Sedang Membaca
Fenomena Video 19 Detik
Penulis Kolom

Penulis berasal (lahir) dari kultur ‘tani’ desa Geneng Mulyo kecamatan Juwana kabupaten Pati, Jawa Tengah. Domisili di Jogja. Hobi: menikmati dan belajar hidup melalui sabda 'iqra'. Sesekali berpiknik fiksi dan ilmiah, untuk memaknai keseharian yang dijalani.

Fenomena Video 19 Detik

Realitas, kesan dan hikmah adalah tiga sisi yang berkelindan. Ini bukan refleksi seusai pengajian, tetapi jejak pandemi yang berkata demikian.

Setelah keluar lagi edaran instruksi PSBB se-Jawa-Bali, kian terasa, kita kian rindu pada even pengajian, sholawatan, ndangdutan serta pementasan-pementasan yang riuh dan semarak.

Sebagaimana ‘cinta’ yang tak seragam: ada banyak alasan mencintai. Begitu pun dengan rindu. Ada banyak sisi sah untuk merindu. Dari banyak even berkumpulnya massa, pengajian (dan sholawatan) adalah yang paling sering mengusik rasa rindu di kala pandemi tak kunjung pamit pergi.

Bukan ustadznya atau isi ceramahnya, tetapi abang ‘penjual teh’ di sela-sela kerumunan.

Berbeda dengan para pengunjung jama’ah yang asyik mencari celah kosong, guna search-lock tempat duduk, abang ini begitu semangat, cergas, trengginas menyibak rapatnya kerumunan. Dengan suara lantang, ia menjajakan teh dan aneka minuman. Biasanya es teh dan kopi panas. Sliwar-sliwer begitu saja.

Kerumunan yang rapat, tidak pernah terlalu rapat bagi mereka. Siapa pun icon pemberi tausiahnya, sama saja bagi mereka. Es teh dan kopi panas di atas baki, langkah kaki cekatan membelahi himpitan jama’ah.

Bagi saya, mereka bagai sedang membacakan puisi Chairil: “Aku”, dalam kumpulan sajaknya Aku Ini Binatang Jalang. “Aku ini binatang jalang//Dari kumpulan terbuang//Biar peluru menembus kulitku//Aku tetap meradang menerjang//Luka dan bisa kubawa berlari//Berlari …”

Baca juga:  Ketika Orang Kampung Meniru Tokoh "The Name Of The Rose"

Penjual teh pengajian tersebut, begitu estetis dan idealis. Mereka terbuang dari kumpulan, membawa beban ‘jualannya’ sendirian. Demi kebaikan bersama. Demi khusyuknya jama’ah. Dan tentu demi nafkah anak-istri mereka.

Tapi bukan estetika dan idealisme itu yang saya persoalkan. Persoalannya adalah kemampuan mereka untuk menghadirkan nuansa “butuh” es teh dan kopi panas kepada orang yang belum tentu butuh itu. Siapa yang sudi jauh-jauh sewa pick up, bus, bahkan truck—persis rombongan Tilik bu Lurah—hanya untuk membeli es teh dan kopi panas? Siapa!

Seperti itulah nuansa pemberitaan media terkait video syur Gisel yang hanya 19 detik itu. Di laman FB, sampai di mana-mana, begitu sliwar-sliwer berita Gisel itu.

Apa yang ditawarkan? Saya menyebutnya sebagai berita es teh dan kopi panas, di tengah-tengah kerutan jidat masyarakat, karena pandemi dan segala muacam silang sengkarut di dalamnya.

Syahdan, mulanya hanya dalam kurun detik dan menit, Twitter segera punya tranding topic baru: video syur—dulunya mirip—Gisel beredar. Konten ini menyebar sejadi-jadinya. Semakin menjadi saat media memberikan semangat penjual teh pengajian tadi.

Saya sendiri tidak aktif di Twitter, tapi terpapari. Kan, ini jadi bukti kalau warga maya atau netizen benar-benar amanah dan serius dalam mengemban tugas share and comment.

Seorang berkepala waras pasti akan bertanya, kok bisa ya orang seperti itu? Mbok yao, kalau begituan itu gak usah pake dipidio-pidio segala. Asal aksi, gitu aja. Hajat terlangsungkan, resiko padam. Tidak usah bikin dokumentasi. Kalau tersebar dan terviralkan, repot juga jadinya.

Baca juga:  Yuval Harari, Homo Deus, dan Masa Depan Manusia

Itu asumsi yang serampangan. Terlalu receh. Bukti? Terlampau banyak, kasus serupa. Ini bukan kejadian pertama dan terakhir. Saya haqqul yaqin akan ada lagi yang mirip-mirip kayak—maaf beribu maaf—Gisel ini.

Secara psikologis, aksi mempidio adegan ‘es teh’ bersensor KPPI tersebut, bisa karena watak keinginan yang “tidak pernah puas”. Peribahasa di pelajaran bahasa Indonesia dulu disebut “bagai minum air laut”. Niat hati ingin menuntasi dahaga, tapi malah semakin haus dan haus lagi. Ki Ageng Suryomentaram menyebutnya sebagai mulurnya keinginan. Watak azali dari keinginan adalah molor tanpa akhir. Ketika dituruti akan minta tambah. Lagi dan lagi.

Ihwal seksualitas adalah salah satu dari nafsu atau keinginan yang bila dituruti secara berlebihan akan minta tambah terus. Bila perlu—tapi lakukan sendiri—bisa meneliti atau mengobservasi mereka yang sudah kadung addict sama bokep. Bisa gak tu, mereka menahan diri untuk tidak lagi dan lagi?

Atau begini saja, contoh yang lebih birokratis: penelitian terhadap pak dhe-pak lek yang kadung doyan uang aspal, uang semen, uang (pajak) tanah—para koruptor—apa mampu mereka itu menahan nafsunya. Sekali dapat jatah, minta lagi dan cari lagi. Mereka gak akan mempan bila sekedar diceramahi sama ustazz-ustazz kondyang: Bahwa harta gak dibawa matek; Bahwa uang korupsi akan jadi tiket pemulus jalan ke neraka. Aduh.. stop deh. Syahwat itu (terlampau) uenak.

Fenomena video 19 detik yang konon katanya ‘pemersatu bangsa’ ini, adalah satu telaah. Ini kajian ilmiah, lho. Bisa dianalisis dari perspektif psikologi, sosiologi, komunikasi, budaya, sejarah, bahkan politik. Variable kuncinya adalah semangat penjual teh pengajian dan publik yang kehausan.

Baca juga:  Kelembutan dan Keindahan dalam Amar Makruf Nahi Mungkar

Semoga pandemi ini segera menemukan travel kepulangannya: pergi ke alam sejarah. Sehingga kita bisa berjumpa lagi—melepas rindu dan dahaga—dengan abang Penjual Teh Pengajian yang estetis dan idealis itu.

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top