Sedang Membaca
Kisah-Kisah Wali (5): Kiai As’ad Menjual Kiai Achmad Siddiq

Nahdliyin, menyukai kajian usul fikih, tasawuf dan filsafat. Mendalami usul fikih di Ma'had Aly Situbondo. Menulis sekadarnya-semampunya.

Kisah-Kisah Wali (5): Kiai As’ad Menjual Kiai Achmad Siddiq

Kiai Achmad Siddiq

Selain Kiai As’ad Syamsul Arifin dan Gus Dur, ada satu tokoh penting yang sangat berperan dalam perumusan Deklarasi Hubungan Pancasila dengan Islam di forum Munas & Muktamar NU 27 Situbondo tahun 1983-1984, utamanya dalam hal pemberian nalar keagamaan tentang relasi Pancasila dengan Islam. Siapa tokoh ini?

Adalah Kiai Ach. Siddiq, kiai asal Jember yang kemudian dalam Muktamar di tempat yang sama ditunjuk menjadi Rais Aam PBNU.

Nama Kiai Ach. Siddiq sebelumnya memang tidak pernah masuk dalam percakapan banyak orang, Bahkan saking kurang familiarnya, ketika beliau dicalonkan dalam pemilihan Rais Syuriyah NU Cabang kabupaten Jember, ia kalah dengan calon yang lain lain. Padahal dari segi keilmuan dan wawasan, beliau adalah sosok kiai yang alim-allamah.

Nah, hal itu yang dibaca secara mendalam oleh Kiai As’ad Syamsul Arifin. Kiai As’ad sebelum perhelatan Munas & Muktamar banyak melibatkan Kiai Ach. Siddiq dalam banyak hal. Kiai As’ad meminta Kiai Ahmad untuk mempresentasikan bukunya tentang khittah Nahdlatul Ulama dalam banyak kesempatan. Termasuk beliau sering menyebut-nyebut nama Kiai Ach. Siddiq di hadapan tamu-tamu negara yang bertemu Kiai As’ad. Kiai As’ad seperti sedang mempromosikan Kiai Ach. Siddiq.

Puncaknya, ketika ramai-ramai masalah penyeragaman Ideologi Negara melalui Pancasila hingga melahirkan keputusan monumental di Pesantren Sukorejo Situbondo, Kiai Ach. Siddiq ditunjuk oleh Kiai As’ad sebagai “juru bicara” Pancasila. Beliau bertugas memberi argumen-argumen fiqhiyah bahwa Pancasila selaras tidak bertentangan dengan Islam bahkan dalam waktu yang sama Pancasila sesuai dengan Islam. Kiai Ahmad berhasil menerjemahkan ide Gus Dur yang “berat” dan menyampaikan kepada kiai-kiai tradisional.

Baca juga:  Ada Kiai Muda di Balik Munas NU

Baca kisah menarik lainnya:

  1. Kiai Achmad Siddiq dan Musiknya
  2. Kiai As’ad Ingin Terkenal
  3. Humor Gus Dur

Sukses mengawal rumusan hubungan Pancasila dengan Agama dalam momen Munas Alim Ulama NU, pada Muktamar satu tahun berikutnya, Kiai Ach. Siddiq ditunjuk langsung oleh Kiai As’ad sebagai Rais Aam PBNU didampingi Gus Dur sebagai Ketua Tanfidziyah.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Posisi Kiai As’ad ketika Muktamar NU tahun 1984 itu memang sangat krusial, beliau didaulat sebagai ahlul halli wal Aqdi tunggal, yakni satu-satunya kiai yang diamanahi forum untuk menunjuk kemudian melantik kepengurusan baru dalam struktur Nahdlatul Ulama.

Konsep ahlul halli wal aqdi tunggal ini hanya ada sekali sepanjang sejarah perjalanan Nahdlatul Ulama dan itu diduduki oleh Kiai As’ad Syamsul Arifin.

Muktamar NU di pesantren Sukorejo Situbondo bisa disebut Muktamar paling bersejarah dalam sejarah NU. Sebab forum itu—dalam bahasa Kiai Afifuddin Muhajir—bukan hanya menyelamatkan NU tetapi juga menyalamatkan NKRI dari perpecahan.

Dua keputusan monumental yang dirumuskan dalam forum itu, pertama, NU kembali ke Khittah 1926, kedua, NU menerima Pancasila sebagai asas tunggal Negara. Dan sukses acara tak bisa dipisahkan dari sosok Kiai As’ad Syamsul Arifin.

Maka, tak heran, Ketika Kiai Ach. Siddiq memberi sambutan pada acara tahlil dan doa bersama untuk Kiai As’ad, beliau berkata:

Baca juga:  75 Tahun Gus Mus: Hidup dalam Tiga Aksara

“Seandainya Kiai As’ad tidak memiliki amal lain kecuali sukses Munas, maka itu sudah cukup sebagai bekal hidup beliau di akhirat.”

Itulah teladan baik dari Kiai As’ad yang tak merebut popularitas untuk dirinya sendiri, alih-alih mempromosikan diri sendiri beliau justru “menjual” orang lain. Berbeda dengan kebiasaan orang saat ini, yang “menjual” diri sendiri dan mengorbankan orang lain.

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
1
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Scroll To Top