Sedang Membaca
Napak Tilas Jejak Sahabat di Istanbul
Ahmad Munji
Penulis Kolom

Ketua Tanfidziyah PCI NU Turki dan mahasiswa doktoral di Universitas Marmara Turki

Napak Tilas Jejak Sahabat di Istanbul

Tradisi berziarah merupakan bagian penting dari masyarakat Turki. Mereka sudah tidak lagi memperdebatkan boleh dan tidaknya berziarah dalam Islam. Bagi mereka, berziarah adalah bagian dari belajar kepada masa lalu. Paradigma berpikir seperti ini menjadikan makam sosok-sosok penting masa lalu selalu ramai dikunjungi oleh para peziarah di Turki. Wali, intelektual, penyair, apapun latar belakangnya, sepanjang sosok yang bersangkutan memiliki kontribusi kepada Agama, bangsa dan negara, makamnya selalu ramai oleh peziarah.

Semangat ini pada gilirannya berimplikasi pada eksistensi makam tokoh yang dibangun dengan megah dan indah. Biasanya makam dilengkapi dengan taman, masjid, museum, dan tidak ketinggalan pula deretan penjual souvenir di sepanjang pintu masuk dan keluar makam. Sebut saja makam Jalaluddin Rumi, Syaikh Uftade dan Kamal Attaturk yang saat ini makamnya selalu padat oleh peziarah. Bahkan hari ini tidak hanya sebatas sebagai sebuah makam, tetapi juga museum nasional yang dikelola oleh Pemerintah. Wajar jika tempat-tempat ini menjadi destinasi favorit masyarakat di musim liburan.

Implikasi lain dari kuatnya tradisi berziarah ini adalah klaim atas tempat tertentu sebagai makam sosok penting seperti makam Nabi, sahabat dan wali. Padahal bisa jadi yang bersangkutan tidak pernah datang ke Turki, apa lagi meninggal dan di makamkan di sana. Makam-makam sahabat misalnya. Secara geografis, tentu Turki jauh dari pusat peradaban Islam masa sahabat yang berada di Hijaz. Namun tidak sedikit tempat-tempat yang diyakini sebagai makam sahabat bisa kita temukan di Turki, khususnya Istanbul.

Ada 29 makam di Istanbul yang diklaim sebagai makam sahabat Nabi, tujuh diantaranya berada di dalam tembok kota Istanbul yang berbatasan dengan distrik Eyub, 19 di luar tembok kota dan 3 di Karaköy. Ada pula makam dengan nisan bertuliskan Abu Darda, terdapat di dua tempat, distrik Eyup dan Uskudar. Sayangnya dari total 29 nama Sahabat, hanya dua diantaranya yang diklaim paling sahih (dimakamkan di tempat itu), sementara yang lain hanya sebatas petilasan, apakah makam yang dimaksud adalah benar atau tidak, belum ada penelitian yang serius tentang hal ini.

Baca juga:  Perempuan Timur dalam Catatan Lady Mary Montagu

Ekspansi pertama ke Kostantinopel

Hadist Nabi yang mengatakan bahwa Kostantinopel akan dikalahkan oleh umat Islam sangat berpengaruh pada gerakan penaklukan daerah-daerah baru oleh para khalifah penerusnya. Terbuktinya ucapan Nabi tentang jatuhnya Kostantinopel ini selain menegaskan bahwa Nabi punya pengetahuan yang bersifat futuristik, juga memiliki nilai motivasi yang tertanam dalam diri para sahabat untuk menyebarkan Islam ke berbagai wilayah.

Para sahabat yang termotivasi oleh ucapan Nabi ini selanjutnya terus menerus melakukan penaklukan ke wilayah-wilayah baru termasuk Kostantinopel. Selain dalam rangka menyebarkan agama Islam, motif untuk melebarkan kekuasaan juga menjadi faktor penting dalam upaya penaklukan ini.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Sejarah mencatat bahwa upaya penaklukan pertama ke Kostantinopel (sebagai bentuk usaha untuk merealisasikan sabda Nabi) dilakukan oleh khalifah ke enam, Muawiyah bin Abu Sofyan (48 H/668 M). Ada dua pasukan yang diberangkatkan, dari Makkah dan Madinah dipimpin oleh Sufyan bin Auf al-Azdi dan pasukan dari Syam dipimpin oleh Fadel bin Ubayd al-Ansori. Dari semua jumlah pasukan yang berangkat menuju Kostantinopel, terdapat 63 sahabat yang bergabung dalam upaya penaklukan ini.

Tentara yang dikirim oleh Muawiyah datang mengunakan jalur darat dan sampai ke Kadikoy, Sebuah distrik di Anatolia yang berhadapan dengan Ibu kota Kostantinople. Namun cuaca di Anatolia yang berbeda dengan Hijaz dan Syam menyebabkan banyak pasukan menderita sakit, seperti pilek, disentri, dan menyebabkan banyak pasukan yang meninggal. Salah satunya sahabat Ayub al-Ansori yang terkena penyakit disentri.

Baca juga:  Masjid Syafii Iran: Harmonisasi di Tengah Perbedaan Mazhab

Pada musim semi tahun 669, Muawiyah kembali mengirim pasukan yang dipimpin oleh putranya Yazid untuk mendukung pasukan yang datang sebelumnya. Bersama dengan pasukan baru pimpinan Yazid, mereka mulai menyeberangi selat Bosphorus dan mengepung benteng dari darat.

Kekuatan pasukan Muawiyah sebetulnya bertahan cukup lama diluar benteng Kostantinopel. Pengepungan berjalan kurang lebih selama musim panas. Nama-nama paling terkenal dari para sahabat yang ikut serta dalam pengepungan pertama ini adalah: Abu Eyyub al-Ansari, Abu Shaybe al-Hudri, Fadal bin Ubeyd al-Ansari, Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Omar, Abdullah bin Zubeyr dan Hussein bin Ali.

Dalam sebuah sumber dikatakan bahwa pengepungan berlangsung sengit sepanjang jarak antara Aywansaray dan Edirnekapi. Namun, ketika musim dingin mendekat, pertempuran itu dihentikan dan pasukan ditarik mundur dikembalikan ke Halep (Alepo, Suriah). Abu Eyyub al-Ansari dan Abu Shaybe al-Hudri jatuh sebagai syahid dalam pertempuran ini.

Pengepungan Istanbul yang kedua pada masa Muawiyah terjadi pada tahun 673 M, lima tahun kemudian. Komandan pasukan ini adalah Cunayd bin Abi Umayyah al-Ezdi. Tentara Umayyah sampai di daratan Kostantinopel pada tahun 674 M. dengan kekuatan yang lebih besar, pasukan yang dikirim oleh Muawiyah  mengepung Kostantinopel dari dua arah, darat dan laut. Pengepungan berlangsung selama tujuh tahun. Di musim dingin, mereka berlindung di Semenanjung Kapidag, dan kembali melakukan pengepungan setelah musim dingin selesai.

Baca juga:  Kiai Amir Idris dari Simbang Kulon, Pekalongan

Lagi-lagi pasukan Islam menghadapi masa sulit sepanjang pengepungan. Di satu sisi musim dingin yang ekstrim, di sisi lain ketidakmampuan untuk menembus tembok Kostantinopel yang berlapis tiga dengan ketinggian tiga meter. Sementara itu serangan dari dalam tembok Kostantinopel yang terus menerus menyebabkan tentara Islam banyak menderita.

Menyadari bahwa penaklukan itu tidak mungkin dilakukan oleh mereka, pasukan Umayyah ditarik mundur pada tahun 680 M. Sialnya, lepas dari peperangan besar, pasukan Umayyah harus menyerah pada badai yang menghadang mereka di laut Antalya.

Dua kali percobaan penaklukan atas Kostantinopel yang diikuti oleh beberapa sahabat, dimana sebagian diantara mereka gugur dalam medan perang ini lah yang selanjutnya dijadikan legitimasi bahwa ditempat-tempat yang kerap diziarahi itu bersemayam para sahabat. Namun, Mehemet Efendioglu, seorang guru besar sejarah Istanbul, menilai argumentasi itu sangat lemah. Hanya ada dua sahabat yang bisa dibuktikan secara sejarah dimakamkan di Istanbul, itu pun berlokasi di luar benteng Kostantinopel, tepatnya di distrik Eyup, Istanbul.

Meskipun kebenarannya diragukan, pendapat lain menilai bahwa makam-makam para sahabat selain Ayub al-Ansori dan Abu Suaib al-Hudzri, dinilai penting bagi masyarakat Turki sebagai bentuk penghormatan atas apa yang pernah mereka lakukan dan sebagai ekspresi cinta kepada sosok-sosok yang dekat dengan Nabi.

Makam-makam yang dimaksud sampai dengan hari ini masih menjadi destinasi wisata reliji bagi masyarakat Turki, baik Istanbul maupun dari kota lain. Letaknya cukup berdekatan dengan makam Abu Ayub al-Ansori, sebagai pusat wisata ziarah, kemudian keluar sedikit dari komplek makam Abu Ayub terdapat makam Abu Darda.

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top