainah berkata, “Ketika orang-orang salih dikenang, maka rahmat Allah akan turun.” (Al-Imam al-Hafidz Abu Nu’aim, Hilyah al-Auliya’, juz 7, hal. 285). (Baca Abdurrahman Navis, dkk, Risalah Ahlussunnah Wal-Jama’ah: Dari Pembiasaan Menuju Pemahaman dan Pembelaan Akidah-Amaliah NU, 2016).

Baca juga:  4 Pemikiran Kiai Afifuddin Muhajir Soal Tata Negara dalam Islam

Kemudian lebih ditegaskan lagi oleh Ibn Taimiyah bahwa tradisi orang beriman seperti haul dan manaqiban, pasti akan merasa senang dan nyaman apabila menyebut nama Nabi dan orang-orang salih. Ibn Taimiyah dalam konteks ini berkata dalam kitabnya yang bertajuk al-Shafadhiyyah Juz 2 hal 269, yang artinya sebagai berikut.

Kesempurnaan diri tidak akan tercapai tanpa pengetahuan, kemampuan dam kemauan yang sumbernya adalah cinta. Ketika seseorang merasa nikmat dengan pengetahuan, maka sudah barang tentu di sana ada rasa cinta terhadap apa yang di nikmatinya. Adakalanya apa yang ia ketahui, ia cintai, serta merasa nikmat dengan mengetahui dan menyebutnya. Sebagaimana orang-orang yang beriman merasa nikmat dengan ma’rifat kepada Allah dan berdzikir kepada-Nya. Bahkan orang-orang yang beriman merasa nikmat dengan menyebut (mengenang) para Nabi dan orang-orang salih. Oleh karena itu ada pameo, “Ketika orang-orang salih dikenang, maka rahmat Allah akan turun”, dengan bangkitnya jiwa dan hati seseorang untuk mencintai kebaikan dan merasa senang dan nyaman melakukannya”. (Baca Abdurrahman Navis, dkk, Risalah Ahlussunnah Wal-Jama’ah: Dari Pembiasaan Menuju Pemahaman dan Pembelaan Akidah-Amaliah NU, 2016).

 

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top