Sedang Membaca
Perkembangan Literasi Arab di Barat: Berubahnya Sebuah Paradigma

Lahir di Birmingham, 31 Maret 2000. Sekarang sedang menempuh pendidikan Bahasa Arab dan Terjemah di Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir.

Perkembangan Literasi Arab di Barat: Berubahnya Sebuah Paradigma

1 A Mahfuz

Turats ‘Arabi mempunyai identitas yang sangat kuat dan pekat. Turats yang dimaksud disini ialah yang yang tertulis, yang terucap, juga berupa bangunan (monumen), dan berbagai bidang lainnya. Tidak bisa dipungkiri bahwa tulisan Arab terdahulu mempunyai gaya dan modelnya tersendiri, sulit untuk bisa ditiru bahkan oleh bangsa Arab itu sendiri, karena dewasa ini gaya literasi mereka sudah berubah, yang dimaksud bukannya menjadi buruk, tapi menjadi mempunyai identitas baru atau seakan terlahir kembali.

Gamal al-Ghitani memaparkan dalam kitabnya “Muntaha at-Tholab Ila at-Turatsi al-‘arob” bahwa ada celah besar antara antara literasi Arab terdahulu dan hari ini, khususnya Mesir. Semua bermula dari kedatangan bangsa Prancis pada akhir abad 18, terjadi tajdid atau pembaharuan besar-besaran di banyak hal. Pembaruan berawal dari gaya arsitektur kemudian merambat ke “literasi”, yang berubah menjadi berkiblat ke Eropa. Percampuran antara gaya Arab dan Barat menjadi kolaborasi yang sangat apik, tapi sayangnya menjadikan yang terdahulu terlantarkan.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Novelis Mesir Naguib Mahfouz pada tahun 1988 berhasil menjadi orang Arab pertama yang menyabet penghargaan nobel dalam bidang literasi. Naguib, yang orang Arab (Timur) setara dengan Gabriel García, John Steinbeck, dan Ernest Hemingway (Barat). Tentu saja ini menjadi sebuah dobrakan awal untuk bisa masuk ke dalam dunia literasi Barat, dan juga membuat Barat semakin melirik dan tertarik pada gaya yang diusung oleh para penulis Arab.

Baca juga:  Masjid Jamik Telkomnet Instan

Hari ini literasi Arab telah mendapakan tempatnya di Barat, sebut saja di London Book Fair (LBF), pameran ini sempat menjadikan “Dunia Arab” sebagai tema dan fokus utama event tersebut. Ratusan penulis Arab datang ke Inggris untuk menjadi narasumber dan panelis, maka semakin menyebar literasi Arab di Barat dan terjadilah sebuah perubahan paradigma.

Salah satu penulis yang datang saat itu ialah novelis Mesir yang juga seorang dokter gigi Alaa Al-Aswani. Ia menjadi “Author of the day” dan juga idola pada pameran tersebut. Namanya memang sudah melejit semenjak novelnya yang berjudul The Yacoubian Building laris manis di pasaran, bahkan hingga diadaptasi ke layar lebar. Namun sepertinya nama ini tidak banyak dikenal di Tanah Air

Lebih lanjut, karena ketertarikannya pada dunia kepenulisan Arab, LBF melancarkan dua proyek ambisiusnya, tak hanya ingin menerjemahkan buku-buku Arab kedalam bahasa Inggris, tapi juga ingin menerjemahkan buku-buku Inggris ke bahasa Arab. Bahkan target mereka menerjemah 1000 buku Bestseller dalam tiga tahun, ini menunjukkan besarnya perhatian mereka terhadap literasi Arab.

Salah satu alasan cepatnya pertumbuhan literasi Arab modern di barat ialah peluncuran Majalah Banipal pada tahun 1998 di London, yang digagas oleh Margaret Obank dan Samuel Shimon. Majalah yang terbit tiga kali setiap tahunnya ini berisikan pergerakan dan pergolakan literasi Arab yang dikemas secara komprehensif. Margaret Obank mengatakan bahwa saat ini para penerbit di Inggris berlomba-lomba untuk bisa mempublikasi buku-buku Arab Modern karena dinilai mengandung sastra yang unik dan menakjubkan, hematnya, mereka telah memberikan perhatian lebih pada literasi Arab modern.

Baca juga:  Kisah Dokter Haslinda

Sebagai akhir catatan singkat ini, literasi di dunia Arab telah mengalami reborn atau terlahir kembali, setelah terjadi percampuran sastra klasik dan modern dan juga dibumbui gaya barat, literasi Arab kini telah menemukan identitasnya dan mulai menapaki kejayaannya kembali seperti sedia kala. Karena itu, sudah seyogyanya bagi kita untuk selalu mendukung dan menghargai setiap karya para penulis dan penggiat sastra, seperti yang dikatakan:

“Literature has always been an important means of cultural exchange and dialogue. Tranlators and publishers live on the edge of poverty to make a beloved foreign world visible.” “Kesusasteraan selalu menjadi sarana/alat penting untuk pertukaran budaya dan dialog.  Para penerjemah dan publisher (orang-orang media) berjibaku dan berusaha mati-matian untuk mewujudkan impian indah dunia luar menjadi lebih jelas.”

Terakhir sekali, apresiasi di atas tidak otomatis mengesampingkan urusan sosial politik dan sosial ekonomi Barat yang terus mengeksploitasi ketidakbersatuan visi Dunia Arab secara umum. Literasi, politik, teori, kebudayaan, bahkan cinta, tidak berdiri sendiri.

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top