Sedang Membaca
Mengenal Kitab Pesantren (23): Al Buran fi Tajwidil Qur’an dan Kefasihan Laku Tawadhu’ Seorang Guru
Akhmad Faozi
Penulis Kolom

Penulis berasal (lahir) dari kultur ‘tani’ desa Geneng Mulyo kecamatan Juwana kabupaten Pati, Jawa Tengah. Domisili di Jogja. Hobi: menikmati dan belajar hidup melalui sabda 'iqra'. Sesekali berpiknik fiksi dan ilmiah, untuk memaknai keseharian yang dijalani.

Mengenal Kitab Pesantren (23): Al Buran fi Tajwidil Qur’an dan Kefasihan Laku Tawadhu’ Seorang Guru

E4f2e627 6f6d 4768 A2d1 777bbcb843cb

Tidak seperti sekolah-sekolah umum yang megah, sekolahan kami biasa saja. Lebih tepat bila disebut saja madrasah. Setiap pagi, siswa-siswa Mathali’ul Falah—sebuah perguruan Islam di desa Kajen, Pati—berseragam ala kadarnya: peci hitam, kemeja polos, dan celana panjang. Beberapa tak memakai sepatu. Atau bila bersepatu, tak memakai kaos kaki. Tentu ada beberapa siswa yang rapi. Tapi tak banyak. 

Berkebalikan dengan kami, para siswa, para guru semuanya rapi dan wangi. Bahkan terlalu rapi. Walaupun beberapa dari mereka cukup dengan peci, kemeja panjang, dan sarung. Umumnya mereka adalah para kiyai. Minimal kiyai desa yang sehari-hari bersama masyarakat mengeja ilmu-ilmu agama. Jadi menjadi jamak bila para guru dipanggil “yi”, singkatan dari “kiyai”. Bagi kami, para murid, mereka adalah kiyai. Tak pandang usia. 

Buku Kiai Said

Madrasah kami awalnya dikenal masyarakat sebagai sekolah Arab. Bukan karena isinya orang-orang berdarah Arab, tapi karena pelajaran dan kitab ajar yang digunakan lebih banyak berbahasa Arab. Kitab ajar ini dikenal dengan sebutan kitab kuning, atau buku berbahasa Arab yang tanpa harakat. Gundulan. Tulisan huruf Arab polos tanpa tambahan fathah, katsroh, dummah.

Sebagai bagian dari anak zaman, tentu tidak semua pelajaran di kelas ber-Arab melulu. Tetapi porsi kitab diatur sedemikian, supaya orientasi tafaqquh fid din (memperdalam keilmuan agama) tetap terjaga. Fiqh, Ushul Fiqh, Nahwu, Balaghoh, Mantiq, Fara’id, Tajwid, Qiraatul Qur’an dan bidang keilmuan keislaman lain sengaja diberi porsi lebih dominan.

Di antara rangkaian bidang-bidang keilmuan berikut kitab-kitab induknya, terselip satu kitab yang mungkin kurang dikenal. Kitab ini diberi judul oleh penulisnya, Muhammad Ash-Shodiq Qumhawi, dengan Al-Burhan fi Tajwidil Qur’an wa Risalah fi Fadhoilil Qur’an. Jika ditranslasi, judul ini berarti semacam “Cahaya tajwid Al-Qur’an dan catatan tentang keutamaan Al-Qur’an”. 

Kitab Al-Burhan ini seperti telah terselip di judulnya, secara spesifik membahas tentang kaidah-kaidah utama ilmu tajwid. Ilmu tajwid adalah ilmu yang menjelaskan tentang tata baca Al-Qur’an secara tepat, sebagaimana tertransmisikan dari lisan Arabnya Rasulullah shollallahu alihi wasallam sampai pada periwayat qiraah. Sampai kini, tiba di generasi kita.

Kitab tawjid Al-Burhan merupakan satu kitab kecil yang ringkas-padat. Ringkas karena hanya berisi 86 halaman saja. Padat karena di bab-babnya berhasil menjelaskan kaidah-kaidah utama dalam ilmu tajwid. Penyajian semacam ini sangat membantu pembelajar dasar untuk memahami pengetahuan khas terkait tata baca Al-Qur’an. 

Ilmu tajwid sendiri merupakan bidang keilmuan yang khas tuturan. Transmisi keilmuan tajwidi, tidak bisa dilakukan hanya melalui ‘membaca-memahami teks’ belaka. Tidak seperti fan keilmuan yang lain, mempelajari tajwid butuh penjelasan dan panduan langsung dari guru.

Dalam disiplin tajwid, kejelasan dan ketepatan ‘pengucapan’ lafadz, bahkan huruf, perlu disimakkan kepada guru. Misal paling dasar adalah dalam pengucapan lafadz “Allah” ٱلله. Tanpa adanya penyimakan langsung ucapan guru, akan sangat sulit pengetahui pengucapannya secara persis. Dalam komposisi hurufnya yang terdiri dari “alif”, “lam”, “ha’” yang diberi harakat fathah lazim dibaca: A-LLA-H. Tetapi justru pengucapan tersebut tidak tepat. Secara kaidah yang tepat pengucapan lafadz “Allah” dieja menjadi “A-LLO-H”. Mirip lo-nya kata bo-lo (teman) dalam bahasa Jawa. 

Posisi Al-Qur’an yang sentral dan transendental di dalam Islam, mengandaikan keajegan teks dan ucapan  terjaga dari mulanya sampai kapan saja. Tajwid di dalam kerangka ini adalah sebagai sekuritas sistem. Mengawal dan menjaga otensitas teks dan dialek Al-Qur’an.

Al-Qur’an sebagai simbol terpenting Islam, perlu dijaga otentisitasnya dari segala sisi yang mungkin. Rupa tulisan (rasm) dan pengucapan (qiraah) ayat-ayat Al-Qur’an, tidak boleh bergeser dari kesemestian forma awalnya. Memang lazim dilakukan berbagai metode dan pendekatan penafsiran terhadap kitab suci ini. Tetapi dalam bentuk bakunya (rasm wa qiraah), harus selalu tetap dan ajeg. Transmisi otentik yang seaslinya ini, adalah satu keistimewaan Al-Qur’an yang terus dijaga dan dihargai betul oleh umat Islam.

Faktor guru menjadi titik sentral dalam diskursus tadwid ini. Tidak bisa gegabah dalam kriterianya. Kriteria seorang guru tajwid tidak mensyaratkan ijazah S1, S2, S3, alih-alih guru besar (Professor). Terbilang cukup saat figur pengajar memiliki sanad baca yang benar-benar bisa dipertanggung jawabkan. Minimal memiliki sanad menyimak-memperdengarkan bacaan Al-Qur’an dari satu guru ke guru yang lain sampai kepada Rasulullah sollallahu alaihi wa salam. Walaupun orang tersebut tidak lulus TK (taman kanak-kanak) atau bahkan PAUD.

Kitab Al-Burhan, yang sedang kita wicarakan ini, kebetulan saya terima dari seorang hamilul qur’an yang terpercaya sanadnya. Beliau selain hafal Al-Qur’an, juga memiliki kepakaran dalam ragam qiraah. Tidak hanya menguasai satu jenis qiraah saja—yang lazim di Indonesia adalah qiraah riwayat imam Hafsh dari imam ‘Ashim—tetapi menguasai sepuluh jenis qiraah mu’tabaroh yang lazim dikenal sebagai Qiraah ‘Asyrah. Beliau adalah kiyai Abdussalam bin Mahfudz Cholil, dari Lasem, Rembang. 

Karakter dan kepribadian yi Salam, biasa kami memanggil beliau, sangat berkebalikan dengan kepakarannya yang menjulang sekaligus mendalam. Dalam praktiknya beliau sangat halus sopan, low profile, dan sesekali menyelipkan canda dalam kelas. Sepintas orang yang belum mengenal beliau akan menganggap orang desa biasa. Bukan kiyai besar.

Tidak sekalipun saya, sebagai muridnya, melihat beliau naik kendaraan pribadi. Motor saja tidak, apalagi mobil. Padahal beliau memiliki keduanya. Jarak yang lumayan jauh antara Lasem-Kajen, ditempuh dengan umbal naik bis umum. Walau begitu beliau tidak pernah telat dalam masuk kelas. Setiap jam pelajaran, beliau dengan santai memasuki kelas. Ageman kesukaan beliau adalah peci hitam, kemeja putih panjang dan celana bahan. Tidak bersarung mahal sebagaimana lazimnya para kiyai kenamaan. Peci, kemeja dan celana yang diagem pun nampak sederhana.

Satu pelajaran yang masih sangat berharga sampai sekarang, adalah pengucapan lafadz “Allah” sebagaimana saya singgung sebelumnya. Dengan praktik dan penjelasan sederhana beliau berucap “lo..”, A-LLO-H, secara keras di dalam kelas. Sekarang beliau telah berpulang sejak tahun 2015. Dikebumikan di Lasem, Rembang. 

Al-Fatihah untuk mbah Abdussalam Mahfudz Cholil dan muallif Al-Burhan Muhammad Ash-Shodiq Qumhawi.  

Baca juga:  Al-Ajwibatus Syafiyah: Himpunan Fatwa KH. Raden Muhammad Nuh Cianjur (1966)
Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top