Sedang Membaca
Bersarung Bersama Tokoh Agama Tingkat Dunia
Penulis Kolom

Pengasuh di Pesantren Raudlatut Thalibin, Rembang

Bersarung Bersama Tokoh Agama Tingkat Dunia

Fb Img 1580630095336

Lik Mus, pamanku, mengibaratkan agama laksana buah pisang. Ada isi ada kulit. Kalau tiada salah satunya, tidak utuh keberadaannya. Demikian kira-kira menurut riwayat Achmad Munjid.

Sebelum berangkat ke Vatikan tiga minggu yang lalu, aku dan Pak Holland, tandemku, terlebih dahulu mendiskusikan strategi seperti biasanya. Di tengah ngobrol, ia memperhatikanku dari ujung kopiah hingga ujung sarung. Lalu ngomong di luar topik tematik utama:

“Menurut saya, saat di Vatikan nanti sebaiknya Anda pakai sarung batik saja seperti ini,” katanya, menunjuk pakaianku.

Aku ketawa:

“Jadi kayak karnaval dong!”

Bertahun-tahun aku keluyuran ke berbagai belahan dunia fana ini, senantiasa aku berjas-dasi di acara-acara resmi. Gaya pakaian macam itu membuatku merasa seperti diplomat.

“No no no!” Ia menggoyang-goyangkan telunjuknya, “Menurut saya ini penting. Anda akan hadir di acara itu sebagai pemimpin agama. Lihat tokoh-tokoh Islam dari Timur Tengah. Mereka selalu hadir dengan jubah dan sorban (‘imaamah) khas mereka. Para imam Katholik pun dengan seragam ordo masing-masing. Demikian pula rabi-rabi Yahudi. Kita perlu tunjukkan ke orang-orang itu bahwa begini ini pakaian khas kyai. Secara psikologis, orang Barat akan respek”.

Walaupun pada mulanya minggrang-minggring (saya tidak tahu minggrang-minggrang ini apa bahasa Indonesianya), aku menurut. Bahkan kutambahkan ridaa’ (selendang) anugerah dari Sayyid Ahmad bin Muhammad Al Maliki untuk menghias pundakku.

Baca juga:  Blangkon: Tegakkan Kedaulatan dengan Mengisi Blangko Supaya Tidak Kosong

Sejatinya, kiai NU tak punya standar gaya berpakaian. Tapi yang paling sering kulihat dari tampilan mubalig di pengajian-pengajian kampung ya begitu itu: jas tutup, sarung, dan ridaa’ menyampir di pundak.

Efek psikologis yang diharapkan Pak Holland dari orang-orang itu menjadi kenyataan. Aku diperlakukan layaknya Imam Besar. Bahkan orang-orang Kristen menyapaku dengan: “Your Imminence” (Shohibaz Zulfa), yang artinya kira-kira: Bapak yang dekat dengan Tuhan. Itu sapaan yang lazim disematkan pada Kardinal Katholik.

Tapi lebih dari segalanya, yang paling membuat perasaanku jadi gimanaaa gitu, adalah saat melihat fotoku bergaya pakaian mubalig ndeso bersama Paus Fransiskus dan tokoh-tokoh lain, jadi seperti sedang marhabanan.

Dan diam-diam aku tahu, diriku di situ cuma kulit belaka. Untung tidak ada yang menginjakku lalu kepleset hingga nggeblag krengkangan.

Apa Reaksi Anda?
Bangga
1
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top