Sedang Membaca
Kisah Kedermawanan Kakek Nabi Muhammad 
Avatar
Penulis Kolom

Bergiat di dunia pendidikan. Menulis sastra berupa cerpen. Tinggal di Jawa Timur. IG @elakhmad dan @akhmadmedia.

Kisah Kedermawanan Kakek Nabi Muhammad 

Berbicara tentang Nabi Muhammad dan segala hal yang melingkupinya selalu menarik, sebab selalu ada kisah-kisah hebat di dalamnya. Nabi Muhammad adalah role model manusia terbaik yang pernah ada di bumi. Hal ini tidak bisa dibantah, sebab Allah menyebutnya secara gamblang dengan istilah uswatun hasanah. 

Salah satu sikap dari Nabi Muhammad yang akan diceritakan dalam tulisan ini adalah tentang kedermawanannya, tetapi cerita kedermawanan Nabi Muhammad telah sering diceritakan di mana-mana. Oleh sebab itu, kisah kedermawanan kali ini berasal dari Eyang Kakung atau kakek Nabi Muhammad, yakni Hasyim bin Abdul Manaf. Bisa jadi, kedermawanan Nabi Muhammad juga bersumber dari warisan genetik eyang kakungnya.

Secara silsilah, Hasyim adalah ayah dari Abdul Muthalib, Abd Al Muthalib memiliki beberapa anak dan salah satunya adalah Abdullah, dan Abdullah adalah ayahanda Nabi Muhammad. Jadi, Hasyim bin Abdul Manaf bisa disebut sebagai eyang kakung Nabi Muhammad. Berikut kisah lengkapnya.

Suku Quraisy adalah suku bangsa Arab terkuat dari garis keturunan Nabi Ibrahim, sehingga suku Quraisy lah yang menjaga ka’bah dengan seorang pemimpin yang bernama Qushay. Sudah menjadi kebiasaan suku Quraisy, bahwa setiap generasi harus ada yang menjadi pemimpin dari keturunan pemimpin sebelumnya.

Qushay memiliki empat anak laki-laki. Dari empat anak tersebut, Abdul Manaf adalah. Ia putra Qushay yang paling dihormati oleh masyarakat Quraisy semenjak ayahnya (Qushay) masih hidup. Hal ini berbanding terbalik dengan keinginan Qushay, sebab ia lebih memilih putra pertamanya (Abdul Dar) untuk melanjutkan garis kepemimpinannya dalam menjaga ka’bah.

Sebagai pemimpin suku Quraisy, Abdul Dar berhak untuk:

1. Menentukan siapa saja yang boleh memasuki ka’bah,

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

2. Menentukan peperangan di antara suku Quraisy,

3. Menentukan siapa saja yang boleh meminum air di Mekkah selama perjalanan haji,

4. Memegang keputusan siapa saja yang boleh makan di Mekkah selama perjalanan haji, dan

5. Memegang keputusan atas segala urusan suku Quraisy.

Abdul Manaf sama sekali tidak protes atas keputusan Ayahnya. Namun pada generasi berikutnya hampir sebagian besar kaum Quraisy lebih mendukung putra Abdul Manaf (Hasyim) daripada keturunan Abdul Dar.

Mereka menuntut pengalihan kekuasaan dari bani Abd Al Dar ke Bani Abd Manaf. Hal ini dapat memicu peperangan di dalam sukunya sendiri. Oleh sebab itu, dua belah pihak memutuskan untuk membuat kesepakatan agar tidak menimbulkan perpecahan.

Kesepakatan yang diperoleh adalah keturunan Abdul Manaf berhak untuk menetapkan pajak dan menyediakan dan makanan untuk jamaah haji; sedangkan keturunan Abdul Dar berhak untuk memegang kunci ka’bah dan hak-hak yang telah mereka miliki sebelumnya. 

Seluruh saudara-saudara Hasyim menyepakati bahwa yang bertanggung jawab atas kebutuhan jamaah haji selama musim haji adalah Hasyim. Pada bagian inilah kedermawanan Hasyim bin Abd Manaf menjadi masyhur. Hasyim berkata kepada seluruh kaum Quraisy:

“Wahai kaum Quraisy, kita semua adalah Penjaga Rumah-Nya dan Tanah Suci. Mereka yang datang untuk melakukan ibadah haji adalah Tamu Allah. Mereka adalah tamu yang paling layak untuk dimuliakan. Pada musim haji, sediakanlah makanan dan minuman dari mereka datang hingga mereka kembali. Bila harta saya sendiri mencukupi untuk memenuhinya, Saya tidak akan pernah membebani kalian semua”. 

(Kisah ini disarikan dari dua sumber: Sirah Rasulullah karya Muhammad Ibn Ishaq dan Muhammad karya Abu Bakr Sirajuddin)

Baca juga:  Mangiri: Kota Penting dalam Proses Islamisasi Nusantara
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
1
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top