Keajaiban Gus Dur dalam Kesaksian Dr. Al Chaidar

Ahmad Suaedy

Dr. Al Chaidar, pengamat dan “praktisi” radikalisme Islam asal Aceh ini cukup dikenal di layar kaca. Setiap kali ada peristiwa pengeboman atau terorisme lainnya, dia kerap muncul sebagai komentator di televisi.

Beberapa tahun lalu, dia bercerita kepada saya: ketika reformasi 1998 terjadi dia sedang berada di Malaysia sebagai eksil. Dia dikejar-kejar Soeharto karena dituduh Islam radikal yang mengancam negara, dan tentu saja karena dia asal Aceh.

Syahdan, ketika Gus Dur dicalonkan menjadi presiden di MPR RI tahun 1999, Al Chaidar siap-siap pulang, karena sebelumnya dari masa Orde Baru Presiden Suharto hingga BJ Habibie dia tidak berani pulang. Khawatir ditangkap. Kalau Gus Dur jadi presiden, dia meyakini ketika itu, semua tahanan dan pelarian politik pasti akan dibebaskan. Meskipun belum sekalipun bertemu Gus Dur, dia meyakini bahwa jika Gus Dur terpilih menjadi presiden, dia akan pulang ke Indonesia dan yakin tidak akan ditangkap.

Benar saja, begitu Gus Dur terpilih menjadi presiden Al Chaidar langsung membeli tiket dan pulang ke Jakarta. Memang wajahnya sempat dikenali oleh aparat keamanan, sehingga di Bandara Soetta diinterograsi. Namun setelah beberapa pertanyaan langsung dilepas. Bebaslah dia.

Hingga beberapa tahun kemudia Al Chaidar tidak pernah bertemu langsung Gus Dur.

Suatu ketika, dia ingin datang di open house Gus Dur di rumahnya, Ciganjur. Datang sendirian dan tidak seorang pun dia kenal di rumah Gus Dur, dia ikut ngantri dengan para tetamu dari berbagai lapisan masyarakat.

Akhirnya sampai juga di hadapan Gus Dur.

Baca Juga

Yang membuat Al Chaidar kaget bukan kepalang adalah, tiba-tiba ketika tiba saatnya salaman, Gus Dur menyebut namanya. “Al Chaidar ya. Terima kasih ya,” Sapa Gus Dur.

“Saya kaget bukan kepalang,” katanya kepada saya “bagaimana mungkin Gus Gur belum pernah ketemu saya dan ketika saya salaman saya yakin Gus Dur tidak melihat saya, karena beliau buta. Kok bisa menyebut nama saya,” itu kira-kira ekspresi Al Chaidar kepada saya.

Saya sendiri tidak berani berkomentar apa-apa juga. Memang itu keadaannya mau bilang apa. Orang bisa menafsirkan sendiri. Sepengelihatan Al Chaidar pun tidak ada yang membisiki Gus Dur tentang namanya, karena dia ngantri cukup panjang untuk sebelum salaman, sehingga dia tahu persis apa yang dilakukan Gus Dur sebelumnya.

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top