Sedang Membaca
Iki Sejarah Ushul Fiqh: Kitab Kritik Kaum Wahhabi Karya KH. Sanusi Babakan Cirebon (1974)

Iki Sejarah Ushul Fiqh: Kitab Kritik Kaum Wahhabi Karya KH. Sanusi Babakan Cirebon (1974)

Ahmad Ginanjar Sya'ban

Kitab ini berjudul Iki Sejarah Ushul Fiqh yang ditulis dalam bahasa Jawa aksara Arab (pegon) oleh KH. Muhammad Sanusi dari Pesantren Babakan, Ciwaringin, Cirebon (KH. Sanusi Babakan) yang hidup di abad ke-20 M.

 

Kitab ini berisi tentang sejarah lahirnya ilmu ushul fikih serta signifikansi ilmu tersebut guna memahami Alquran dan hadis serta merumuskan hukum-hukum fikih yang dalil-dalilnya tidak ditemukan secara eksplisit di dalam teks Alquran dan hadis.

 

Tidak ada data kolofon yang menginformasikan kapan karya ini diselesaikan. Namun bisa diperkirakan jika kitab ini ditulis antara 1950-1980, ketika KH. Sanusi Babakan aktif mengasuh pesantrennya.

 

Tebal keseluruhannya sebanyak 31 halaman. Kitab ini tampaknya tidak dicetak, namun disalin ulang dengan tulis tangan dan khat (aksara) Arab jenis naskhi yang bagus, lalu diperbanyak dengan cara difotokopi. Saya sendiri mendapatkan satu eksemplar fotokopi kitab ini dari al-Fadhil Muhammad Jauharuddin, yang terbilang sebagai cucu pengarang dan juga mahasiswa pascasarjana UNUSIA Jakarta.

 

Dalam mukadimahnya, KH. Sanusi Babakan menulis:

أما بعد. مغكا أتوي كع دين مقصود اعدالم ايكي بحثان ارف مرتيلااكن علم أصول الفقه. سادروعي تومانداع امبحث مارع علم أصول الفقه ينبغي عاووروهي (1) سجاراهي علم أصول الفقه (2) مقصود عاجي أصول الفقه سوفيا ووعكع عاجي مارع علم أصول الفقه اواس اتيني لن اورا يلاه كونااكن مارع علم أصول الفقه

Baca juga:  Gubuk Reot Hasilkan Santri Andal Baca Kitab

 

Amma ba’du. Mangka utawi kang den maksud ingdalem iki bahasan arep mertelaaken ilmu ushul fikih. Sadurunge tumandang ambahas marang ilmu ushul fikih yanbaghi ngaweruhi (1) sejarahe ilmu ushul fikih (2) maksud ngaji ushul fikih supaya wongkang ngaji marang ilmu ushul fikih awas atine lan ora nyalah gunaaken marang ilmu ushul fikih// Adapun yang dimaksud dalam bahasan ini, maka ia hendak menjelaskan ilmu ushul fikih. Sebelum lebih jauh membahas inti ilmu ushul fikih, sepatutnya mengetahui (1) sejarah ilmu ushul fikih (2) maksud mempelajari ilmu tersebut agar orang yang mengetahuinya menjadi wapada hatinya dan tidak menyalah gunakan ilmu tersebut.

 

Dijelaskan oleh KH. Sanusi Babakan, jika ilmu ushul fikih dikodifikasi oleh Imam as-Syafi’i ketika beliau berada di Mesir melalui kitab ar-Risalah. Imam as-Syafi’i merasa perlu melahirkan sebuah formulasi ilmu baru guna mengawal tata cara merumuskan hukum-hukum fikih dari kasus-kasus yang terus muncul beriring dengan perkembangan zaman dan tempat, yang dalil-dalilnya tidak diketemukan secara eksplisit dalam Alquran dan hadis.

 

Ilmu Ushul Fikih kemudian terus berkembang dengan pesat setiap generasi melalui murid-murid Imam as-Syafi’i dan turunannya. Puluhan kitab dalam bidang ilmu ini lahir di setiap zamannya. Dari ilmu ini kemudian berkembang lagi ilmu Qawaid Fiqhiyyah atau Ilmu Kaidah Fikih. Beberapa ulama menulis dalam bidang ilmu ini, seperti Syaikh Jalalud Din as-Suyuthi yang menulis al-Asybah wan Nazhair fil Furu’.

 

Baca juga:  Ada Kiai Muda di Balik Munas NU

Di dalam kitab ini terdapat sedikit bahasan yang mengkritik kaum puritan (Wahhabisme) yang diprakarsai oleh Muhammad b. ‘Abdul Wahhab dari Nejd pada akhir abad ke-18 M dan pada awal abad ke-20 M berkembang juga faham ini di Nusantara dengan diprakarsai oleh organisasi-organisasi seperti Muhammadiyyah Jogja (1912), Al-Irsyad Betawi (1921), Persis Bandung (1923), dan lain-lain.

Baca Juga

 

Golongan puritanisne ini senantiasa mendengungkan jargon “kembali ke Alquran dan hadis”, “segala sesuatu yang tidak ada dalilnya dalam Alquran dan hadis adalah bid’ah”, “tidak boleh bermadzhab dalam fikih”, serta cenderung menyesatkan, menyerang, dan memerangi pihak-pihak lain yang tidak sehaluan dengan mereka.

 

Sikap seperti ini, hemat KH. Sanusi Babakan, dikarenakan mereka tidak memahami ilmu ushul fikih dan tidak memahami sejarah lahirnya mazhab-mazhab fikih Islam yang empat, yaitu Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali.

Keempat imam tersebut “melahirkan” madzhab fikih mereka serta produk-produk hukumnya sebagai ijtihad untuk menanggapi beberapa kasus yurisprudensial yang dalil-dalilnya tidak didapatkan secara eksplisit dalam Alquran dan hadis.

 

Melihat isinya, kitab Ikilah Sejarah Ushul Fikih tampaknya berkerabat dengan kitab Idhahatul Karathaniyyah fir Radd ‘ala Dhalalatul Wahhabiyyah dan juga kitab Tanbihul Ikhwan fir Radd ‘ala Madzhabid Dhalalah wat Thugyan. Keduanya adalah karya KH. Tubagus Ahmad Bakri b. Seda Sempur, Purwakarta (Mama Sempur, w. 1975) yang dengan tajam mengkritik faham puritanisme yang saat itu berkembang dengan cukup signifikan di Jawa Barat.

Baca juga:  Sabilus Salikin (27) Perilaku Orang Takwa

 

Bogor, Maret 2018

Lihat Komentar (1)

Komentari

Scroll To Top