Sedang Membaca
Kisah Kaum Sufi dan Kucing-Kucingnya

Kisah Kaum Sufi dan Kucing-Kucingnya

Ahmad Munji

Dalam sejarah umat manusia, salah satu hewan yang memiliki hubungan dekat dengan manusia adalah kucing. Keberadaannya secara alamiah banyak memberi manfaat kepada kehidupan manusia baik secara langsung maupun tidak langsung.

Secara langsung, keberadaan kucing yang tinggal di rumah-rumah dan pasar, dalam mencari mangsanya mereka menjadi predator tikus, sehingga pada saat yang sama kucing menjaga gudang makanan manusia dari ancaman tikus.

Secara tidak langsung, keberadaan kucing banyak menjadi pelipur lara bagi beberapa orang yang merasa sendiri. Melihatnya bermain di taman-taman kota bias menurunkan tingkat stres.

Keberadaan kucing menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan umat manusia, meskipun kucing bukan hewan yang dikonsumsi, kecintaan manusia kepada kucing itu tulus, walau kadang kebaikan mereka tidak dibalas dengan kebaikan yang sama oleh kucing.

Dari dahulu hingga sekarang, dari barat sampai timur banyak peribahasa dan cerita-cerita heroik tentang hubungan manusia dan hewan lucu berkaki empat ini. Ada sebuah hikayat yang menarik tentang mengapa bentuk kucing itu mirip dengan singa.

Konon, pada saat Nabi Nuh melakukan misi penyelamatan dari azab banjir bersama umatnya yang taat, tidak ketinggalan di dalam kapal yang mereka naiki juga terdapat tikus. Namun rupanya tikus-tikus itu dengan cepat berkembang biak dan mengancam stok makanan yang ada di kapal. Khawatir kehabisan bahan makanan karena dimakan tikus, Nabi Nuh berdoa kepada Allah agar dikeluarkan dari masalah yang sedang menimpanya dan umatnya.

Baca juga:  Sabilus Salikin (99): Tata Cara Zikir Tarekat Histiyah (1)

Sebagai jawaban atas doa Nabi Nuh, Allah memerintahkan singa-singa untuk bersin. Maka keluarlah dari hidung-hidung mereka kucing-kucing lucu. Riwayat lain mengatakan bahwa Nabi Nuh mendapat wahyu untuk memegang kepala atau memasukkan jari-jarinya ke dalam hidung singa sehingga singa itu bersin dan keluar dari hidungnya dua hewan kecil yang bentuknya mirip seperti singa.

Dalam tradisi Islam kucing juga kerap kali disebutkan dan menjadi sumber pelajaran hidup (ibrah). Misalnya, ada satu dari sahabat Nabi ada yang memiliki julukan bapak kucing, Abu Hurairah. Julukan itu ia dapat karena dirinya sangat menyayangi kucing

Sebaliknya, terdapat juga sebuah hadis yang menceritakan ada seorang perempuan menjadi calon penghuni neraka karena mengikat seekor kucing, namun tidak diberi makan dan tidak melepasnya untuk mencari makan.

Cerita tentang hubungan antara kucing dengan manusia juga bayak ditemukan dalam tradisi tasawuf. Misalnya, Ahmad ar-Rifai. Pada satu ketika ada seekor kucing yang tidur di atas jubah ar-Rifai, Sampai waktu salat tiba, kucing tersebut masih saja tidur dengan nyenyaknya. Melihat betapa jubahnya digunakan sebagai alas tidur kucing, ar-Rifai tidak tega membangunkan.

Dia lebih memilih untuk memotong bagian jubah yang ditempati oleh kucing, dan menggunakan jubah yang bolong untuk salat. Setelah ar-Rifai selesai melaksanakan salat, si kucing sudah bangun dan pergi meninggalkan potongan jubahnya.

Baca juga:  Fariduddin Attar dan Mantiqut Thair: Cermin Perjalanan Spiritual Manusia

Cerita yang sedikit mirip dinisbahkan kepada Syaikh Baqi Billah. Pada Suatu malam Baqi Billah bangun untuk melaksanakan salat tahajud. Namun, di atas selimut yang dia gunakan ada seekor kucing tidur yang membuatnya tidak bisa bangun. Khawatir si kucing terbangun, Baqi Billah rela tidak bangun Sampai waktu subuh datang.

Abu Bakar as-Sibli seorang sufi dari kota Baghdad meninggal pada tahun 334 H. Setelah kematiannya, salah satu dari sahabatnya bertemu dengan as-Sibli dalam mimpinya. Lalu dia bertanya, “bagaimana Allah memperlakukan kamu wahai Sibli?”

Sibli menjawab, bahwa ia diperlakukan secara istimewa oleh Allah. Sibli melanjutkan ceritanya:

Dia (Allah) bertanya kepadaku, “Sibli, tahukah kamu kenapa saya memperlakukan kamu dengan sedemikian baik?” Saya menjawab, karena saya mengerjakan perbuatan-perbuatan baik. Kemudian Allah menjawab, “Bukan.” Saya jawab lagi, karena saya beribadah dengan ikhlas dan tulus. Allah masih menjawab, “bukan.”

Saya jawab lagi, karena saya haji, puasa dan salat. Allah masih menjawab, “bukan.”

Baca Juga

Saya bingung, apa yang membuat saya diperlakukan dengan sebaki ini.

Lalu Allah menjelaskan, “Kamu ingat, kamu pernah pergi ke sebuah jalan di salah satu pojok kota Baghdad, di sana kamu menemukan seekor anak kucing yang kedinginan dan dengan penuh kasih sayang kamu merawatnya.” Lalu saya menjawab, “Iya Ya Allah, saya ingat itu.”

Baca juga:  Misteri Pertemuan Imam Ibnu Malik dengan Ibnu Mu’thi

“Karena kamu telah memperlakukan kucing itu dengan penuh kasih sayang, saya memperlakukan kamu dengan perlakukan yang sama.”

Cerita-cerita di atas menggambarkan betapa kucing memiliki tempat yang sangat istimewa dalam hati manusia terutama para ulama tasawuf (sufi). Kecintaan mereka tulus. Tanpa pamrih.

Tentu, memberikan perlakukan baik kepada kucing adalah sebuah praktik yang tidak boleh berhenti pada kucing saja. Apa yang telah dilakukan oleh para sufi kepada kucing juga mesti diterapkan kepada hewan-hewan yang lain. Adalah terang bahwa Allah memerintahkan kita umat manusia untuk memperlakukan hewan dengan baik, apalagi dengan sesama manusia.

Kucing adalah simbol pihak yang ketika diberikan kebaikan tidak membalas. Tetapi kendati demikian, kebaikan harus tetap diterapkan kepada siapa pun. Karena pada dasarnya tugas kita sebagai manusia adalah menyebarkan kebaikan kepada semua makhluk yang ada. Hal ini sebagaimana diperintahkan oleh Allah dalam hadis Qudsi,

“Sayangilah apa yang ada di bumi, maka Dzat yang ada di langit akan menyayangimu” (HR. At Thabrani dalam al Mu’jam al Kabir, Shahihul Jaami’ no. 896)

Sementara balasan adalah urusan Allah, bukan urusan orang yang kita perlakuan dengan baik. Bahwa kebaikan dilakukan bukan untuk mendapatkan balasan atas apa yang kita lakukan.

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top