Sedang Membaca
Belajar Toleransi dari Halalbihalal dan “Dugderan”
Penulis Kolom

Siswa SMAN 7 Semarang. Mitra Program Sekolah Damai Wahid Foundation

Belajar Toleransi dari Halalbihalal dan “Dugderan”

Dugderan Cnnindonesia

Indonesia merupakan bangsa sangat kental dengan nuansa tradisi dan budayanya. Satu yang tak bisa lepas dari siklus tahunan, misalnya, yakni tradisi halalbihalal saat Lebaran. Konon, kata halalbihalal bersumber dari bahasa Arab yang artinya sama-sama halal.

Namun, rupanya kata-kata ini tak dikenal dalam kamus-kamus Bahasa Arab. Masyarakat Arab juga tak menggunakannya. Bahkan, jika diucapkan pun mereka tidak akan paham dengan kata halalbihalal. Banyak yang mengatakan, kata halalbihalal rupanya lahir dari kultur masyarakat Indonesia, dan penulisannya pun –menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia– digabung semua hurufnya, bukan halal bi halal atau halal bihalal.

Asal usul halalbihalal memang tidak dapat diketahui secara pasti. Namun narasi yang membahas  tentang halalbihalal dari beberapa versi mulai ada sejak Pangeran Adipati Arya Mangkunegara I memimpin Surakarta. Pada waktu itu Sang Raja memerintahkan para punggawa dan prajurit di balai desa untuk melakukan sungkem kepada sang raja dan permaisuri setelah perayaan Idul Fitri.

Hal ini dilakukan untuk menghemat tenaga dan biaya. Sejak itu, kunjungan terhadap orang yang lebih tua atau berkedudukan lebih tinggi untuk sekadar sungkem atau meminta maaf pada perayaan Idul Fitri kian menjadi tradisi. Inilah sebabnya halalbihalal hanya dikenal oleh masyarakat muslim Indonesia.

Tradisi ini masih ada hingga sekarang di kota asal saya, Semarang. Sama seperti di kota-kota lainnya, halalbihalal di Semarang dilakukan dengan meminta maaf sambil bersalaman. Hal ini dilakukan di hari yang fitri, tanpa perlu memandang jabatan atau status sosial. Pada hari ini, setiap orang harus memiliki hati yang lapang, untuk saling meminta maaf dan memberi maaf.

Baca juga:  Muhammad SAW dan Nasrani (5): Pasang Surut Hubungan Muhammad SAW dan Nasrani, dari Piagam Madinah hingga Perang Mut’ah

Uniknya, di sini tidak hanya orang Islam saja yang melakukan halalbihalal. Tapi banyak juga dari lintas agama yang turut meminta maaf. Toleransi dan kerukunan antar umat beragama sangat terpancar melalui tradisi ini. Seharusnya ini bisa menjadi contoh bagi umat Muslim lain di Indonesia. Kita harus menyadari bahwa kita memang berbeda, tapi satu bangsa.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Secara tidak langsung, halalbihalal merupakan refleksi dari ajaran Islam yang menekankan rasa persaudaraan, persatuan, dan saling memberi kasih sayang. Hal ini menjadi simbol, Islam agama yang menjunjung tinggi toleransi, mengedepankan pendekatan hidup rukun antar umat beragama. Perbedaan agama tidak digunakan untuk mencari musuh, tapi alangkah baiknya jika digunakan sebagai sarana untuk berlomba-lomba dalam kebaikan.

Tak hanya halalbihalal, ada juga tradisi lain di Semarang yang mengedepankan prinsip toleransi. Tradisi ini sering disebut dugderan. Peringatan ini dilakukan saat menyambut datangnya Bulan Ramadan.

Sebagian masyarakat Semarang akan melakukan arak-arakan—sebagai bentuk kebahagiaan untuk menyambut Bulan Ramadan yang akan tiba. Para pelajar biasanya menggunakan kostum unik dan mengelilingi Simpang Lima Semarang.

Sama juga seperti halalbihalal, dugderan tidak hanya dinikmati orang Islam di kota Semarang saja. Tidak ada larangan bagi siapa saja yang ingin menyaksikan tradisi ini.

Beragam suku, agama, dan etnis, turut menikmatinya, bahkan melebur di dalamnya. Karena, kebahagiaan tak hanya milik satu orang saja, melainkan milik bersama.

Baca juga:  Kebingungan Sekularisme Menghadapi Islam Politik
Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
1
Ingin Tahu
0
Senang
1
Terhibur
0
Terinspirasi
1
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top