Sedang Membaca
Perisai Maksiat Ibrahim bin Adham
Hanuf Ufil Kaila
Penulis Kolom

Mahasantri Ma'had Aly Salafiyah-Syafi'iyah Situbondo.

Perisai Maksiat Ibrahim bin Adham

Sufi 768x350

Setiap manusia tentu tidak akan pernah lepas dari sebuah kemaksiatan. Maksiat biasanya berupa sesuatu yang menyenangkan dan lebih mudah dikerjakan daripada ketaatan. Maksiat menjadi salah satu bentuk  media ujian dari Allah SWT kepada hambanya. Apakah hamba tersebut mampu meinggalkan kemaksiatan meski nyaman dan melakukan ketaatan meski sulit bahkan menyiksa dan terkesan menekan.

Allah berfirman dalam surah Al- Nisa ayat 14:

وَمَنْ يَعْصِ اللهَ وَرَسُولَهُ وَيَتَعَدَّ حُدُودَهُ يُدْخِلْهُ نَارًا خَالِدًا فِيهَا وَلَهُ عَذَابٌ مُهِينٌ

“Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan.” (QS an-Nisa:14)


Seorang hamba Tuhan yang memiliki kesadaran akan senantiasa berupaya untuk menghidarkan dirinya dari perilaku maksiat, sekecil apapun. Manusia yang beriman akan selalu berusaha untuk tidak terjerumus dalam kemaksiatan dalam keadaan apapun. Dan memang harus seperti itulah semua hamba Tuhan, Allah SWT. Yakni pandai dalam menjauhkan dirinya dari kemaksiatan yang nantinya mengundang murka Allah SWT.

Bagaimana kiranya kita sebagai manusia agar dapat membentengi diri kita agar tidak melakukan kemaksiatan?

Dalam kitab Manhaj al-Sawi karangan Al-Habib Zain bin Ibrahim bin Smith dijelaskan sebuah tips yang bisa kita lakukan agar tidak terjatuh pada jurang kemaksiatan. Tips tersebut disampaikan dalam bentuk cerita yang dinisbatkan pada Ibrahim bin Adham, seorang raja yang turun takhta demi mendapatkan nikmat makrifah ilahiyah.

Baca juga:  Menari Bersama Kekasih (4): Oh, Kekasihku..

Diriwayatkan ada seorang laki-laki yang mendatangi Ibrahim bin Adham dan mengadu tentang hidupnya yang selama ini penuh dengan kemaksiatan. Laki-laki tersebut meminta nasehat kepada Ibrahim bin Adham.

Kemudian Ibrahim bin Adham menanggapinya dengan solusi berupa tawaran: “Aku akan memberitahumu tentang 5 hal. Kalau kamu melakukan itu maka kamu tidak akan terkena musibah dan kamu akan mendapatkan kenikmatan.”

Laki-laki tersebut lalu bertanya, apa 5 hal itu?

Ibrahim bin Adham menjawab: Pertama, jika kamu melakukan maksiat maka jangan makan dari rezeki yang diberikan oleh Allah.”

Laki-laki itu bingung dan bertanya pada Ibrahim bin Adham: “Bagaimana aku bisa melakukannya (tidak makan rezeki dari Allah)?”

Ibrahim bin Adham menimpali dengan: “Apakah pantas kamu makan dari rezeki yang Allah beri sementara kamu bermaksiat kepadaNya? Baiklah, yang kedua, kalau kamu melakukan kemasiatan pada Allah, setidaknya kamu jangan tinggal di tempat yang Allah sediakan.”

Laki-laki tersebut berkomentar: “Wah, kalau yang kedua ini lebih berat daripada yang pertama tadi. Memangnya saya mau tinggal dimana? Dari timur sampai barat ini semuanya milik Allah.”

Kemudian Ibrahim bin Adham melanjutkan: “Ya sudah, yang ketiga, jika kamu mau melakukan maksiat, carilah tempat sekiranya Allah STW tidak akan melihatmu.”

Cara yang ketiga ini dikomentari lagi oleh laki-laki tersebut: “Bagaimana bisa saya melakukannya, Allah itu Maha Tahu dan semua rahasia terlihat jelas bagiNya.”

Ibrahim bin Adham melanjutkan tawarannya yang keempat: ”Nah, maka dari itu, kamu makan dari rezeki yang Allah berikan, kamu tinggal di tempat yang Allah sediakan sedangkan kamu bermaksiat kepadaNya dan Allah mengetahui itu semua. Oke, yang keempat, ketika malaikat maut datang untuk mencabut nyawamu, sampaikan padanya untuk memberimu kesempatan bertaubat dan beramal soleh.”

“Mana mungkin malaikat akan mendengarkan permintaanku,” keluh laki-laki tersebut atas tawaran keempat yang disampaikan Ibrahim bin Adham.

Baca juga:  Sufisme, Islam, dan Kesenian

Ibrahim bin Adham menimpali lagi: “Maka dari itu, kalau kamu tidak bias mencegah malaikat maut, lalu bagaimana kamu akan menyelamatkan diri? Oke, yang kelima, jika nanti Malaikat Zabaniyah mengajakmu masuk neraka, kamu tidak usah mau.”

Laki-laki itu kembali mengeluh dengan : “Mereka para malaikat tidak akan membiarkanku.”

Dan terakhir Ibrahim bin adham bertanya: “Lalu bagaimana caranya agar kamu selamat sementara kamu melakukan maksiat?”

Laki-laki tersebut sadar dan langsung bertaubat. Dan selebihnya ia terus mengaji pada Ibrahim bin Adham hingga ia wafat.

Sesungguhnya, ketika mata hati kita dibuka oleh Allah dan diberikan iman yang kokoh maka kita akan dapat melihat setiap sesuatu dengan jernih agar tidak salah dalam bertindak dan bermaksiat. Orang dengan hati yang dipenuhi rasa sadar bahwa ia hanyalah makhluk kecil dibawah kuasa Allah yang akbar akan senantiasa berhati-hati dalam melakukan sebuah perbuatan dan selalu menunjukkan sikap taat.

 

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
1
Senang
1
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top