Buya Syafii, Manusia Langka

Alamsyah M Djafar

Jika Anda tak tahu orangnya dan hanya membaca tulisan-tulisannya, mungkin Anda bakal menduga usia Buya Syafii Maarif baru sekira 30-an tahun saja. Bahasa dalam tulisan-tulisanya amat lugas dengan diksi yang membetot-betot perasaan orang. Mirip kebanyakan anak muda.

Ini satu contoh: “agama seharusnya membangun peradaban bukan kebiadaban”. Lain waktu saya pernah membaca ia menulis “berkubang dan berkuah darah”.

Tapi Buya bukan manusia 30-an tahun. Kini usianya di atas 80 tahun. Katanya ia sudah masuk kategori manusia senja. Tapi ia dikenal seorang pemberani, sikap yang harus ditiru kaum muda.

Gaya tulisan Buya tak ubahnya dengan sikapnya. Lugas, berani, konsisten. Ia dikenal orang yang bersahaja. Dihargainya integritas diri lebih mahal dari nyawanya sendiri.

Sebagai tokoh bangsa ia bisa memperoleh kemudahan-kemudahan hidup. Tapi itu tak banyak dipilih.

Pagi tadi ia menjadi salah satu magnet Forum Titik Temu yang digelar Nurcholish Majid Society, Jaringan Gusdurian, Maarif Institute, dan Wahid Foundation. Lebih dari 20-an tokoh agama dan cendikiawan berkumpul dan menyerukan hal-hal pokok memperkuat persaudaraan.

Mas Wahyuni Nafis, moderator forum ini dari NCMS bilang Buya menolak menginap di hotel yang disediakan panitia. Ditolaknya juga uang transport Yogya-Jakarta yang juga disediakan.

Baca Juga

“Kalau semua seperti Buya, panitia pasti bahagia sekali,” kata Mas Wahyuni disambut gelak tawa 200-an peserta.

Beruntunglah bangsa ini memiliki Buya. Kata Bu Shinta Nuriyah yang juga menyampaikan seruan di forum ini, orang seperti Buya salah seorang manusia langka.

Manggarai-Depok

Baca Juga:  Siti Umniyah, Perintis Taman Kanak-kanak Muhammadiyah
Lihat Komentar (0)

Komentari