Doa Neno Warisman dan Politisasi Nabi

Ahmad Tsauri

Beredar doa Neno. Doa tersbut dibacakan pada acara “Munajat 212” itu berbunyi, “Ya Allah menangkanlah kami (Prabowo), jika kami kalah, kami khawatir tidak ada lagi yang menyembahmu”. Dengan terpaksa saya bilang, “Doa ini cacat lahir dan batin! Mengapa?”

Doa ini sebenarnya doa Nabi pada saat perang Badar, ketika kedua pasukan sudah berhadap-hadapan, Nabi menyiapkan pasukan yang jumlahnya hanya 319, sedangkan Nabi Muhammad saw melihat pasukan musyrikin Mekkah ribuan orang. Doa Nabi ini diriwayatkan dalam Sahih Bukhari dan Muslim. Saya tidak yakin Neno membacanya dari kedua sumber primer tersebut. Tapi sangat mungkin dia pernah mendengar ustaz mengisahkan cerita tentang doa ini.

Dalam kitab syarah Muslim disebutkan setelah mengecek barisan pasukan yang hanya sedikit, senjata seadanya, sedikit sekali dari 319 ini yang memegang senjata, pedang, kebanyakan menggunakan kayu dan alat-alat seadanya.

Sementara lawan, disebrang, berjajar rapi dengan persenjataan lengkap dengan jumlah pasukan berkali-kali lipat.

(روى مسلم في صحيحه من حديث عمر بن الخطاب قال: لما كان يوم بدر نظر رسول الله – صلى الله عليه وسلم – إلى المشركين، وهم ألف، وأصحابه ثلاثمائة وتسعة عشر رجلاً،)

Kemudian Nabi menghadap kiblat dan bermunajat,

فاستقبل نبي الله – صلى الله عليه وسلم – القبلة، ثم مد يديه فجعل يهتف بربه: “اللهم أنجز لي ما وعدتني، اللهم آت ما وعدتني، اللهم إن تهلك هذه العصابة من أهل الإسلام لا تعبد في الأرض”

Baca juga:  Asal-usul Salib

“Ya Allah tunaikan apa yang telah Engkah janjikan kepada kami, ya Allah datangkan apa yang Engkau janjikan kepada kami, jika pasukan muslim yang sedikit ini kalah, Engkau tak akan lagi disembah dimuka bumi”. (Dalam redaksi Bukhari لم تعبد بعد اليوم أبداً, Engkau tak akan disembah setelah hari ini selamanya).

فما زال يهتف بربه ماداً يديه، مستقبل القبلة، حتى سقط رداؤه عن منكبيه، فأتاه أبو بكر، فأخذ رداءه فألقاه على منكبيه، ثم التزمه من ورائه، وقال يا نبي الله! كفاك مناشدتك ربك، فإنه سينجز لك ما وعدك الحديث.

“Rasulullah saw terus bermunajat kepada Allah (sementara kedua pasukan sudah berhadapan), beliau saw menengadahkan tangan dalam keadaan menghadap qiblat, sampai rida, kain yang menjuntai dipundak beliau saw jatuh. Kemudian Sayidina Abu Bakar mengambil rida dan menempatkan rida di pundak Nabi saw, lalu Sayidina Abu Bakar berdiam dibelakang Nabi saw. Lalu Abu Bakar berkata kepada Nabi, duhai Nabi Allah, cukup permohonan panjenengan kepada Allah, pasti Allah menunaikan apa yang dijangjikanNya kepada-Mu.”

Demikian penggalan kisah tentang doa Nabi pada saat Badar. Sulit sekali mengandaikan terulang sebuah peristiwa seperti yang dialami Nabi saw saat itu, kemudian ada orang yang ditoleransi –karena kesamaan situasi– untuk membaca doa tersebut dengan komposisi yang sama. Jadi sangat tidak relevan mencatut doa ini kedalam peristiwa politik, seperti pilpres saat ini.

Baca juga:  Inilah Nama Tuhan yang Keseratus

Pertama, pembacaan ini mengandaikan kontestasi politik kedua belah pihak, diibaratkan muslim Madinah yang tertindas, yaitu kubu Prabowo, dan kufar Mekkah yang zalim penuh aniaya, yaitu kubu Jokowi. Kita, bangsa Indonesia muslim maupun non muslim tidak dalam kondisi semacam itu, kita baik-baik saja. Justru mereka menghasut supaya persatuan ini terkoyak.

Baca Juga

Pengadaian ini memang terus disuarakan Neno dan kawan-kawan sejak ramai tagar ganti presiden. Ini pengandaian yang sangat keliru. Karena Presiden Jokowi, KH. Maruf amin muslim taat, dan didukung jutaan umat muslim dan ribuan kiai, habaib, dan santri. Jika dikubu Jokowi ada non muslim, dikubu Prabowo juga sama. Bahkan adiknya, Hasyim, dan keponakan-keponakan Prabowo juga bukan muslim.

Kedua, Neno mencatut doa Nabi dalam perang Badar ke dalam kontestasi politik adalah perbuatan keji. Jika dirunut, Neno sedang mem-framing dan memengaruhi alam bawah sadar pendengarnya, bahwa rezim Jokowi antiIslam, memusuhi Islam, Presiden dan pendukungnya tidak beragama. Ini kekeliruan yang besar. Ia telah mempolitisasi Nabi. Dan ini drama yang norak.

Ketiga, doa Neno secara simplistis menuding Presiden Jokowi melarang pengamalan Islam di Indonesia, seperti kufar Mekkah yang ingin mengeyahkan praktek keagamaan umat Islam Madinah, dan ingin membantai orang-orangnya.

Baca juga:  Kisah Guru Ngaji dan Mubalig Sakit Gigi

Keempat, jika tidak mempunyai dasar akidah Asy’ariyah yang baik, berbahaya sekali membaca doa ini. Bisakah pemahaman tauhid Anda menjawab, “Bagaimana kalau Allah tidak ada yang menyembah, apa mengurangi kesempurnaannya?” Jika jawabannya tidak, kenapa Nabi berdoa demikian. Dan pertanyaan-pertanyaan lain yang hanya bisa dijawab dengan bantuan tauhid Asy’ariyah.

Sebaiknya tidak perlu membawa jargon-jargon agama ke dalam kontestasi politik. Saya tidak dapat membayangkan betapa berbahayanya, peristiwa politik yang rutin lima tahunan, seperti pilpres, pilgub, pilbup jika terus dipanaskan dengan hasutan agama, karena akan membuat persatuan bangsa kita rapuh bahkan runtuh. Karena terus menerus dihajar dengan kebencian dan sentimen agama.

Mari sudahi.

Lihat Komentar (0)

Komentari