Sedang Membaca
Gus Ulil: Cara Melihat Nabi di Zaman Akhir
Penulis Kolom

Mahasiswa program studi Sejarah & Kebudayaan Islam UIN Sunan Kalijaga. Santri Pondok Pesantren Tambakberas. Sekarang bermukim di pondok pesantren Al-Munawwir, Krapyak, Yogyakarta.

Gus Ulil: Cara Melihat Nabi di Zaman Akhir

Ulil Abshar Abdalla

Di dunia, kita tak bisa melihat Nabi Muhammad secara langsung dengan mata kepala. Mengingat kita merupakan umat Nabi yang hidup sekitar empat belas abad setelah kewafatannya. Cukup jauh. Sebanyak apapun sejarah, biografi, gambaran mengenai Nabi yang kita baca, itu bukan berarti kita telah melihatnya.

Namun kita sebenarnya bisa ‘melihat’ Nabi, dalam dimensi berbeda. Dalam bahasa Gus Ulil Abshar Abdalla tadi malam (15/10/2021) di Kafe Leha-Leha Yogyakarta, kita bisa memberi “visualisasi” pada Nabi. Yakni dengan melihat para ulama, sebagai pewaris Nabi. Merekalah kira-kira “rupa visual” Nabi di zaman sekarang.

Tentu saja ulama dengan arti yang sebenarnya. Yaitu orang-orang yang memiliki ilmu dan, mengacu pada surat Fathir: 28, ilmunya itu menimbulkan “Khoshyah” (takut) kepada Allah. Dengan kata lain, ilmu tersebut memberi “kesadaran bertuhan” pada pemiliknya. Dan yang perlu ditekankan, kata Gus Ulil, ilmu tersebut bukan hanya ilmu yang “berlabel” agama. Bisa ilmu apa saja. Termasuk ilmu yang dianggap sekuler sekalipun. Sebaliknya, ilmu agama juga belum tentu menjadikannya takut pada Allah.

Selain itu, “melihat” di sini tidak diartikan secara biologis. Dalam artian menyamakan wajah Nabi dengan wajah para ulama, atau bagian-bagian tubuh lainnya, misalnya. Bukan itu. Tapi diartikan dengan melihat sikap dan sifat-sifat seperti Nabi.

Baca juga:  Ajaran Manunggaling Kawula Gusti dalam Karya Imam al-Ghazali

Semisal saat melihat KH. A. Mustofa Bisri atau kerap disebut Gus Mus. Dalam hal ini, beliaulah contoh yang paling dekat, bagi Gus Ulil.

Nah, rasa “takut” pada Allah yang dimiliki Gus Mus telah membuatnya selalu memanusiakan manusia, sebagai makhluk Allah. Salah satu hal yang menggambarkan hal tersebut adalah kebiasaan Gus Mus untuk tak memberi kabar pada tuan rumah yang akan disowaninya. Filosofinya adalah beliau tak mau merepotkan, baik merepotkan tuan rumah, ataupun merepotkan Gus Mus sendiri andaikata tiba-tiba ada halangan. Hal ini, menurut Gus Ulil, sangatlah memanusiakan manusia. Jika diberi kabar, si tuan rumah bisa-bisa kehilangan “manusia”nya yang sesungguhnya.

Juga, saat berada di dekat Gus Mus, orang-orang akan merasa nyaman. Tenteram. Saat sowan Gus Mus, mereka bisa bercerita banyak hal tanpa merasa sungkan atau terancam.

Dari sejarah, kita tahu, para sahabat Nabi adalah orang yang sangat kerasan berada di dekat Nabi. Tak mau pulang dari dalem Nabi. Mereka bebas konsultasi apa saja pada Nabi. Sampai-sampai al-Qur’an turut mengingatkan mereka agar tak selalu berada di rumah Nabi. Ibaratnya, Nabi juga memiliki kepentingan dan privasi sendiri.

Selain itu, Gus Mus juga selalu memberikan nasehat-nasehat yang menenangkan, mempersatukan, dan mendatangkan harapan, bukan malah pesan yang menakut-nakuti atau memecah-belah.

Baca juga:  Perjumpaanku dengan Ulama Sufi

Salah satu peristiwa yang membekas, bagi Gus Ulil, terkait nasehat yang mempersatukan ini, adalah peristiwa Ahmadiyah pada tahun sekitar 2005. Saat itu, konflik Ahmadiyah makin memuncak dan mereka dianggap sesat. Untuk itu, beberapa oknum justru melakukan persekusi pada Jemaah Ahmadiyah.

Melihat fenomena itu, Gus Mus mengomentari,

Iki piye maksude? Orang yang mau belajar dan salah, lalu tersesat, bukannya dikasih tau jalannya, kok malah dipukuli?”

Sebuah komentar yang menghindarkan konflik, dan lebih mengarah untuk menyatukan. Sederhana sebenarnya, namun cukup mak jleb (mendalam) bagi pendengarnya.

“Jadi, melihat Nabi itu kira-kira ya melihat Gus Mus, lalu dikalikan seribu. Begitulah.” Tegas Gus Ulil malam itu, di depan para pendengarnya, sambil tetap mengenakan masker dan berjaga jarak.

Apa Reaksi Anda?
Bangga
2
Ingin Tahu
1
Senang
2
Terhibur
1
Terinspirasi
2
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top