Sedang Membaca
Menelisik Hubungan Sunan Ampel dengan Wali-Wali Lain di Jawa
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Pendaftaran Workshop Menulis

Menelisik Hubungan Sunan Ampel dengan Wali-Wali Lain di Jawa

Ali Romdhoni

Syahdan, pada satu hari, Maulana Ishaq berkunjung ke Pulau Jawa. Tidak diketahui dengan pasti apa maksud kedatangan kakak kandung Sayid Ibrahim al-Asmar ini ke Jawa. Sangat mungkin dia telah mengetahui, atau setidaknya mendengar kabar bahwa dua keponakannya telah terlebih dulu berada di Majapahit.

Kemungkinan lain, Maulana Ishaq tidak mengetahui keberadaan anak-anak Ibrahim al-Asmar di Majapahit. Mengingat, keputusan Sayid Rahmat dan Sayid Ali al-Murtadha untuk menetap di Majapahit muncul secara tiba-tiba, setelah mendengar pengarahan Raja Brawijaya. Namun Raden Rahmat baru mengerti bahwa tamu yang datang adalah pamannya (kakak ayahnya, Ibrahim al-Asmar) setelah mendengar penjelasan dari Maulana Ishaq.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Kejadian yang justru menarik dicermati adalah ketika Maulana Ishaq kemudian menyematkan gelar sebutan kepada Raden Rahmat sebagai ‘sunan maqdum’. Dijuluki sebagai seorang ‘sunan’ karena dia telah menjadi imam atau pemimpin agama Islam pertama di Jawa. Sedangkan ‘maqdum’ karena sebagai orang di Jawa yang pertama-tama memeluk Islam. Jadi, ‘sunan maqdum’ artinya orang pertama di Jawa yang memeluk Islam, dan juga menjadi seorang imam (Abu al-Fadhal, Ahla al-Musamarah, 2000:16).

Pemberian gelar (pengakuan) sebagai sunan maqdum ini menegaskan peran penting (kunci) yang dimainkan oleh Sunan Ampel, khususnya dalam hubungannya dengan perkembangan Islam di Nusantara pada masa-masa menjelang meredupnya sinar kejayaan Majapahit.

Kedatangan Maulana Ishaq di pesantren Ampeldenta dilukiskan dalam Serat Centhini. Termasuk juga perjalanannya ke Blambangan, sampai akhirnya menikah dengan anak raja Blambangan.

Serat Centhini memberitakan:

“Pancasudaning Satriya, wibawa lakuning gêni, windu Adi Mangsa Sapta, sangkala angkaning warsi, Paksa suci sabda ji, rikang pinurwa ing kidung, duk kraton Majalêngka, Sri Brawijaya mungkasi, wontên maolana sangking nagri Juddah.

Panêngran Sèh Walilanang, praptanira tanah Jawi, kang jinujug Ngampèldênta, pinanggih sang maha rêsi, araraosan ngèlmi, sarak sarengat Jêng Rasul, nanging tan ngantya lama, linggar saking Ngampèlgadhing, ngidul ngetan anjog nagri Balambangan” (Serat Centhini).

Dari Serat Centhini kita bisa mengetahui, Maulana Ishaq memiliki sebutan lain, yaitu Syeh Wali Lanang. Ia datang dari Jeddah (Arab Saudi) ke Ampeldenta. Kala itu Majapahit diperintah oleh Sri Brawijaya terakhir. Di Ampelgading (sebutan lain untuk Ampeldenta) bertemu dengan seorang tokoh kharismatik (sang maha resi) yang tidak lain adalah Sunan Ampel.

Para Murid Generasi Pertama Sunan Ampel

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Baca juga:  Jazirah Arab Sebelum Masuknya Islam

Ketokohan Sunan Ampel sebagai rujukan bagi para Muslim pendatang dari berbagai daerah, termasuk dari wilayah di luar Nusantara, bisa dilihat ketika ada tiga orang dari Yaman mencari keberadaan putra Sayid Ibrahim itu. Tujuan mereka adalah ingin menimba ilmu agama kepada Sunan Ampel.

Dikisahkan, pada satu hari ada tiga orang dari Yaman datang ke pesantren Ampeldenta. Mereka adalah Sayid Muhsin, Sayid Ahmad, dan Khalifah Husain. Tujuan mereka menempuh perjalanan dari negerinya, Yaman, menuju Pulau Jawa adalah untuk menemui dan berguru agama Islam kepada Sayid Rahmat. Sama seperti halnya Sayid Rahmat, ketiga orang ini memiliki hubungan darah dengan Nabi Muhammad.

Pada akhirnya, hubungan Sunan Ampel dengan ketiga orang Yaman ini semakin dekat. Selain diterima sebagai murid, mereka juga menjalin persaudaraan melalui ikatan hubungan pernikahan. Sayid Ahmad dinikahkan dengan putri Sunan Ampel yang bernama Sayidah Hafshah.

Lalu bagaimana dengan tokoh dari Nusantara lainnya? Iya, hampir semua wali dan pangeran yang memiliki peran penting pada masa akhir pemerintahan kerajaan Majapahit, masa-masa transisi, hingga berdirinya kesultanan Demak, mereka semua pernah berguru kepada Sunan Ampel (Abu al-Fadhal, Ahla al-Musamarah, 2000:16).

Di antara calon tokoh kesohor di Nusantara yang pernah berguru kepada Sayid Rahmat adalah:

  1. Raden Paku putra Maulana Ishaq dengan diantar sendiri oleh seorang perempuan bangsawan yang mengasuhnya, Nyai Gede Tanda putri Sayid Rajapandita, datang ke Ampeldenta. Kelak, Raden Paku mashur dengan sebutan Sunan Giri.
  2. Sayid Ibrahim putra Sunan Ampel, menikah dengan Dewi Irah. Kelak mashur dengan sebutan Sunan Bonang.
  3. Sayid Qasim putra Sayid Rahmat menikah dengan Sayidah Sufiyah putri Sayid Abdul Qadir (Sunan Gunungjati). Kelak mashur dengan sebutan Sunan Derajat. Dengan demikian, Sunan Ampel berbesanan dengan Sunan Gunungjati.
  4. Sayid Abdul Jalil, putra Sayid Abdul Qadir, putra Maulana Ishaq. Kelak mashur dengan sebutan Syeh Siti Jenar, dan menetap di wilayah bernama Lemah abang.
  5. Sayid Amir Husain, putra Haji Usman (Sunan Mayuran), putra Sayid Rajapandita. Dengan demikian, Amir Husain adalah keponakan Sunan Ampel.
  6. Sayid Amir al-Haj (Sunan Kudus), putra Sayid Usman al-Haj (Sunan Ngudung), putra Sayid Rajapandita.
  7. Raden Said, putra Raden Syahid (Sunan Kalijaga). Kelak, Raden Said mashur sebagai Sunan Muria.
  8. Amir Hamzah, putra Sayid Muhsin (menikah dengan Sayidah Mutmainnah putri Sunan Ampel).
  9. Raden Fatah, putra Brawijaya dan kemudian dinikahkan dengan putri bungsu Sunan Ampel yang bernama Sayidah Murtasimah.
  10. Raden Husain, putra Arya Damar, putra Brawijaya, atau adik Raden Fatah se-ibu.

Dari paragraf-paragraf di atas kita bisa memahami, bahwa Raden Rahmat atau yang mashur dengan sebutan Sunan Ampel adalah orang muslim pertama yang menetap di Nusantara pada masa-masa akhir pemerintahan kerajaan Majapahit. Sunan Ampel telah menjadi tujuan bagi para pendatang Muslim yang singgah atau ingin menetap di wilayah Majapahit.

Sunan Ampel pula yang sejak awal telah melakukan kaderisasi bagi para calon pemimpin Muslim (ulama; wali) di Jawa. Para wali di Jawa itu hampir semuanya pernah nyantri (belajar aga Islam) di pesantren Ngampelgading (Ngampeldenta). Selain para wali di Jawa merupakan murid dari Sunan Ampel, bila ditelisik lebih jauh lagi, mereka sebenarnya juga masih berkerabat (memiliki hubungan darah) dengan sang guru. Wallahu a’lam.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Lihat Komentar (0)

Komentari

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Scroll To Top