Sedang Membaca
Bayi dan Kisah Unik di Sekelilingnya
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Bayi dan Kisah Unik di Sekelilingnya

Ali Makhrus

Saat masih bayi, kebiasaan orang tua ialah memberikan kenyamanan dan ketenangan kepada si Bayi saat dia menangis atau berbahasa lain yang tidak dimengerti oleh kebanyakan orang tua. Karena berbagai petanda yang muncul dari bayi ini, orang tua kebanyakan memberikan penjelasan (tafsiran) tentang berbagai penanda itu (sign) dengan ragam ekspresi, umumnya adalah menakut-nakuti, meski tidak selalu.

Untuk itu, mengenang masa-masa penuh keberanian itu, maka sebagai bahan nostalgia, berikut ulasan singkat dari Laporan Pensiunan Wedana tahun 1891-92 di muat dalam harian De Locomotif dari 7 Januari 1891 sampai 22 Desember 1892. Informasi ini terekam dalam Kumpulan Karangan C. Snouck Hurgronje VII, dengan judul asli Verspreide Geschrifte Gesammelte Schriften, terbitan INIS (Indonesian Netherlandas Cooperations in Islamic Studies) 1993.

Keterangan dari buku tersebut dimulai ketika menceritakan kebiasaan bayi yang seringkali senyum dan tertawa sendiri. Wawasan turun menurun menafsirkan jika keadaan itu memang tidak berdiri sendiri, ibarat rumus ada stimulus ada respon, ada aksi tentu melahirkan reaksi dan seterusnya. Akhirnya, para orang tua kita di masa lalu memberikan kesimpulan bahwa tanda senyum bayi itu akibat dari adanya proses komunikasi tak terlihat (ghaib) antara bayi dengan apa yang disebut dengan Nini Danyang (Jawa), Nyai Momong (Jawa), Nini Meranak (Sunda). (silahkan ditambahi kalau ada istilah lain…hh)

Sepintas, apa yang dilakukan orang didahulu itu banyak diidentikkan dengan sebutan tahayul, animisme, primitif, ndeso dan lain-lain. Namun, ada catatan penting di sini ialah mengenai komunikasi bayi. Artinya, tradisi pendahulu kita yakin bahwa bayi memiliki bahasa sendiri dalam berkomunikasi yang tidak sama dengan orang dewasa lainnya dengan bantuan abjad atau huruf huruf lain. Dari sini, penulis menilai bahwa orang dahulu sudah memiliki semacam postulat atau teori mentah bahwa bayi sudah bisa berkomunikasi, meski tidak dimengerti oleh orang dewasa. Sehingga, penjelasan waktu itu dimungkinkan untuk melibatkan Nini Danyang, Nyai Momong dan Nini Meranak.

Baca juga:  Obituari: Ki Enthus dan Dua Wajah Keislaman Lupit-Slenteng

Lantas bagaimana pendapat orang-orang kedokteran sekarang?
Menurut Psikolog Klinis, Dr. Erin Brow (essentialbaby.com), tidak menampik soal adannya penjelasan perilaku dan tindakan bayi yang banyak dijelaskan dengan makluk kepercayaan masyarakat tertentu. Hal tersebut bukan berarti pemamahaman masyarakat tentang komunikasi salah, justru mereka sudah mengerti soal komunikasi yang dipraktekkan oleh anak, hanya saja istilah itu tidak dapat dimengerti oleh orang-orang yang banyak mengandalkan indera dan alat atau benda lainnya yang materiil. Tidak seperti kebanyakan pendahulu kita, yang dikenal dengan tingkat spiritual yang ampuh, sehingga tidak perlu banyak membutuhkan materi…(hihi..)

Ada penjelasan lain lagi mengenai bayi tersenyum, bayi tersenyum ialah diakibatkan karena reflek senyum yang dimiliki bayi sejak dalam kandungan, yang berasal dari rangsangan pada bagian subkortikal otak. Nah, keadaan ini akan semakin berkurang seiring bayi semakin dewasa dan banyak menerima rangsangan dari lingkungan sekitar yang semakin beragam (hellosehat.com).

Pendapat lain berikutnya ialah karena bayi mengeluarkan gas dari mulutnya, sehingga bayi tampak keliatan tersenyum. Namun teori ini dimentahkah oleh kenyataan bahwa bayi saat terlelap seringkali mulut bayi agak terbuka, dengan mulut terbuka, tentunnya bayi tidak perlu tertawa (tampak tertawa).

Lain lagi dengan pendapat yang mengatakan bahwa senyuman bayi saat tidur masuk dalam kategori tahap REM (Rapid Eye Movement). Orang dewasa tahapan REM diperkirakan ¼ dari jumlah waktu tidur secara keseluruhan, sementara bayi ½ dari keseluruhan waktu tidurnya. Tahap REP ini membuat siapapun potensi bermimpi atau dengan REP ini, otot muka tertarik saat tidur (perubahan fisiologis), tokohnya adalah Pamela Garcy, Ph.D, psikolog klinis Dallas AS.

Baca juga:  Kisah NU-Muhammadiyah: Kiai Ali, Kiai Basyir, dan Celana Aziz

Ilmuwan Jepang dari University of the Sacred Heart dan Primate Research Institute of Kyoto University pada tahun 2004 memvideokan 6 bayi tidur berusia 4 hari hingga 87 hari. Pada penelitian itu, didapatkan seorang bayi perempuan tertawa pada usia 17 hari dan bayi lainnya tertawa 1 hingga 4 kali ketika berusia 1-2 bulan. Kiyobumi Kawakami dari Sacred Heart menyatakan penyebab tertawa tersebut mungkin adalah emosi yang dialami bayi.

Baca Juga
Mengingat Lagi Visi Persatuan Islam dalam Risalah Amman

Pada prinsipnya, manusia hanya mengira-ngira tentang fenomena dan gejala-gejala yang tampak di hadapan mereka. Umumnya, manusia berusaha memberikan jawaban dalam setiap pertanyaan peristiwa yang ada. Pada Masyarakat Jawa -atau Nusantara- telah mengakar kuat tentang berbagai eksistensi supra-rasional Islam, yang immaterial, metafisik dan istilah semakna lainya, dan umumnya secara substansi senada dengan agama pendahulunnya, Jawa Kuno, Hindu dan Budha. Hal itulah yang menurut Woodward, sebagai kekuatan dominan keyakinan dan ritus keagamaan mereka serta pembentuk sifat dasar interaksi sosial keseharian mereka (Woodward, 1989).

Misal, eksistensi Jin, Malaikat, yang memiliki kedudukan yang cukup penting dalam kehidupan masyarakat Jawa dan Islam. Sementara ini, Islam dan Jawa telah menyatu dalam kesatuan regional dan spiritual dalam berbagai aspeknya (manunggal, nyawiji dadi siji). Lagi, bayi ketika dalam kandungan sudah melakukan kontak atau komunikasi dengan orang tua mereka, dan bahkan penentuan nasib bayi oleh malaikat pada telung lapan (105 hari Jawa) atau peniupan ruh itu yakni empat bulanan oleh Malaikat. Begitupun saat manusia sudah lahir ke dunia. Kita tentu mengenal, Malaikat Hafadzoh, Qarin baik Jin maupun Malaikat, Kiraman Katibin atau Raqib dan Atid.

Baca juga:  5 Buku Induk Ihwal Sejarah Islam

Sekarang, kita perlu hormat kepada NINI DANYANG, NYAI MOMONG dan NINI MERANAK, dengan mengucapkan, “Assalaamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh…!

Wallahu A’lam Bisshawab

Lihat Komentar (0)

Komentari