M. Faidh Fasyani
Penulis Kolom

Santri PP Al-Anwar Sarang Rembang/Mahasiswa Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir STAI Al-Anwar Sarang Rembang.

Tradisi Ngaji Posonan: Pentingnya Sanad dan Talaqqi

Ngaji kitab kuning

Bulan Ramadan telah berjalan beberapa hari. Dari sini, telah tiba masa di mana para santri akan menikmati indahnya puasa di pondok pesantren, telah tiba juga masa di mana para santri akan merasakan sensasi ngaji kitab yang berbeda di bulan Ramadan. Tentunya, dua kesan ini berlaku dan hanya bisa dirasakan para santri yang tidak pulang liburan dan memilih untuk berpuasa di pondok.

Ada banyak sekali kesan unik nan baik yang didapat ketika tidak pulang liburan dan memilih untuk berpuasa di pondok. Kesan unik mulai menyiapkan sahur sendiri, menyiapkan buka puasa sendiri, hingga hal yang menuntut untuk bersabar seperti tidak sahur karena kebablasan tidur. Namun yang tidak kalah penting untuk disadari, semuanya itu merupakan ibroh yang bisa diambil semata untuk meningkatkan kesabaran diri dan menjadi contoh pembelajaran untuk bisa mandiri, tentunya.

Kesan baik yang pasti akan santri dapat ketika tidak pulang liburan dan memilih untuk berpuasa di pondok adalah mengikuti kegiatan rutin tahunan khatmil kitab (ngaji posonan kilat) dengan pengasuh. Kegiatan ini yang selalu dinanti-nantikan oleh banyak santri, sebab selain mengkhatamkan banyak kitab, kegiatan ini nantinya diakhiri dengan sanadan dari pengasuh.

Sanadan (sanad),  dalam dunia santri dan pesantren, menjadi sesuatu yang sangat penting dan sakral. Dikatakan penting dan sakral, karena dengan sanadan ini, para santri akan lebih jelas mengetahui jalur ketersambungan keilmuan terkait kitab yang diajinya. Sehingga dari sanadan inilah, para santri akan mengetahui kepada siapa saja ia bersambung secara keilmuan, apakah ittishol as-sanad ila ar-rosul ataukah tidak.

Adapun kitab yang diajinya pun beragam, mulai dari kitab bernuansa Fiqih, Tauhid, Hadis, Tasawuf dan sebagainya. Bahkan melalui kegiatan ini pula kadang santri bisa merasakan proses tholabul ilmi yang sebenarnya. Sebab, di samping dilakukan ketika dalam keadaan puasa, juga dilakukan hampir 1-5 jam dalam sekali mengaji. Bisa dibayangkan jika kegiatan ini dilakukan setiap hari meliputi siang dan malam. Tentu betapa indahnya mewarnai Ramadan dengan mengaji bersama dengan kiai.

Baca juga:  Pesantren, Ilmu Hikmah, dan Perdukunan (2): Tradisi Ijazahan Wirid di Lingkungan Pesantren Tradisional

Dalam dunia pesantren, kegiatan ini sudah menjadi tradisi yang biasa dilakukan hampir di seluruh pondok pesantren Nusantara ketika bulan puasa tiba. Sehingga tak heran, banyak santri luar (dari pesantren lain) bahkan masyarakat umum yang datang berbondong-bondong untuk mengikuti kegiatan khatmil kitab ini. Selain karena menyambung sanad keilmuan, kegiatan ini juga bisa dikatakan silaturahmi keilmuan ala santri.

Adab Santri Mengaji                                                                                  

Ketika di bulan Ramadan seperti sekarang ini, santri mempunyai caranya sendiri untuk silaturahmi dengan kiai. Ada banyak sekali cara santri tentang bagaimana menyambung keilmuan dengan kiai-kiai pesantren di luar daerahnya. Salah satunya dengan mengikuti ngaji posonan (kilatan) ketika bulan Ramadan tiba. Kegiatan ini biasa dikenal dengan pondok Ramadan. Ibarat ketika hendak meminum air, maka tidak ada cara lain kecuali mengambilnya ke gentong dan lalu meminumnya. Sama halnya dengan adab dalam mencari ilmu, seorang santri harus mencari dan mendatanginya terlebih dahulu. Inilah filosofi gentong yang digunakan santri dalam mencari ilmu ketika di bulan Ramadan.

Berbalik dengan antonim filosofi gentong, yaitu filosofi ceret. Dalam filosofi ini, biasanya ceret yang akan mengantarkan air lalu menuangkannya ke sebuah gelas ketika ada yang memintanya. Filosofi ini jelas bertolak belakang dengan adab dalam mencari ilmu. Dalam hal ini, adab yang harus dimiliki seorang pencari ilmu sebagaimana yang disinggung oleh Imam Az-Zarnuji dalam kitabnya Ta’lim al-Mutaallim salah satunya dengan mencari (mendatangi) guru. Atas dasar inilah kemudian sangat tidak sopan ketika santri meminta gurunya untuk datang mengajarinya.

Dilihat dari segi metode dalam mencari ilmu, Imam Syatibi (W.590 H/1194 M) menerangkan secara global bahwa metode belajar terbagi menjadi dua, yaitu dengan hadir (mengaji langsung/talaqqi) dan mutholaah (belajar sendiri). Namun yang membedakan secara esensi dari kedua metode ini terletak ketika menemukan permasalahan-permasalahan yang sulit untuk dipahami saat belajar sendiri namun terasa begitu mudah dipahami saat mengaji. Tentunya, hal ini tidak akan terlepas dari peran guru yang begitu urgen beserta kapasitas dan kapabilitas pemahaman yang dimilikinya.

Baca juga:  Tradisi Apresiasi Sastra; Dari Pasar Seni Di Jazirah Arab Hingga Shalawatan Di Indonesia

Ngaji Ramadan dan Manfaat Talaqqi

Talaqqi secara khusus adalah sebuah metode belajar Al-Qur’an yang dilakukan murid kepada guru secara langsung (face to face). Metode ini dalam sejarahnya telah ada sejak zaman Nabi Muhammad SAW. Namun jika diartikan secara umum, talaqqi juga bisa dimaknai sebagai sebuah metode belajar dengan bertemu langsung dengan guru dalam suatu majelis ta’lim. Sederhananya, talaqqi tidak hanya dikhususkan terhadap pembelajaran Al-Qur’an saja.

Dalam hal ini, ngaji posonan di pesantren juga bisa dikatakan sebagai talaqqi. Sebab, para santri juga bertemu secara langsung dengan kiai ketika dalam sebuah majelis ta’lim. Kemudian selain itu, talaqqi dengan mengikuti ngaji posonan sebenarnya juga mengisyaratkan hal yang jauh lebih penting. Termasuk tentang pentingnya ngaji secara langsung atau hadir dalam sebuah majelis ta’lim.

Di era yang serba digital, semuanya bisa dilakukan tanpa bersusah payah. Bahkan, kegiatan belajar mengajar juga bisa dilakukan di ruang digital. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya pengajian-pengajian kitab yang dilakukan secara online.  Namun hal itu tetap kurang sempurna manakala dibandingkan dengan ngaji secara langsung (talaqqi) dalam majelis ta’lim. Sebab hal ini selalu berkaitan dengan manfaat akan pentingnya ngaji secara langsung.

Termasuk salah satu manfaat ngaji posonan adalah memperoleh sanad keilmuan yang jelas. Artinya, ngaji posonan lumrahnya memang diakhiri dengan sanadan. Sanad,  dalam dunia santri dan pesantren, menjadi sesuatu yang sangat penting dan sakral. Dikatakan penting dan sakral, karena dengan sanadan ini, para santri akan lebih jelas mengetahui jalur ketersambungan keilmuan terkait kitab yang diajinya. Sehingga dari sanadan inilah, para santri akan mengetahui kepada siapa saja ia bersambung secara keilmuan, apakah ittishol as-sanad ila ar-rosul ataukah tidak.

Baca juga:  Berbagi Takjil Menjelang Buka Puasa, Fenomena Baik yang Perlu Dilestarikan

Selain itu pula, manfaat akan pentingnya ngaji secara langsung (talaqqi) juga berkaitan dengan keberkahan yang Allah berikan kepada seorang santri yang hadir langsung dalam majelis ta’lim tersebut. Hal ini justru menjadi hal yang tidak lazim lagi, karena dalam hadis juga dijelaskan:

لو أنكم تكونون كما تكونون عندي لأظلتكم الملائكة بأجنحتها

Andaikan kalian selalu berada di sampingku, maka malaikat akan selalu menyelimuti kalian dengan sayapnya.

Berdasarkan hadis di atas, Imam Al-Buni dalam kitabnya Faidlul Qodir menjelaskan hal tersebut dengan Rasul sebagai sumber cahaya (ilmu). Sehingga tidak heran ketika terdapat sahabat yang berada di majelis bersama Rasul akan mendapatkan pancaran cahaya juga dari Rasulullah SAW, kemudian Allah juga menambahkan pemahaman terhadap para sahabat yang hadir.

Walhasil, melalui silaturahmi keilmuan ala santri dengan mengikuti ngaji posonan terkandung pesan bahwa mengaji secara langsung kepada kiai menjadi suatu hal yang masih sangat dibutuhkan di era ini. Mengingat, di era sekarang telah begitu banyak paham-paham menyimpang berseliweran yang tidak diketahui asal-usulnya.

Atas dasar inilah kemudian, ngaji posonan dengan cara talaqqi langsung kepada kiai merupakan jalan alternatif santri dalam memperoleh ilmu yang jelas. Sehingga dari hal ini pula bisa kita jadikan bukti bersama bahwa mengetahui sanad keilmuan menjadi hal yang begitu urgen di era sekarang. Imam Malik (W. 179 H/795 M) mengatakan:

إن هذا العلم دين فانظروا ممن تأخذونه

Sesungguhnya ilmu yang kita pelajari ini merupakan agama, maka lihatlah dari siapa kau mengambilnya.

Wallahu A’lam

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top