Sedang Membaca
Musik sebagai Media Dakwah: Tembang Macapat, Tembang Jawa, dan Dakwah Wali Songo
Penulis Kolom

Santri Ma'had Aly Assidiqiyyah Kebon Jeruk Jakarta.

Musik sebagai Media Dakwah: Tembang Macapat, Tembang Jawa, dan Dakwah Wali Songo

Gamelan Performance By Pasinaon Omah Kendeng 02

Belakangan, dakwah menjadi semacam kegiatan yang cukup populer di media sosial. Akun-akun influencer muda dakwah semakin mendapat tempat di dalam masyarakat Indonesia. Dakwah tak lagi dianggap sesuatu yang sakral dan monoton. Pola dan metode yang digunakan cukuplah beragam. Dari pendekatan menggunakan musik, budaya, atau bahkan menyatu dalam konten sehari-hari anak muda hari ini.

Kegiatan menyeru atau mengajak untuk melakukan kegiatan yang baik dan merujuk pada nilai nilai agama, itulah yang saya pahami dari kata “dakwah”. Dakwah Islam yang banyak dihijacked oleh kelompok radikal Muslim yang penuh dengan kekerasan bukanlah representasi ajaran yang ada dalam alquran dan sunnah. Banyak hujjah-hujjah yang dapat dijadikan sebagai referensi, salah satu yang saya ketahui ialah yang terdapat dalam Surat Al-Imran (3:159) dan Al-Baqarah (2:256). Dimana  inti yang saya tangkap dari kedua ayat  tersebut ialah Nabi dakwah dengan damai (lin;lembut) dan tidak ada paksaan untuk masuk agama Islam, manusia bebas memilih, toh sudah jelas mana yang benar dan mana yang salah.

Dakwah dengan damai juga dipraktikan oleh wali songo, sebutan untuk para penyebar ajaran agama Islam di tanah Jawa. Alih-alih menyebarkan Islam dengan jalan kekerasan, wali songo memilih jalan damai dengan melakukan pendekatan psikologis masyarakat guna memancing minat mereka. Caranya pun tidak memaksa, namun lebih kepada memasukkan nilai nilai Islam kepada tradisi dan budaya masyarakat setempat.

Salah satu cara dakwah damai yang dilakukan wali songo itu terlihat juga dalam budaya tembang di dalam masyarakat Jawa. Banyak jenis-jenis musik Jawa yang isinya berupa dakwah peninggalan budaya bangsa Indonesia zaman dulu. Orang jawa menamakannya dengan nama “tembang jawa”.

Baca juga:  Tafsir Surat Al-A’raf Ayat 56: Larangan Merusak Lingkungan

Di antara tembang Jawa itu ada salah satu jenis tembang yang dinamakan dengan tembang macapat/tembang cilik, sebuah jenis tembang (lagu) yang berisi petuah atau wejangan (nasihat) yang disampaikan dengan cara bijak. Mari kita bahas jenis lagu positif ini.

Sebelumnya mari kita cermati ucapan Syekh Muhammad Aly (w 386 H) dalam kitabnya Qut Al-Qulub berikut ini:

فَمْنْ سَمِعَهُ بِقَلْبٍ مُشَاهَدَةَ مَعَانٍ تَدُلُّهُ عَلَى الدَّلِيْل, وَتُشْهِدُهُ طُرُقَاتِ الْجَلِيْل, فَهَذَا مُبَاحٌ,

Orang yang mendengarkan (musik) dengan hati, dengan melihat  makna yang menunjukan pada dalil, memberikan petunjuk pada jalan-jalan agung, maka itu diperbolehkan.

Kata-kata Syekh Muhammad Aly tersebut adalah kalimat yang menjadi argumentasi dasar bagi musik halal. Dalam hal ini Syekh Muhammad termasuk salah satu yang memengaruhi cara pandang Al-Ghazali dalam tasawuf.

Mari kita gabungkan antara keterangan di atas dengan dakwah wali songo yang menggunakan lagu dalam dakwahnya. Penelitian menyebutkanajaran Islam masuk ke wilayah Nusantara melalui pendekatan tasawuf. Hal yang tidak bisa terbantahkan dengan adanya bukti berupa kitab klasik karya ulama Nusantara yang seringkali berwujud syair.

Kembali membahas tembang macapat, tembang ini adalah jenis tembang yang unik, yang memiliki ragam bagian dan tahapan di dalamnya. Syair-syair yang terkandung di dalamnya banyak menyiratkan nilai-nilai yang terkandung dalam alquran. Sebagai contoh ayat alquran “kullu nafsin dzaiqatu-l-maut”, setiap yang bernyawa musti merasakan kematian” yang dicerminkan dalam macapat megatruh (megot;putus dan ruh;jiwa) yang memiliki arti berpisahnya antara ruh dan tubuh manusia.

Baca juga:  Fikih Lingkungan (2): Melindungi Satwa Kewajiban Manusia dan Negara

Ada sebelas jenis tembang macapat, dan tiap-tiap jenis tembang di dalamnya menggambarkan tahapan kehidupan manusia mulai dari lahir, masa kanak-kanak, saat dewasa, hingga meninggal dunia. Maskumambang, mijil, sinom, kinanti, asmarandana, gambuh, dhandhanggula, durma, pangkur, megatruh, pucung adalah nama-nama dari tiap jenis tahapan tembang macapat. Kesebelas tembang tersebut dirangkai dengan menggunakan petuah-petuah dengan baik dengan harapan orang yang mendengarnya menjadi pribadi yang baik dan bijaksana.

Dalam hal ini saya akan mencontohkan satu jenis tembang macapat itu, yakni tahapan pertamanya “maskumambang”.

Maskumambang berasal dari dua kata yakni “mas” dan “kumambang”, yang kalau diartikan dalam bahasa Indonesia memiliki arti emas terapung. Tembang jenis ini berisi nasehat kepada seorang anak agar selalu berbakti kepada orang tua.

Kelek-kelek biyung sira aneng ngendi?

Enggal tulungana. Awakku kecemplung warih

Gelagepan wus meh pejah

Gubahan jenis “maskumambang” tersebut kalau diartikan dalam bahasa Indonesia menjadi:

Kelek-kelek, ibu kamu ada di mana?

Cepat tolonglah, aku jatuh ke air

Kesulitan dan hampir mati

Makna dari tembang tersebut ialah mengisahkan seorang anak yang sangat membutuhkan pertolongan orang tua karena terhanyut aliran air sungai dan hampir mati, juga bisa diartikan dengan terseret pergaulan yang tidak baik.

Jenis lagu yang seperti inilah di antaranya yang digunakan oleh walisongo sebagai cara untuk menyampaikan nasehat dengan apik. Tanpa melalui kekerasan baik verbal dan fisik, mereka lebih mengutamakan dakwah santun dengan mengandalkan wajd (ekstase) dan dzauq (rasa) yang ditimbulkan lagu yang langsung masuk ke dalam jiwa pendengarnya.

Baca juga:  Sajian Khusus: Fikih Lingkungan

Hal itu sesuai dan senada dengan apa yang saya kutip dari kata-kata Al-Ghazali dalam Ihya berikut ini:

قَالَ بَعْضُهُمْ: فِى الْقَلْبِ فَضِيْلَةٌ شَرِيْفَةٌ تَعَذَّرَ عَلَى قُوَّةِ النُّطْقِ اِخْرَاجُهَا بِاللَّفْظِ, فَاَخْرَجَتْهَا النَّفْسُ بِالْاَلْحَانِ, فَلَمَّا ظَهَرَتْ…سَرَّتْ وَطَرَبَتْ اِلَيْهَا, فَاسْتَمَعُوْا مِنَ النَّفْسِ وَنَاجَوْهَا, وَدَعَوْا مُنَاجَاةَ الظَّوَاهِر

Di dalam hati terkadang ada suatu keutamaan yang mulya yang tidak bisa diungkapkankan dengan kata-kata, kemudian ekspresi itu ditimbulkan jiwa melalui lagu. Dan ketika ekspresi itu tampak maka dengan sendirinya jiwa akan merasa bahagia dan bergejolak karenanya, mendengarkan serta berdialog dengannya, juga menarik untuk diekspresikan lewat yang tampak.

Dari apa yang saya tangkap dari ungkapan Al-Ghazali di atas, menunjukan bahwa orang-orang zaman dulu (di Indonesia) terutama ulamanya, ketika mereka menggunakan “lagu” sebagai media dakwah, maka yang dituju mereka adalah dzauq (rasa) dan wajd (ekstase) yang timbul dari jenis lagu yang didendangkan. Dengan harapan dakwah yang dilakukan akan lebih mudah diterima oleh hati dari pada dakwah lewat kekerasan fisik.

Wallahu a’lam

Referensi :

Abu Hamid Muhammad Al-Ghazali. Ihya Ulum Ad-Din. 2011. KSA: Daar Al-Minhaj.

Syekh Muhammad bin Ali bin ‘Athiyyah.  Qut Al-Qulub fi Mu’amalati al-Mahbub wa wasfi thariq al-Murid ila Maqam at-Tauhid. 2001. Kairo: Maktabah Daar At-Turats.

Zahra Haidar. Macapat Tembang Jawa, Indah dan Kaya Makna. 2018. Jakarta Timur: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top